SOLO- Museum Radya Pustaka Surakarta, museum tertua di Indonesia di kawasan Taman Sriwedari, Solo, dua hari terakhir terpaksa tutup.
Faktornya, lantaran masalah keuangan akibat bantuan dana operasional dari APBD Solo belum cair, sehingga gaji semua karyawan belum dibayar sejak Januari 2016.
Anggota Komite Museum Radya Pustaka, ST Wiyono, mengatakan, para karyawan telah meminta izin beberapa hari karena bepergian ke luar kota. Permintaan izin diajukan Rabu 13 April 2016 pagi. Dampaknya, tak ada karyawan yang masuk kerja sepanjang Kamis ini.
”Komite museum sebenarnya berniat tetap membuka museum, meskipun saat ini ada masalah keuangan,” katanya seperti dilansir PR, Jumat (15/4).
Menurut ST Wiyono, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan keterangan tentang alasan para karyawan tidak masuk kerja. Dia menduga para karyawan mengambil sikap itu karena gaji yang tak kunjung dibayarkan.
Dia menambahkan, komite tidak punya dana untuk membayar gaji 12 karyawan museum itu. Hasil penjualan tiket masuk hanya dialokasikan untuk biaya perawatan rutin dan pembayaran biaya rekening listrik.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt. Sekda) Kota Solo, Rakhmat Sutomo, menyatakan bahwa Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo sudah memberi disposisi terkait proposal yang diajukan pengelola Museum Radya Pustaka. Saat ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo tengah melakukan verifikasi proposal yang diajukan dan segera mencairkan biaya operasional yang dibutuhkan.
”Prinsipnya biaya operasional tetap harus dicairkan. Tetapi prosesnya harus dipilah di Disbudpar yang merupakan penanggung jawabnya,” jelasnya.
Kepala Disbudpar Kota Solo, Eny Tyasni Suzana, menuturkan bahwa dalam proses pencairan dana bantuan secara administrasi harus lengkap. Tahun 2016 ini, Komite Museum Radya Pustaka mengajukan biaya operasional sebesar Rp 300 juta. Pengajuannya dilakukan dalam tiga tahap melalui proposal yang kini tengah dalam proses realisasi.
Museum Radya Pustaka memiliki koleksi yang terdiri dari berbagai macam arca, pusaka adat, wayang kulit, dan buku-buku kuno. Koleksi buku kuno yang banyak dicari itu di antaranya mengenai Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya antara lain mengenai petunjuk pemerintahan dan Serat Rama karangan Pujangga Keraton Surakarta bernama Yasadipura I yang menceritakan tentang wiracarita Ramayana.





