GAJAH ANTISURA MURCA

Sarjokesuma wayangnya iseng banget. Gajah keramat milik kerajaan Ngastina itu langsung dicemplak......

SESUNGGUHNYA Prabu Jakapitana atau sering disebut Jakapit, termasuk berwajah tampan juga. Istrinya juga cantik jelita macam Syahrini, sehingga sangat membangkitkan syahwat. Tapi kenapa anak pertama mereka si Sarjokesuma justru tampil agak oon? Tutur kata dan perilakunya sama sekali tak mengambarkan bahwa dia putra seorang tokoh nasional, yang masih trahing kesuma rembesing madu.

Maklumlah, ibarat pabrik tebu saat giling, konsentrasi Banowati tidak fokus pada Prabu Jokopit yang sedang menebarkan bibit unggul. Justru pikirannya melayang-layang dan terbayang Permadi kesatria Madukara, cinta pertamanya. Olah karena itu saat bayi Sarjokesuma lahir, perilakunya klemar-klemer macam kesatria Harjuna, tapi otaknya meniru Jokopitono, bebal dan susah dinasihati.

“Aku ini heran diajeng Banowati. Aku tampan, dan kamu juga cantik, tapi kenapa anak kita lahir pating pecotot, macam turahan lampor (sisa makluk halus)?” keluh Prabu Jakapit sekali waktu.

“Jangan mencela produk sendiri, nggak baik. Jelek-jelek juga anak kita, syukuri saja segala pemberian dewa.” Hibur Banowati mencoba mengakhiri pembicaraan, takut melebar ke mana-mana.

Kala itu usia Sarjokesuma baru 13 tahun, masih sangat ABG. Tapi karena anak orang gedean, fasilitas mainannya sebagai anak sangat luar biasa. Bukan gledegan roda batang kelapa, tapi mobil-mobilan pakai aki. Apalagi perangkat komunikasi elektronik macam Ipad dan Android, dia punya yang produk mutakhir. Paling unik, meski kencing saja belum lempeng, Sarjokesuma sudah punya pacar temannya di SMP.

Rupanya dia tak puas juga dengan mainan semacam itu. Ketika srati (pawang gajah) sedang lengah, gajah pusaka kerajaan Ngastina yang bernama Kyai Antisura dituntun keluar dan dicoba untuk dinaiki. Padahal sebagai gajah keramat pemberian para dewa, yang berhak menaiki hanya trah asli pendiri negeri Ngastina. Karenanya, meski statusnya raja Ngastina,  Prabu Jakapit saja tak berani menaiki.

“Ayo jalan, hyak hyak herrrr…..”, kata Sarjokesuma yang sudah berada di punggung gajah.

Tapi Kyai Antisura bergeming, justru kemudian Sarjokesuma dihempaskannya hingga terjatuh. Dasar bego, bukanya kapok, malah mencoba menaiki lagi sambil main cambuk. Sarjokesuma juga memaki-maki gajah itu. Untuk kedua kalinya gajahAntisura menghempaskannnya dan kemudian lari keluar lapangan, masuk perkampungan baluwarti (sekitar istana). Siapa saja yang ada didekatnya, diinjak hingga mecedel, atau dibanting dengan belalainya. Geger segenap penghuni dan mereka pun berteriak tanda bahaya: “Ana gajah ngamuk, mlayu mlayu, ana gajah ngamuk!”

Ada 6 warga seputar Istana tewas sia-sia karena terinjak-injak gajah. Tahu yang bikin gara-gara Sarjokesuma, keluarga para korban segera menghakiminya. Maka sungguh kasihan nasib Sarjokesuma. Setelah dua kali dibanting gajah Antisura, kini gantian dihajar oleh penduduk.

“Anakku mati gara-gara kamu, kini gantian kamu saya matiin!” omel seseorang.

“Udah, jadikan perkedel saja. Tak peduli anak setan, utang pati nyaur pati.” Kata yang lain sambil terus main kaplok ke kepala Sarjokesuma.

Beruntung, sebelum Sarjokesuma is dead, Patih Sengkuni datang menolong. Bocah itu segera dilarikan ke RS Mitra Kaya yang bertaraf dan bertarif internasional. Para korban terinjak-injak gajah dimakamkan, dan di hari itu juga polisi menyatakan Sarjokesuma sebagai tersangka. Pemeriksaan menyusul, karena kondisi si bocah kritis.

Prabu Jakapit yang baru pulang dari kunjungan LN, sangat terkejut mendengar laporan kronologis kejadian. Tapi dia juga marah kepada Banowati istrinya, kenapa si anak bengal itu lepas dari pengawasannya. Gara-gara ketelodoran seorang ibu, anak berbuat yang sangat membahayakan pihak lain.

“Kamu perempuan di rumah ngapain saja, Bu? Santai baca Nova sambil ngerokok, ya?” omel Prabu Jakapitana, karena tahu Banowati doyan rokok, sehingga manakala dicium ada aroma tembakau.

