Gantung Diripun Masuk Medsos

Banyaknya apartemen dibangun di Jakarta, bukan fasilitas orang untuk bunuh diri.

PADA zaman serba canggih ini inovasi-inovasi baru selalu muncul. Begitu pesatnya perkembangan medsos, sampai-sampai orang bunuh diri saja bisa live sendiri lewat FB. Orang sedunia bebas menonton bagaimana proses gantung diri itu, sampai nyawa lepas dari badan. Pelakunya Indrawan Pahinggar (40) warga Jakagakarsa (Jaksel). Sayang, kekar tubuhnya tapi lemah imannnya. Hanya karena putus asa ditinggal minggat bini, dia tega mempermainkan nyawa yang milik Allah Sang Pencipta.

Banyak jalan ke Roma, kata sastrawan Idrus dalam salah satu buku sastranya. Sekarang banyak pula jalan menuju ke akhirat. Biasanya orang pasrah menunggu jadwal Sang Pencipta. Ada juga dan kalau bisa, maunya minta ditunda sampai siap. Bisa karena merasa amalnya belum cukup sebagai bekal, bisa juga karena merasa belum puas mereguk kenikmatan duniawi.

Tapi ajal itu misteri Illahi, bisa datang sewaktu-waktu, baik katika masih bayi, remaja, lanjut usia maupun sudah tua bangka. Setiap manusia sudah punya jatah usia masing-masing, tanpa bisa diperpanjang maupun diperpendek barang semenitpun. Kulu nafsin dzaikatul maut (setiap yang hidup akan mati),” kata Allah.

Nah, yang memperkosa kehendak Allah itu bisa disebut: bunuh diri atau nganyut tuwuh kata orang Jawa. Dia sudah merasa bosan hidup di dunia, karena yang didapat hanya penderitaan melulu. Karenanya jatah usia itu dipersingkat, karena merasa tak perlu lama-lama menderita di dunia. Apa pun resikonya, segala penderitaan itu hendak diborongnya di akhirat sana.

Bunuh diri adalah petanda orang yang lemah iman, yang sudah putus asa dari rahmat Allah. Padahal tak ada kesusulitan duniawi ini yang tak bisa dipecahkan. Ada kesulitan, ada jalan keluar. Ingat juga pesan Kantor Pegadaian: mengatasi masalah tanpa masalah. Jadi mengatasi masalah dengan bunuh diri, itu namanya lari dari masalah.

Seperti kasus yang dialami Indra Jagakarsa itu misalnya, memangnya setelah dia gantung diri, istrinya bisa kembali padanya? Misalkan dia kembali, jug dirinya sendiri sudah tidak ada. Mestinya sebelum gantung diri Indra berfikir ulang, setidaknya memikirkan anak-anaknya, lalu siapa yang akan mengurus dan membesarkannya?

Hidup di Jakarta memang lebih banyak tantangannya. Tantangan akibat semakin tajamnya persaingan mencari rejeki. Ketika tak mampu mengatasi persaingan itu, berubahlah menjadi sebuah tekanan. Tak juga mampu mengatasi tekanan, akhirnya melarikan diri dengan cara menghindari hidup. Sebab setelah mati, selesailah urusan duniawai, tak ada tantangan, tak ada persaingan.

Hampir setiap hari ada orang bunuh diri di Jakarta. Secara nasional angka orang bunuh diri telah mencapai 150.000 perhari. Menurut data Kemenkes tahun 2012, dalam setahun sekitar 50.000 orang Indonesia mati karena bunuh diri dengan berbagai farian cara-cara yang ditempuhnya.

Jakarta sebagai ibukota negara, memang makin banyak “fasilitas” untuk berbunuh diri. Bila dulu banyak yang nabrak sepur, kini paling favorit terjun dari gedung bertingkat, seperti apartemen dan perkantoran. Pelakunya dari orang biasa, pejabat sampai pengusaha. Masih ingat kasus pengusaha India, Marimutu Manimaren bos PT Texmaco, 5 Juli 2003 tewas terjun dari Hotel Aston, Semanggi.

Paling klasik adalah bunuh diri dengan minum racun. Ini dikenal setidaknya 4 abad sebelum masehi. Filosuf Yunani, Socrates (470-399 SM), karena dianggap meracuni generasi muda lewat pemikiran-pemikirannya, dia dihukum mati oleh negarawan, seniman dan budayawan saat. Caranya, harus minum racun hingga mati. Meski banyak yang meratapi, Socrates melakukannya dengan tenang demi keyakinannya.

Gantung diri menjadi cara paling favorit untuk mengenyahkan nyawa dari tubuh. Bahkan sejumlah negara sebagaimana Irak, Malaysia dan Singapura, memberikan sanksi pelanggar hukum berat dengan mengantung diri si terhukum sampai mati. (Cantrik Mataram).

Advertisement