
Nasib malang dialami gadis asal Irak, Bathool Abbas Kamil (19 tahun) ia tak bisa berjalan semenjak ia berada di Indonesia, 6 bulan lalu. Awalnya ketika dalam perjalanan pencarian suaka, Bathool dapat berjalan sebagaimana layaknya gadis lainnya.
Sebagaimana diceritakan Ayahnya, Abbas Kamil Hamil Hamood (37 tahun) semenjak kepergiannya dari kampung halamannya Wilayah Basrhah-Irak, Bathool bersama dua orang saudaranya masih bisa beraktifitas seperti biasa. Namun penyakit Diabetes Mellitus (DM) menyerangnya dan membuat ia lumpuh.
“Dari Irak Kami Sudah memiliki penyakit DM, sebelumnya masih bisa berjalan, namun karena gula darahnya semakin tinggi maka hal ini berakibat Bathool gak bisa berjalan,” kata Abbas Kamil dalam Bahasa Arab saat mengobati anak gadisnya itu ke LKC Dompet Dhuafa, Rabu (24/2/2016)
Putri kedua pasangan dari Abbas Kamil Hamil Hamood dan Intisar Manea Hamood Al-Hilani itu saat ini telah terdaftar di LKC Dompet Dhuafa dengan No. id. 109038, untuk pelayanan kesehatannya, Bathool mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit RST Dompet Dhuafa Parung-Bogor, dokter menganjurkan Bathool melakukan Fisioterafi
“Putri Saya harus di rujuk ke rumah sakit lain, saya ikuti saran dari dokter klinik di sini, saya mengucapkan terima kasih atas pelayanan selama ini, saya sangat bangga ternyata warga negara Indonesia selain ramah juga melayani dengan baik,” ungkap Abbas.
Kepala Gerai LKC Dompet Dhuafa, dr. Raden Hari Ahmad mengungkapkan, selain pasien Bathool menderita DM, ia juga mengalami kelainan pada telapak kakinya, hal inilah yang mengganggu Bathool untuk berjalan
“Kita Anjurkan untuk menjalani fisioterapi khusus, karena Pasien mengalami kelainan pada telapak kakinya. Kita upayakan pelayan yang maksimal bagi pasien, pada prinsipnya kita akan melayani pasien siapapun dan dari manapun dengan baik, ” kata dr. Hari
Masih kata dr. Hari, Fisioterapi diperlukan Bathool mengingat pasien membutuhkan proses rehabilitasi agar terhindar dari cacat fisik. Akan dilakukan dengan serangkaian penilaian; diagnosis, perlakuan, dan aktivitas pencegahan.
“Tujuannya mengembalikan fungsi tubuh setelah terkena penyakit atau cedera. Jika tubuh menderita penyakit atau cedera permanen, maka fisioterapi dapat diprioritaskan untuk mengurangi dampaknya,” pungkas dr. Hari. – GM




