Gado-gado “Rungkad”

Lagu "Rungkad" karya Vicky Prasetyo berhasll menjadikan Istana Menari ketika dinyanyikan Putri Ariani.

LAGU “Rungkad” karya Vicky Prasetyo iramanya lincah, dinyanyikan lewat suara emas Putri Ariani memang semakin enak didengar. Terbukti seluruh peserta upacara kenegaraan HUT RI ke-78 di Istana Merdeka, “kesetrom” termasuk Presiden Jokowi. Bahkan banyak yang berjoged mengiringi lagu itu, termasuk Panglima TNI Jendral Yudo Margono. Selamat buat Putri Ariani, meski tuna netra tapi suaranya telah menjadikan Istana menari!

Tapi dari segi bahasa, maaf! Lirik lagu tersebut ancur-ancuran, karena bahasanya gado-gado, Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia diperkosa bersama-sama. Kelihatan sekali pengarang lagunya kurang paham Bahasa Jawa. Dan ketika dilihat dalam teks lagu, ejaannya juga kacau balau. Orang yang mengerti dan mencintai Bahasa Jawa akan kaget dan mengelus dada. Demikian rusaknya Bahasa Jawa, karena diperkosa semaunya.

Penyanyinya sih tidak salah, karena dia sekedar menyanyikan belaka. Tanggungjawab ada pada sang pencipta lagu. Bahasanya yang acak-acakan, lari dari tata bahasa yang benar, menandakan penguasaan bahasa sang pencipta masih sangat terbatas. Tapi ironisnya, dalam berbagai komentar di medsos, warganet menganggap lagu Rungkat itu bagus sekali, karenanya mereka mengucapkan bravo untuk Vicky Prasetyo, karena lagunya bergaung di Istana lewat mulut Putri Iriani.

Vicky Prasetyo lahir tahun 1984 di Cikarang, Bekasi, dengan nama asli Hendrianto Prasetyo. Dia memang artis termasuk serba bisa. Dilihat dari namanya, kemungkinan dari keluarga Jawa. Cuma karena lahir di Bekasi, dia tak begitu paham Bahasa Jawa, sehingga ketika menciptakan lagu Jawa bahasanya gado-gado, campur aduk dengan Bahasa Indonesia. Padahal mustinya, sebelum lagu itu dirilis kan bisa bertanya pada mereka yang menguasai Bahasa Jawa. Dengan demikian lagu itu tampil dengan bahasa yang baik, tidak perlu bagus.

Bila lirik lagu “Rungkad” itu dicermati, sebetulnya lebih tepat dengan judul “Bangkrut”. Sebab lagu tersebut menggambarkan seorang anak muda  yang salah pilih, kadung mencintai gadis yang matrialistis atau matre bahasa gaulnya. Dia sudah terlanjur habis-habis demi cintanya yang tulus, tapi si doi hanya memilih duit. Ibarat kata, ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang!

Sekedar contoh dari lirik lagu Rungkad, dari judul rungkad sendiri sudah tidak tepat. Sebab kata tersebut mengandung makna pohon tumbang sampai terangkat akar-akarnya. Tapi dari kacamata pekerja seni, kata rungkad terasa lebih puitis. Sedangkan kosa kata bangkrut sangatlah sederhana, padahal dalam seni soal “dipas-pasin” sah-sah saja dan tidaklah tabu.

Dari lirik lagu keseluruhan, di sana sini ditemukan kata-kata yang memperkosa bahasa. Misalnya kata “tak sayang”, mestinya pakai tak tresnani, “mencintaimu” mestinya nresnani sliramu. Kemudian katamungkin” seharusnya mbokmenawa, begitu jugaterlalu cinta” mestinya: keliwat tresna, lalukuakui kusalah” seharusnya: aku ngakoni luput. Dan masih banyak lagi.

Ketika lagu dinyanyikan,  penulisan lirik lagu yang salah tidak terasa mengganggu. Padahal jika dicermati, waduhhh…..kacau balau itu barang! Banyak kosa kata Jawa yang mestinya pakai a ditulis pakai o, misalnya: kroso, percoyo, mergo, rupo dan tego. Begitu juga kata “koe”, mestinya kowe. Kata “wes” mestinya wis.

Tapi Vicky Prasetyo memang tidak sendiri. Anak muda sekarang, termasuk yang menjadi wartawan media online maupun media cetak, punya penyakit yang sama. Kata “mbak” hanya ditulis mba, “adik” jadi adek, “mulih” jadi moleh. Kata “sugih” menjadi sugeh, “sing” jadi seng. Paling bahaya jika menulis kata “ngentut”, anak muda sekarang nulisnya pasti: ng**tot. Nah, bagaimana orang Betawi tidak akan tertawa sampai berguling-guling.

Tapi seburuk-buruknya bahasa Vicky Prasetyo dalam lagu, masih ada pesan moralnya yang baik, yang mengajarkan orang untuk waspada menghadapi cewek matre. Tapi lagu “Sesok bojomu tak silihe” karya Zahra Phit Macela, apa manfaatnya dan di mana pesan moralnya? Menyimak lagu nakal itu, kesannya istri tak lebih sebagai kendaraan belaka bila pinjam istilah grup lawak Srimulat. Bayangkan, ada lirik yang menyebut: nek penak ora tak balekke. Memangnya dicemplak macam sepeda?

Begitu juga lagu yang berjudul “Mendem Wedokan” karya Cak Dikin. Pesan moralnya cukup bagus, yakni tentang modal lelaki untuk berumahtangga. Tapi judulnya itu lho, sangat tidak mendidik. Kan bisa misalnya: gandrung wanita, atau kasmaran. Cuma, seperti telah disinggung di atas, judul lagu semacam itu terlalu datar tidak ngeges seperti “mendem wedokan”. Dengan judul yang nakal tersebut memang bisa mendongkrak pasar.

Film sebelum masuk gedung bioskop disensor dulu oleh BSF (Badan Sensor Film), tayangan TV juga diawasi Komisi Penyiaran. Demi kepentingan publik dan menjaga moral bangsa ke depan, sudah selayaknya lagu-lagu juga melalui pengawasan pemerintah  lewat lembaga semacam BSF. Kelihatannya memang terlalu naif, tapi menjadi lebih naif lagi jika berkesenian tak punya etika.

Di Indonesia ada KBJ (Konggres Bahasa Jawa), tapi hasilnya hanya menguras anggaran Pemprov Jateng-Jatim-DIY. Jabar memiliki KBS (Konggres Bahasa Sunda) yang digelar lima tahunan. Tetapi Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda tetap semakin rusak karena juga sengaja dirusak. Biang keroknya paling utama adalah Kurikulum 1975 era Mentri PDK Syarif Thayeb, di mana Bahasa Daerah sekedar menjadi muatan lokal (mulok) yang “hukum”-nya sekedar sunat muakad, diajarkan dapat pahala, tak diajarkan juga tak jadi kendala. Dan sekarang terasakan, bahasa daerah menjadi hancur termasuk juga bahasa Minang dan Batak. (Cantrik Metaram).

Advertisement