Gara-Gara Zakat, Kini Saya Berdaya

Fadil, penerima manfaat pemberdayaan Dompet Dhuafa. Foto: Jun Aditya.

JAKARTA (KBK) – Jauh sebelum Dompet Dhuafa tiba di wilayah Desa Padusan, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur Fadil Setiawan tak lebih dari petani gurem. Pendapatannya minim tergantung dengan musim, hidupnya yang susah kian dipersulit dengan ulah tengkulak yang kerap memainkam harga jual sayur.

“Sebagai petani gurem saya sulit berkembang. Tidak ada sistem permodalan yang memadai. Tapi sekarang alhamdulilah beda, saya bisa berkembang dan berlari,” ujar Fadil yang kini dipercaya sebagai petani sekaligus pendamping program Green Hourti Dompet Dhuafa.

Pada tahun 2010 Fadil bersama 30 petani lainnya dipercaya Dompet Dhuafa menjadi petani binaan. Melalui dana zakat Fadil diberdayakan untuk mengelola pertanian produktif organik. Pada 2012 Fadil kembali dipercaya untuk membiakan hewan ternak untuk hari raya qurban.

“Melalui program M3 mustahik move to muzaki saya mulai mengubah mindset petani untuk beralih menjadi petani organik,” terang Fadil dalam Publik Ekspos Dompet Dhuafa di Jakarta (30/1)

“Pertanian organik dapat mengatasi persoalan lahan yang minim. Hasil dari pertanian organik memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi,” papar Fadil yang memiliki 27 Green House dengan kapasistas panen 1 kuintal per Green House.

Berkat pertanian organik yang diterapkan Fadil, kini ke tiga puluh petani yang awalnya gurem mampu berdaya dan pada 2017 lalu Fadil berhasil melakulan urunan bersama petani binaan untuk menyantuni 50 fakir miskin dan anak yatim.

“Alhamdulilah setiap tahun saya juga jualkan ternak para petani untuk program Tebar Hewan Kurban dan hasilnya alhamdulilah. Dari diberi kini saya bisa memberi,” terang Fadil.

Advertisement