“PA, tolong carikan Gatutkaca dong! Gue kebelet kawin dengannya,” teriak Dewi Dahanawati tanpa malu-malu sambil membangunkan ayahnya.
“Husy; memangnya Gatutkaca roti tawar, bedug subuh pada ngider?” sergah Dahanamukti, sambil menyeka iler.
Waktu itu memang masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Dia baru saja mandi, maklum habis mimpi basah bersama Gatutkaca! Seumur-umur jadi wayang perempuan Dewi Dahanawati putri Prabu Dahanamukti dari Dahanapura itu belum pernah bertemu apalagi berkenalan dengan Gatutkaca. Namun di alam mimpinya, seakan dia sudah pacaran, dengan tokoh yang sering disebut sebagai Alap-alap Pendawa itu. Di sana mereka memadu kasih yang disempurnakan dengan astralungiyan (hubungan intim) bagaikan suami istri. Syahduuuu sekali, begitu kesan Dahanawati.
Tapi sayang, sang ayah yang ditodong Dewi Dahanawati seakan tak menanggapi permintaan tersebut. Soalnya mencari kesatria yang digandrungi putrinya bukan perkara gampang. Di samping nama ini baru sekali ini didengamya, Dewi Dahanawati juga tanpa menyebut macam apa potongan Gatutkaca, minimal pakai foto kek!
“Kira-kira dengan si Gatot tukang minyak langganan kita, gantengan mana dia?”
“Papi suka gitu sih. Pokoknya gue harus kawin dengan Gatutkaca. Titik….!”
Prabu Dahanamukti tahu betul watak putrinya, bila minta sesuatu sak idek saknyet (harus ada). Daripada dia kabur ke Monas malam-malam seperti yang pernah terjadi 2 tahun silam Dahanamukti pilih mencarikan Gatutkaca sampai dapat.
Karena putrinya lulusan ISI Yogyakarta dan kini punya stand di Pasar Seni Ancol, boss raksasa ini meminta Dahanawati untuk nyungging atau melukis tokoh yang diidamkannya. Satu jam kemudian ketika sketsa itu sudah jadi, Prabu Dahanamukti terhenyak memandangi wajah dalam lukisan tersebut. Ternyata kesatria yang diimpi-impikan Dahanawati adalah Gatutkaca dari Pringgodani, yang kondang sebagai wayang berotot kawat bertulang besi, berkeringat wedang kopi dan berperut tengki.
“Wah kalau ini sih bapak kenal baik, bapak pernah ketemu dengannya ketika arisan di Pringgodani,” ujar Prabu Dahanamukti.
“Bapak jangan ngeledek dong, masak Gatutkaca ikut arisan.” Potong Dewi Dahanawati sewot.
Dahanamukti tersenyum, dia sangat bangga akan pilihan putrinya. Untuk mencari Gatutkaca mestinya dia bisa saja menyuruh patih atau hulubalangnya. Namun hal ini tak dilakukan, sebab Prabu Dahanamukti tahu betul watak pembantu-pembantunya, kalau ditugaskan suka mengajukan anggaran yang terlalu tinggi dan sering mbathi (cari untung). Masalah sepele pun dibentuk panitia dan diproyekkan, dengan motif agar memperoleh kelebihan. Karenanya untuk menekan anggaran, Dahanamukti tanpa sungkan-sungkan melacak sendiri di mana keberadaan kesatria Pringgodani itu.
Gatutkaca yang diburu-buru Prabu Dahanamukti, sesungguhnya saat itu tak berada di kesatriaannya. Minggu-minggu ini dia memang sibuk di Ngamarta mengikuti sidang rencana pemugaran candi Saptaharga milik Begawan Abiyasa. Sebagaimana berita yang dimuat di koran-koran, negeri itu kini sedang dilanda krisis ekonomi dan kesehatan. Harga-harga naik melulu gara-gara dolar sampai Rp 14.000,-. Penyakit gawat merajalela, dengan menelan banyak korban. Menurut petunjuk dewa di atas, untuk menangkal bencana itu harus dilakukan dengan terobosan baru, yakni dengan memugar Candi Saptaharga.
Untuk itulah Prabu Puntadewa raja Ngamarta bersama adik-adiknya dan dibantu Prabu Kresna dari Dwarawati berunding bagaimana memugar Candi Saptaharga tanpa terjadi kebocoran biaya di sana- sini.
Sekaligus untuk menggalakkan pariwisata, Candi Saptaharga sengaja akan diperluas sehingga ratusan hektar tanah lagi perlu dibebaskan. Untuk itu, meskipun Pemda Amarta belum membebaskan tanah-tanah dimaksud, daerah beradius 2-4 km dari candi dinyatakan sebagai wilayah dalam pengawasan Pemda Ngamarta. Penduduk setempat dilarang membangun dan memperjualbelikan tanah miliknya.
“Lha iya yah, rumah-rumah gue, tanah-tanah gue, giliran mau dibangun, IMB kagak keluar….!” begitu keluh kesah kalangan wayang kelas bawah. ,
Gatutkaca yang ditunjuk sebagai anggota Panitia Sembilan, saat itu berkeliling Ngamarta untuk memberikan penyuluhan kepada penduduk. Jangan sampai ada gejolak dan mereka ngomong macem-macem di koran dan medsos. Di sinilah dia ketemu Prabu Dahanamukti yang sudah berhari-hari mencarinya. Sambil ngopi di warung pojok, Gatutkaca dibujuk agar mau diambil menantu untuk dikawinkan melawan dewi Dahanawati.
“Ogah ah, bapaknya saja raksasa pasti anaknya paling-paling seperti kucing diraupi (cuci muka)…..!” penolakan Gatutkaca blak-blakan.