“Lagi lagi aku dijadikan kambing hitam. Dia kan sudah gede, mana mungkin saya iket macam kucing,” tangkis Banowati dengan wajah cemberut.

Setelah membezuk putranya di RS Mitra Kaya, Prabu Jakapit menemui para keluarga korban. Mereka menuntut Prabu Jakapit bertanggungjawab atas masa depan keluarga korban, sebab banyak anak jadi yatim gara-gara ulah Sarjokesuma. Prabu Jakapit sangat memahami, karena tuntutan mereka tidak neka-neka, segera disanggupi. Sarjokesuma polah, Duryudana harus siap kepradah.

“Jangankan hanya sekolah sampai SMA, sampai S3 pun saya sanggup membiayai mereka,” kata Prabu Jakapit sangat menghibur.

“Tapi bener ya Boss? Sebab banyak pejabat kerjanya cuma ngomong doang!”

Kondisi Sarjokusuma tak juga membaik, sehingga ada rencana mau diopname di Singgapur saja. Ee, ndilalah kersaning Allah, di kala sang prabu pusing menghadapi problem yang silih berganti, tiba-tiba srati Tumenggung Jaya Mingkalpa melapor pada Prabu Jakapit bahwa gajah Antisura raib dari kandangnya.

Bagi negeri Ngastina, gajah Antisura adalah segala-galanya. Tanpa gajah tersebut, legalitas negeri itu dipertanyakan. Karenanya Prabu Duryudana kemudian mengutus Pendita Durna untuk menelisik pakai ilmu kapanditan, ke mana perginya gajah simbol negeri Ngastina ini.

“Wakne Gondel, tolong diramal, ke mana gerangan Kyai Antisura.” Kata Patih Sengkuni pembawa amanat Prabu Jakapit.

“Maaf Di Cuni, saya baru nggak bisa fokus. Namaku disebut-sebut dalam proyek e-KTP, ini sungguh pembunuhan karakter sekaligus kriminalisasi pendita bagi Pendita Sokalima.” Jawab Pendita Durna terus terang, hatinya dongkol segede bakpao.

Pendita Durna layak dicurigai. Sebab pra kasus korupsi e-KTP merebak, dia bisa membangun perguruan Sokalima secara mentereng, para dosen dapat uang sertifikasi Rp 5 juta sebulan. Bahkan jam tangan Titus seharga Rp 1,5 miliar juga selalu dikenakan ke mana-mana. Paling celaka, gara-gara selalu pakai jubah, dia sudah dicap pendita radikal, namanya pun suka ditambah-tambahi jadi Durna Alkhotot.

“Jadi Wakne Gondel nyerah nih? Nggak bisa menjadi problem solving negeri Ngastina?” sindir Patih Sengkuni.

“Yang lain saja, lagi nggak bisa mikir. Saya takut diperiksa sampai 20 jam kayak Ahmad Dhani….”

Demikianlah, menguasai kembali Kyai Antisura adalah harga mati bagi Ngastina. Gagal lewat Pendita Durna Alkhotot, kemudian minta tolong kepada Betara Kresna raja Ngamarta, pemilik pusaka Kaca Paesan. Pusaka ini jauh melebihi GPS yang mampu mendeteksi kemacetan lalulinta di depan pengendara, tapi raibnya barang-barang aset negara juga tahu.

“Tenang paman Sengkuni, gajah Antisura sengaja diamankan ke kahyangan oleh Patih Narada. Betara Guru memang khawatir gajah itu disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak bertanggungjawab.” Jawab Betara Kresna setelah membuka Kaca Paesan.

“Ngomong kek, main ambil saja. Kan bikin wayang sutris…” jawab Patih Sengkuni, tapi makplong hati menjadi lega.

Ketimbang nanggung, Patih Sengkuni atas perintah Prabu Jakapit sekalian minta tolong kepada Prabu Kresna untuk bisa mengambil kembali gajah Antisura. Maklum, sebagai titisan Wisnu raja Dwarawati ini punya banyak link dan chanel di Jonggring Salaka. Dewa cap apapun dijamin kenal dengan Betara Kresna.

“Kok jadi mremen-mremen (melebar ke mana-mana), memangnya raja Dwarawati itu pengacara Ngastina.” Jawab Prabu Kresna setengah berkelakar.

“Ya enggaklah anak prabu. Tapi sebagai solidaritas sesama wayang, adalah kewajiban titisan Wisnu membantu menyelesaikan segala masalah di ngercapada.” Ujar Patih Sengkuni. Soal mengangkat-angkat orang, Patih Sengkuni memang paling bisa.

Demikianlah, berkat lobi-lobi Betara Kresna, akhirnya gajah Antisura bisa dikembalikan ke Ngastina dalam kondisi utuh. Dia dikirim pakai pesawat Hercules C-130 dan tiba dengan selamat. Setelah dicek nomer registernya, ternyata cocok, bukan dikasih gajah duplikat. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement