GATUTKACA WINISUDA

Brajadenta mundur dengan ikhlas, merelakan Gatutkaca yang dilantik jadi raja Pringgodani.

SEMENJAK Prabu Arimba raja Pringgodani tewas dibunuh Bima, sudah puluhan tahun lamanya tahta kerajaan dibiarkan kosong. Suksesi kepemimpinan tersendat-sendat. Di negeri yang rakyatnya berwujud raksasa dari RT sampai pejabat-pejabatnya itu dianggap belum ada yang layak jadi raja. Pringgodani bagaikan kapal tanpa nahkoda, tata pemerintahan benar-benar amburadul. Korupsi merajalela di mana-mana. Yang kecil korupsi beras raskin, yang gede main kawal proyek untuk Pemda.

Melihat kerapuhan negeri Pringgodani, banyak negara lain yang tergiur untuk mencaploknya. Selain Ngastina yang diotaki Duryudana, negeri Tunggarana di bawah pimpinan Prabu Kalapustaka berminat pula. Justru negara terakhir inilah yang paling berambisi. Bumi Pringgodani memang subur, produk cantel yang menjadi makanan pokok rakyat, sangat berlimpah ruah. Apalagi sumber minyak bumi, sampai 100 generasi pun tak akan habis!

“Kalau bumi Pringgodani bisa berintegrasi ke Tunggara­na, rakyat kita pasti akan makmur, dan GNP-nya naik. Kau Tumenggung Dendapati, nanti juga bisa saya karbit jadi patih, tidak jadi tumenggung seumur-umur…!” ujar Prabu  Kalapustaka dalam sidang selapanan bidang pertahanan untuk membicarakan strategi pencaplokan Pringgodani!

“Lho, patihnya selama ini kan saya. Mau dikemanakan saya, Sinuwun ?” Patih Sumberkaton protes, karena merasa jabatannya terancam.

“Usiamu kan sudah di atas 60 tahun, masuk MPP dong! Kasih kesempatan kepada generasi muda…!”

Bila diteruskan, situasi persidangan bisa memanas. Pra­bu Kalapustaka tak mau sampai terjadi begitu. Maka soal suksesi kepatihan Tunggarana distop, dan perbincangan kembali difokuskan pada soal rencana pencaplokan Pring­godani. Dua jam kemudian keputusan sidang diperoleh bahwa penyerangan ke Pringgodani dilangsungkan minggu-minggu ini dengan komandan Patih Sumberkaton yang biasa naik bis Sumber Alam.

Sementara Patih Sumberkaton mempersiapkan proyek agresinya, soal kevacuman di Kerajaan Pringgodani siang itu juga sedang jadi pembicaraan hangat antara Harjuna kesatria Madukara dengan Begawan Abiyasa di pertapaan Wukiretawu. Sambil minum bir dan makan pisang molen, kakek dan cucu itu mempersoalkan segala kemungkinan suksesi di Pringgodani.

“Kalau begitu sebenarnya siapa yang berhak jadi raja di Pringgodani, Eyang Begawan?” tanya Harjuna santun.

“Kok pertanyaanmu agak tendensius, Harjuna? Berulang kali kau selalu bertanya soal suksesi di Pringgodani, apa kau ambisi jadi raja di sana?”

“Boleh disamber geledek Eyang, cucunda sama sekali tak punya ambisi jadi raja di Pringgodani. Mana mungkin saya mencalonkan, Harjuna kan bukan putra daerah…!” jawab Harjuna mantap.

“Betul itu Harjuna. Di samping kau bukan trah (keturunan) Pringgodani, kau memang tak berbakat jadi raja. Soal ilmu Eyang mengakui, tapi masalah leadersip kau nol!” tambah Begawan Abiyasa terang-terangan.

“Makanya Harjuna, yang paling berhak jadi raja di Pringgodani ya cuma Gatutkaca. Di samping dia keturunan langsung Prabu Arimba, dia kini kan sedang Kursus Lemhawas (Lembaga Ketahanan Wayang Sekotak) di Kahyangan,” induktrinasi Begawan Abiyasa lebih lanjut.

Ingin sebenarnya Harjuna lebih lama ngobrol-ngobrol dengan Bagawan Abiyasa. Tapi karena disindir sebagai tak ada potongan jadi raja kecuali tukang kawin, adik Werkudara ini jadi terasa panas pantatnya meskipun kursi sofa yang diduduki sudah lunas kreditnya di Colombia. Harjuna buru-buru pamit setelah menerima tugas dari Eyang Abiyasa agar melapor ke Ngamarta untuk ikut mempersiapkan dan membantu suksesi di Pringgodani atas nama Gatutkaca.

Tiba di Ngamarta, Harjuna mendapatkan keluarga Pandawa sudah hadir secara lengkap, bahkan Prabu Kresna dari Dwarawati datang pula dengan KA Gajah Uwong. Mereka memang juga sedang memperbincangkan soal persiapan penobatan Gatutkaca sebagai raja di Pringgodani.

“Dimas Harjuna, bagi-bagi tugas ya. Saya dan keluarga Pandawa langsung akan berangkat ke Pringgodani, dan kau tolong panggil Gatutkaca di Kahyangan. Nih uang Gojeknya Rp 100.000,- kalau kurang harap ditomboki!” ujar Prabu Kresna yang rupanya mulai tongpes, maklum tanggal gajian masih seminggu lagi.

“Sudah positif mau jadi raja, kenapa Gatutkaca masih juga suka kasak-kusuk main atas di Kahyangan. Jadi gue nih yang ketiban pulung…” jawab Harjuna seakan tak rela disuruh keluar ongkos tambahan.

Di saat keluarga Pandawa berangkat pakai bis Hiba Full AC ke Pringgodani, di kerajaan Pringgodani Dewi Arimbi sedang sibuk mempersiapkan pencalonan Gatutkaca seba­gai raja. Sebagai wayang negara demokratis, putri almarhum Prabu Arimba itu tak mau main tunjuk Gatutkaca putranya sebagai penguasa nomer satu di negerinya. Kese-muanya diserahkan kepada DPRD Pringgodani. Dalam pemilihan itu nanti, Gatutkaca sudah dipersiapkan sebagai colon unggulan, sementara calon pendamping adalah Bra-jadenta dan Brajamusti yang kesemuanya adalah adik-adik Arimbi.

“Apa nggak salah Bude Arimbi, pemerintahan sistem kerajaan kok ada DPRD memilih calon raja?” tanya wayang kelas bawah, yang lebih banyak disimpan dalam kotak.

“Namanya saja wayang mbeling, ya suka-suka dalangnya, dong!” jawab Arimbi ketus.

Belum juga dipastikan kapan hari sidang paripurna DPRD Pringgodani, diterima laporan bahwa ada serbuan musuh dari Kerajaan Tunggarana ingin mencaplok Pringgodani. Sidang dibubarkan segera dan seluruh hulubalang negeri diperintahkan menindas dan menghalau musuh. Dalam pertempuran yang cuma berlangsung beberapa jam itu, prajurit Tunggarana dengan mudah bisa diusir. Maklum saja, Patih Sumberkaton memimpin penyerbuan tersebut secara setengah-setengah. Sebab dengan dicaploknya Pringgodani justru kedudukannya sebagai patih akan tergeser. Jadi selama bertempur, lagak Patih Sumberkaton benar-benar seperti pemain PSSI yang kena suap!

Sementara prajurit-prajurit Keraton Tunggarana pulang mudik gara-gara kalah perang, Harjuna yang ditugaskan menjemput Gatutkaca di Kahyangan telah berhasil menghadap Sangyang Batara Guru. Selain Sanghyang Narada yang selalu mendongak menghitung-hitung bintang di langit, memang hadir pula Gatutkaca yang rupanya sedang minta restu.

“Selamat ya, atas kelulusanmu mengikuti kursus Lemhawas,” kata Batara Guru.

“Maaf Pukulun,   Anaknda Gatutkaca akan saya bawa ke Pringgodani untuk diwisuda sebagai raja. Apakah Pukulun Batara Guru ada titipan?” kata Harjuna yang secara tak sadar malah bikin kerepotan.

“Nggak, semuanya terserah kehendak rakyat Pringgodani saja melalui wakil-wakilnya. Siapa pun yang dipilih, no problem. Yang penting jangan salah pilih,” potong Sang­hyang Narada.

Dengan taksi yang sama, Gatutkaca segera diajak Harju­na kembali ke Pringgodani. Para dewa banyak pula yang ikut berangkat lantaran juga memperoleh undangan VIP.

“Ssst, Gatutkaca, kau bawa uang banyak nggak? Tadi Kangmas Kresna cuma memberi Rp 100.000,- padahal taksi­nya bisa kena Rp 125.000,-. “

Ketika rombongan dewa datang bersama Harjuna yang menjemput Gatutkaca, di istana Pringgodani masih ada kesibukan penghitungan suara pemilihan Gatutkaca seba­gai raja. Brajamusti yang dijadikan calon pendamping memperoleh 13 suara, Brajadenta 46 suara, sementara Gatutkaca calon unggulan malah cuma dapat 16 suara. Gemparlah suasana sidang, sebab jelas nyata bahwa anggota DPRD Pringgodani sudah tidak kompak lagi.

“Kalau Kangmas Brajadenta yang terpilih itu wajar, sebab dia juga putra langsung ayahnda Arimba. Ananda Gatutkaca, meskipun putra daerah dia kurang mengakar di hati wayang Pringgodani, maklum dia terlalu banyak mengangkasa di udara…!” ujar Brajamusti ketika diwawancarai wartawan koran “Pewarta Pringgodani”.

Hasil sidang paripurna DPRD yang sungguh di luar duga-an, membuat Brajadenta merasa di atas angin. Apalagi hasil real count internal juag memenangkan dirinya. Dia bersikeras harus dilantik sebagai raja devinitip. Hal ini membuat bingung para tokoh Ngamarta dan dewa yang hadir. Sang­hyang Narada yang ikut pula datang merasa pula dibuat pusing. Demikian juga Batara Guru yang menerima berita itu lewat surat kabar “Jonggringsalaka Online” jadi tercenung dibuatnya.

Brajadenta yang telah merasa yakin bakal jadi raja Pringgodani sudah banyak pula menerima ucapan selamat berupa kiriman bunga. Sayang kebahagiaan itu tak berlangsung lama, malam hari dia bermimpi didatangi Sanghyang Batara Guru.

“Brajadenta, demi keutuhan negeri Pringgodani, kau harus berjiwa besar, mau mengalah. Biarkan saja Gatutkaca yang jadi raja. Kalau nggak, apa kau mau jadi urusan Sanghyang Yamadipati dewa pencabut nyawa?” kata Bata­ra Guru.

“Ya, ya, saya bersedia, Pukulun ,” jawab Brajadenta lemas dan terbangun. Berurusan dengan Yamadipati berarti umurnya diperpendek, padahal dia masih punya anak kecil-kecil.

Esok paginya Brajadenta buru-buru menghadap pimpinan DPRD Pringgodani untuk menyatakan pengunduran dirinya dari pencalonan raja. Hal ini tentu saja membuat kesemuanya lega.

“Udeh deh, gue mundur aja. Mendingan dagang ayam, daripada jadi raja tapi nggak bisa menikmati Lebaran 1440 H,” kata Brajadenta terbata-bata.

Dengan mundurnya Brajadenta, buru-buru Gatutkaca diwisuda sebagai raja Pringgodani secara devinitip untuk priode… seumur hidup. Tapi baru saja usai pelantikan, ada laporan bahwa dua kubu musuh masing-masing dari Kerajaan Tunggarana pimpinan Prabu Kalapustaka dan Ngastina pimpinan Suyudana, berusaha menyerang Pringgodani. Werkudara, Setyaki bahkan Gatutkaca yang masih pakai baju safari seusai dilantik, langsung memimpin pasukan membasmi musuh. Dalam waktu singkat pasukan Prabu Kalapustaka bisa dibinasakan, sementara Duryudana dan anak buahnya kembali ke Ngastina.  (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement