MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati marah betul. Setelah Gayus Tambunan eks pegawai Ditjen Pajak itu dijebloskan ke penjara oleh KPK sekian tahun lalu, tiba-tiba muncul “generasi penerus”-nya. Justru dia pejabat eselon III. Oknum Ditjen Pajak bernama Handang Sukarno ini beberapa hari lalu ditangkap KPK dengan barang bukti uang suap Rp 1,3 miliar. Maka jika Bu Menteri boleh bertindak seperti Tukul Arwana di “Bukan empat mata”, pastilah “thuyul” perpajakan itu sudah disobek-sobek mulutnya, tanpa harus kembali ke laptop.
Bukan saja Menkeu Sri Mulyani, Ditjen Pajak Ken Dwiyugiasteady juga bak ditampar mukanya. Sebab ini langsung menyangkut instansi yang dipimpinnya. Ini pejabat cap apa, di kala pemerintah sedang gencar-gencarnya menggelar gerakan “Saber Pungli”, eh Handang Sukarno masih berani juga jadi “generasi penerus” Gayus Tambunan. Ini benar-benar tidak sensitif dengan misi di kantornya, dia benar-benar tidak peduli dengan semangat clean gouvernance. Maka saking jengkelnya Pak Dirjen, sampai-sampai dia bilang, “Kasih saja kopi susu sianida sekalian!”
Gayus Tambunan ditangkap KPK Maret 2010. Setelah itu sejumlah oknum pejabat Ditjen Pajak juga terkena OTT dan bertumbangan. Yang kelas kakap misalnya Bahasyim Asyifi, eks KPP Jakarta VII. Di rekeningnya nangkring uang misterius Rp 64 miliar, belum termasuk lalulintas keuangan dalam keluarganya yang mencapai Rp 932 miliar. Bahasyim akhirnya divonis 12 tahun penjara dan seluruh hartanya disita sehingga dia tinggal pakai kolor doang.
Yang kelas kacangan banyak, misalnya Ridho, staf pengadilan pajak di Bandung. Lalu Tommy Hindratmo dari kantor pajak Sidoarjo, menyusul Anggrah Pratomo KPP Bogor. Juga Pargono Riyadi eks penyidik di Ditjen Pajak, ditambah lagi Muhammad Dian Indra dan Eko Darmayanto; kesemuanya pemeriksa di Ditjen Pajak. Mereka ini hanya pegawai kacangan, tapi gepokan uangnya bergelimpangan.
Setelah Gayus Tambunan dikandangi bersama “konco-konco”-nya tersebut di atas, publik berpikir bahwa takkan ada lagi “thuyul-thuyul” di Ditjen Pajak. Ternyata dugaan itu meleset. Ulah Handang Sukarno yang pejabat eselon III Ditjen Pajak itu telah meluluh-lantakkan kepercayaan publik. Ternyata dia masih juga mau jadi “generasi penerus” Gayus Tambunan.
Dilihat dari namanya, sangat dimungkinkan bahwa orangtuanya dulu sangat berkeingian Handang ini jadi tokoh handal seperti Sukarno pendiri republik. Jujur, pemberani dan setia pada cita-cita bangsanya. Tapi ternyata, sudah diberi nama “sukarno” eh tergoda pula oleh tumpukan uang bergambar Presiden Sukarno. Bung Karno bilang “viveri-veri coloso” (nyerempet bahaya), Handang Sukarno nyerempet-nyerempet bahaya pula dengan berani terima suap Rp 1,3 miliar.
Bagi Gayus Tambunan maupun para “generasi penerus”-nya sangat tahu persis bahwa kebanyakan orang Indonesia ini pengin jadi “Wong Samin” di Blora atau Ngawi sana. Tapi “Wong Samin” dulu tak mau bayar pajak sebagai bentuk perlawanan pada penjajah Belanda. Sedangkan “Wong Samin” di masa sekarang justru ogah membayar pajak pada negeri sendiri. Nah, Gayus Tambunan beserta para “generasi penerus”-nya mencoba memanfaatkannya. Kata mereka kurang lebih begini, “Bapak-bapak bisa bayar pajak lebih murah lewat saya, tapi harus pengertian dong!”
Pajak itu ketika masih kecil, orang tidak sayang untuk membayarnya, misalnya PBB dan STNK mobil/motor. Tapi setelah menjadi besar hingga berjumlah ratusan juta, miliaran bahkan triliunan, banyak orang melarikan dananya ke luar negeri untuk menghindari pajak tinggi. Karenanya kini pemerintah gencar menggelar Tax Amnesty. Sayangnya, manusia seperti Handang Sukarno dan “konco-konco”-nya justru mengkianati missi dan program instansinya sendiri. (Cantrik Mataram).





