KEDUDUKAN seorang raja tak menjadi lengkap mana kala dia tak memiliki kereta berkuda. Adipati Karno memiliki kreta Kyai Jaladra, sementara kesatria Madukara Harjuna punya Kyai Jatisura. Itu merupakan kendaraan dinas pejabat elit dunia perwayangan. Bila plat nomernya Adipati Karno NG 01, Harjuna hanya M-2326 RFS. Lho kok pakai plat nomer umum? Lha iya, karena jatah plat nomer miliknya kadung dibeli pengusaha swasta.
Paling kasihan Gatutkaca raja negeri Pringgodani. Sudah 2 tahun jadi penguasa belum juga memiliki kereta berkuda. Padahal dewa pernah menjanjikan, dia akan dapat jatah kreta kahyangan bernama Wahanayaksa. Namun entah kenapa, fasilitas itu tidak kunjung turun, sehingga untuk sehari-hari terpaksa Gatutkaca gunakan mobil pribadi. Bahkan kadang jika jalanan macet dia pilih pakai sepeda motor Honda 69 yang bunyinya nguk engukkkk itu. Dia sama sekali tak merasa malu, meski sering diolok-olok istrinya.
“Sampeyan raja kok mau naik motot butut sih Mas?” tegur Pregiwa.
“Biar jelek, tapi halal. Daripada pakai mobil mewah tapi dari korupsi.” Jawab Gatutkaca tanpa bermaksud menyindir wayang-wayang korup.
Sebenarnya kalau mau, begitu Gatutkaca diwisuda menjadi raja Pringgodani, semua fasilitas yang ada bisa diambil. Tapi dia memang agak Njokowi sedikit. Gajinya tak pernah diambil, kendaraan dinas tak kunjung tiba juga diam saja. Karena dia menyikapi bahwa jabatan itu bukan status tapi fungsi. Gatutkaca mau jadi raja Pringgodani bukan karena mengejar materi, tapi untuk mengatur masyarakat buto sebagai rakyatnya menjadi sejahtera.
“Kalau Jokowi kan punya usaha ekspor meubel, lha sampeyan? Bukak biro iklan saja tutup. Tagih dan tuntut dong kreta Wahanayaksa itu,” desak Pregiwa belum lama ini.
“Ya entarlah. Itu bukan kebutuhan mendesak,” jawab Gatutkaca santai.
Di mana saja ternyata sama, nggak di dunia wayang nggak di dunia manusia; perempuan suka mengintervensi jabatan suami. Dan karena intervensi Pregiwa bukan hal prinsip dalam tata kelola kenegaraan, Gatutkaca pun mencoba memenuhi anjuran istri. Malam itu juga tepat pukul nol nol dia muja semedi, gugat langsung ke Jonggringsalaka untuk minta keadilan gaya wayang. Pisiknya memang berada di kamar, tapi sukma Gatutkaca sudah sowan Sanghyang Betara Guru (SBG) di Bale Marcakunda.
SBG heran juga, tidak biasanya Gatutkaca datang tengah malam. Apa minta petunjuk Bapak SBG, biar Bapak SBG memberi petunjuk? Ternyata bukan. Sambil malu-malu dia menanyakan janji SBG soal pemberian kreta Wahanayaksa dua tahun lalu. Tentu saja penguasa Jonggringsalaka itu terkaget-kaget, sebab seingatnya dulu begitu Gatutkaca menjadi raja Pringgodani, sudah disiapkan kreta khusus sebagai bonus atas keberhasilan membunuh Kala Pracona.
“Penyarikan, jatah kreta untuk Gatutkaca kenapa belum diberikan?” tegur SBG lewat HP pada Sekretaris Kahyangan, Hyang Penyarikan.
“Kreta dari dulu sudah siap, tapi kudanya belum ada. Kuda-kuda kahyangan pada mati terkena antrax,” jawab telepon diseberang.
“Apa kreta Gatutkaca harus ditarik kuda lumping? Goblog kamu!” maki SBG.
Akhirnya Gatutkaca hanya dijanjikan, besuk pagi pukul 08.00 kreta Wahanayaksa akan diantar langsung ke Pringgodani lengkap dengan ke empat kudanya. Sukma Gatutkaca pun kembali ke ngercapada sambil senyum kecut. Dia tahu persis kelakuan Betara Penyarikan. Jika tak ada “uang pelicin” urusan bisa lama. Sebab dewa satu ini salah satu birokrat pemegang motto: kalau bisa dipersulit kenapa urusan dipermudah?
Benar juga pagi berikutnya kreta Wahanayaksa mak jleggg datang dari kahyangan tanpa tahu siapa pengantar dan tanpa minta tanda terima pula. Kreta belum dilengkapi dengan plat nopol, karena sebagaimana kreta Jatisura Harjuna, jatah nomernya sudah dibeli orang berduit. Resminya belum bisa dipakai.
Tapi Gatutkaca yang penasaran, ingin menguji coba dulu, siapa tahu ada onderdil tidak beres. Bisa tak sengaja, bisa disengaja alias disabotase. Sebab bagi dewa-dewa kahyangan, Gatutkaca ini termasuk tokoh yang tak disuka, karena selalu mengkritisi kebijakan dan kinerja aparat kahyangan.
“Di mata Gatutkaca, kinerja dewa nggak ada yang bener,” keluh seorang dewa sekali waktu.
“Nanti kalau saatnya mati, nyawanya mau saya tarik ulur keluar masuk….,” ancam Hyang Yamadipati.
Gatutkaca telah merencanakan, kreta Wahanayaksa akan digunakan sebagai kendaraan inspektur upacara saat memeriksa barisan. Sebagai raja Pringgodani, dia akan melaksanakan tugas itu, menyambut HUT ke 72 negerinya yang akan berlangsung tidak lama lagi. Penduduk negeri Pringgodani kini sibuk pasang bendera dan umbul-umbul simbol negara. Sayangnya, banyak rakyat yang pasang asal-asalan. Tiang bendera hanya berharga Rp 15.000,- saja males beli, dan bendera itu hanya dipasang di bekas gagang pengepel lantai, lalu ditaruh di pintu pagar rumahnya. Paling kurang ajar, ada juga warga Pringgodani yang pasang bendera numpang di tiang antene TV.
“Tolong bapak-bapak, ibu-ibu, pasang bendera yang bener ya. Itu simbol negara, jangan menyepelekannya. Prabu Trembaga embah Gatutkaca dulu mendirikan negara ini dengan modal darah dan nyawa.” Kata Pak RT saat menegur rakyatnya.
“Iya, iya. Tapi jika rakyat tak mampu beli bendera, negara wajib memberinya secara gratis.” Kata penduduk yang lain.
Begitulah, meski belum ada saisnya, Gatutkaca mencoba mengendarainya sendiri kreta Wahanayaksa sebagai test drive. Memangnya bawa kreta itu susah? Kan tidak pakai mesin, yang penting kan pegang lis kendali secara benar, selesai.
Gatutkaca segera menggeber kreta Wahanayaksa dengan kecepatan penuh 60 Km/jam, kecuali di kompleks militer tinggal 5 Km/jam. Lis kendali dipegang kuat-kuat dan tegang, sehingga keempat kuda yang menarik kreta itu semakin kencang berlari laksana terbang.
Sepuluh menit setelah lepas perbatasan Pringgodani – Trajutrisna, mendadak kereta itu oleng. Bersama keempat kudanya sekalian Wahanayaksa menabrak tebing Gunung Trisnakelasa. Padahal di atas terdapat padepokan tempat Prabu Bomanarakasura (Setija) bersantai. Otomatis padepokan itu ambruk dan menimpa kreta bersama penumpangnya. Gatutkaca bisa menghindar, tapi kreta hancur dan keempat kuda itu wasalam……
“Apapun yang terjadi, saya siap tanggungjawab. Saya siap mengganti semua kerugian,” kata Gatutkaca ketika dikerumuni pers.
“Tapi ini pemiliknya Prabu Setija, sedangkan Anda selama ini kan musuh bebuyutan. Apa tidak berkembang ke ranah politik?” kejar pers.
Wah, Gatutkaca tak bisa menjawab. Namanya juga apes, mau bagaimana lagi. Dan benar juga, satu jam kemudian Prabu Setija datang sambil marah-marah. Dia menuduh Gatutkaca sengaja sabotase atas aset-aset Trajutrisna. Dari dulu Gatutkaca memang sengitan ora ketara (benci yang tersamar) atas dirinya.
“Maaf kangmas Setija, saya nggak sengaja. Nanti saya ganti semuanya,” ujar Gatutkaca terima salah.
“Bukan soal ganti rugi. Dimas memang selalu mencoba mengacau segala programku. Saya harus gugat ke peradilan internasional,” ancam Setija lagi.
Tapi bagaimana gugatan Prabu Bomanarakasura mau berhasil, lha wong nggak di dunia wayang nggak di dunia manusia, jumlah hakimnya selalu kekurangan. Akibatnya, sampai isyu masalahnya habis, gugatan belum juga diproses. (Ki Guna Watoncarita)



