
DALAM pidato pelantikannya di MPR 20 Oktober lalu, Presiden Jokowi berkeinginan tahun 2045 nanti rakyat Indonesia punya penghasilan atau gaji minimal Rp 27 juta sebulan. Banyak pengamat ekonomi menganggap Jokowi berkhayal, atau mimpi di hari bolong. PadahalĀ 20 tahun mendatang, penghasilan Rp 27 juta sebulan bisa saja tercapai. Cuma pertanyaannya, bagaimana dengan daya beli rakyat. Apa artinya gaji Rp 27 juta sebulan, jika beras sekilo Rp 150.000,-? Maka mending gaji tetap Rp 15 juta, tapi beras sekilo hanya Rp 2.500,-
Apa sih sebetulnya sejahtera itu? Ini istilah yang gampang-gampang susah untuk dijabarkan. Jika merujuk ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sejahtera itu penjelasannya simpel: aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Padahal pengertian sejahtera tidak sesederhana itu. Aman, jika tidak punya iman? Makmur, tetapi kufur? Definisi paling pas mungkin: semuanya terjamin!
Saat menyampaikan pidato pelantikannya sebagai Presiden RI kedua kalinya, di depan sidang MPR Jokowi mengatakan antara lain, berkeinginan menjadikan rakyat Indonesia di taun 2045 atau 20 tahun mendatang, penghasilan perkapita penduduk mencapai Rp 27 juta sebulan. Ini untuk rakyat kelas akar rumput pada umumnya. Kalau kalangan elit sih, tak usah menunggu 20 tahun mendatang, sekarang juga banyak yang sudah bergaji Rp 50 juta sebulan, misalnya anggota DPR.
Presiden Jokowi melihat, belum semua rakyat Indonesia sejahtera. Tapi bagaimana mau sejahtera, lha wongĀ dalam era pemerintahannya nomenklatur Menko Kesejahteraan Rakyat malah dihapuskan. Artinya, selama memerintah 5 tahun, kesejahteraan rakyat belum semua meningkat. Jokowi punya teori, dengan menggenjot pembangunan infrastruktur di mana-mana (jalan tol dan jembatan), nantinya pertumbuhan ekonomi berkembang, dan ekonomi rakyat meningkat.
Untuk mensejahterakan rakyat yang tak juga tercapai pasca reformasi, setiap presiden punya gaya sendiri. SBY menghibur rakyat dengan subsidi BBM dan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Sedangkan Jokowi, subsidi BBM dikurangi tapi KIP (Kartu Indonesia Pintar), diperbanyak, dan para lansia akan diberikan tunjangan prakerja. Orang miskin juga dibebaskan dari biaya saat mengurus sertifikat tanah. Nah, ketika semakin banyak subsidi yang diberikan negara, Insya Allah pendapatan rakyat Rp 27 juta sebulan di tahun 2045 akan tercapai.
Para pengamat ekonomi pesimis dengan gagasan Jokowi. Jika penanganan ekonomi seperti sekarang ini, katanya tahun 2500 rakyat Indonesia juga tetap miskin. Siapa bilang? Tahun 2045 rakyat Indonesia berpenghasilan Rp 27 juta sebulan, bukan fiksi! Itu bisa dicapai dengan mudah. Sesuai dengan tingkat inflasi, pastilah 20 tahun mendatang pendapatan segitu bisa dicapai.
Sekedar contoh, tahun 1977 gaji PNS terendah baru Rp 12.000,- dan tertinggi Rp 120.000,- Kemudian pada 1993, gaji PNS untuk golongan terendah naik menjadi Rp 78.000, sedangkan golongan tertinggi menjadi Rp 537.600. Pada tahun 2007 gaji PNS golongan terendah mencapai Rp 760.500 dan golongan tertinggi Rp 2.405.400. Dan
terakhir, pada 2015 gaji PNS untuk golongan terendah sebesar Rp 1.486.500 dan golongan tertinggiRp 5.620.300.
Walhasil, teori Jokowi bukan pepesan kosong. Bandingkan, tahun 1977 gaji terendah PNS Rp 12.000,- danĀ tahun 2015 menjadi Rp 1.486.5000.- Coba hitung, naik berapa kali lipat itu? Naik sampai 123 kali lipat selama 38 tahun, apa ora hebat? Maka jika tetap menggunakan ārumusā itu, jangan kaget ditahun 2045 gaji PNS terendah bisa mencapai Rp 85 jutaan.
Cuma masalahnya, sampai di mana daya beli rakyat Indonesia di masa itu. Jika sekarang beras sekilo Rp 10.000,- dinilai mahal, bisa saja di tahun itu harga beras mencapai Rp 150.000,- sekilo. Sekedar contoh, biaya bersalin ānormalā Ā di bidan tahun 1983 masih Rp 35.000,- sekarang sudah Rp 1,5 juta, naik 42 kali lipat. Maka mending gaji tetap Rp 15 juta, tapi beras sekilo hanya Rp 2.500,- Jika semua keinginan rakyat yang sederhana terpenuhi, baru itu namanya sejahtera. (Cantrik Metaram)