“Lihat dulu, baru komentar.” Kata Prabu Dahanamukti.
Seperti apapun Prabu Dahanamukti mempropagandakan putrinya, namun Gatutkaca tetap pada pendirian semula. Dengan sangat terpaksa raja Dahanaputra ini main kasar, Gatutkaca dibius, dan kemudian dilarikan ke negerinya pakai taksi. Ketika siuman di tilam rum (kamar tidur) keputren Dahanapuici, Gatutkaca terkesima melihat Dahanawati yang sungguh cantik dan geboy! Bila sebelumnya dipaksa-paksa, kini malah ambil inisiatip sendiri bagaimana menghabiskan malam syahdu itu bersama Dahanawati. Ketika beduk subuh ditabuh, kedudukan telah 5-0.
Sebagai pegawai negeri yang terikat PP-10, Gatutkaca tak berani menikahi secara resmi Dahanawati sebagai istri yang kedua. Karenanya setelah seminggu diservis “all in” di Dahanapura, dia meninggalkan “simpedes”nya untuk kembali ke Ngamarta. Kepada Dahanawati cuma berpesan, kapan-kapan datang lagi ke sini untuk memberikan nafkah berupa materil maupun onderdil.
“Kanda pulang dulu ke Pringgodani ya, kapan-kapan ada hari kejepit, gue dateng lagi….!” kata Gatutkaca sambil pamitan.
Ternyata Gatutkaca pintar janji doang. Mungkin karena takut pada Pregiwa istri resminya, dia pleng klaleng (tanpa berita) tak pernah muncul-muncul ke Dahanapura. Surat tiada, apalagi duit!
Mengingat benih-benih yang ditinggalkan Gatutkaca termasuk jenis bibit unggul, akhirnya Dahanawati hamil dan 9 bulan kemudian melahirkan wayang bayi lelaki. Berhubung ibunya kenal pertama kali dengan Gatutkaca lewat pasumpenan (impian), maka bayi itu kemudian diberi nama Jaya Sumpena.
Ketika Jaya Sumpena lulus SMP 15 tahun kemudian, dia bermaksud mencari ayahnya ke Pringgodani. Sebab seumur-umur jadi wayang, dia belum pernah ketemu.
“Nyak, gue mau nyusul babe ke Pringgodani, minta sepeda BMX dan sepatu macam milik AH Oncom….!” rengek Jaya Sumpena sekali waktu.
“Jangan deh, di jalan banyak culik….!” Mbah Dahanamukti mencegah.
Karena Jaya Sumpena merengek-rengek terus, Dewi Dahanawati jadi kasihan. Dengan diantar ibunya Jaya Sumpena berangkat ke Pringgodani pakai KA Senja Ekonomi Solo Balapan — Gambir. Turun di Stasiun Jatinegara keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan taksi online.
Ternyata di Pringgodani Gatutkaca tak ditemukan karena dia masih sibuk urusan Proyek Pemugaran Candi Saptarengga yang ternyata belum beres-beres juga. Oleh Satpam mereka disarankan menyusul langsung ke Amarta saja. Kebetulan di sana baru ada pembayaran ganti rugi, Gatutkaca yang jadi panitia pembebasan benar-benar berkipas. Maklum saja, dari setiap meternya dia bisa mengantongi Rp 1 juta lebih.
“Buruan ke sana deh, kebetulan bapakmu banyak duit nih….!”
Dahanawati dan Jaya Sumpena memburu Gatutkaca ke Ngamarta. Mungkin terlalu sibuk atau bagaimana, ketika ada bocah tanggung menyusul dan ngaku-ngaku sebagai anaknya, Gatutkaca jadi marah. Apalagi saat itu Pregiwa juga hadir untuk urusan PKK. Jaya Sumpena langsung dihajar, tak peduli Ny. Dahanawati berteriak-teriak menyaksikan anaknya dibuat latihan.
“Bapak, aku elu….” Kata bocah Jaya Sumpena.
“Enak aja luh ngaku sebagai anak Gatutkaca. Kapan gue kawin dengan enyakmu?” sergah Gatutkaca sambil memilin kumisnya yang sekepel.
Saat Gatutkaca mau mengirimkan swing-nya yang kedua, dengan cepat Dahanawati mengeluarkan akte kelahiran Jaya Sumpena berikut lukisan Gatutkaca yang dibuatnya belasan tahun lalu. Gatutkaca terkesima, dia ingat sekarang bahwa wanita itu ternyata Dahanawati yang menjadi “simpedes”nya di Dahanapura. Buru-buru Jaya Sumpena digendong dan diciumi begitu pula ibunya. Tinggal kini Pregiwa yang njegadul (cemberut) penuh cemburu.
“Pak, di Ngamarta enak ya?” Bagaimana kalau gue dan ibu ikut tinggal di sini sekalian…,?” usul Jaya Sumpena kemudian.”
“Jangaaaan! Tanpa keahlian dan skill, hidup di Ngamarta bisa ngebelongsak. Mendingan kalian pulang saja, apalagi pendatang baru kini diawasi ketat. Kalian nggak puny a KTP kan, dalam waktu dekat ada razia KTP Iho….! ujar Gatutkaca menakut- nakuti.
Pintar sekali Gatutkaca mencari alasan, padahal motif sesungguhnya sih dia sungkan punya dua “dapur” yang berdekatan. Maka setelah memberikan amplop segepok berisi uang berjut-jut, Gatutkaca mempersilakan Jaya Sumpena dan Dahanawati kembali ke Dahanapura pakai bis malam. (Ki Guna Watoncarita)



