MELALUI BPTK (Biro Pengerahan Tenaga Kerja) PT. Wisnu Sariawan, Pendawa Lima diberangkatkan ke Wirata dengan pesawat terbang. Kenapa BPTK itu memilih nama Wisnu Sariawan, sebab pemiliknya memang anak bungsuĀ (wisnu = wis ora nganu) dan cari tenaga kerja di medsos sampai nyinyir, kemudian terkena sariawan.
Raja negeri Wirata, Prabu Matswapati, kebetulan masih membutuhkan banyak TKW (Tenaga Kerja Wayang); sehingga Wijakangka, Bima, Kendi Wrehatnala dan Darmagati beserta Tantripala pun segera memperoleh majikan yang pasti. TKW Wijakangka ditugaskan di bagian Perpustakaan Kerajaan Wirata. Darmagati dan Tantripala yang masih di bawah umur diberi kepercayaan jadi tukang gembala kuda dan sapi. Bima ditampung oleh Jagal Walakas, sehingga diberi nama Jagal Abilawa. Sedangkan Kendi Wrehatnala; sesuai dengan ujudnya yang kebencong-bencongan, dijadikan juru rias putri-putri Wirata.
“Kalian dikontrak dulu ya, selama 2 tahun. Nanti kalau kerjanya bagus, baru diangkat jadi pegawai tetap….” jelas Prabu Matswapati ketika TKW Keluarga Pendawa itu dipersilakan menghadap.
Prabu Matswapati, sama sekali tak mengetahui bahwa keenam TKW baru itu adalah Keluarga Pandawa yang sedang menyamar. Karenanya, tak ada perlakuan istimewa kepada Dewi Kunti beserta anak-anaknya itu.
Di saat Prabu Matswapati menerima TKW-TKW baru itu, sesungguhnya Kerajaan Wirata sedang dilanda kemelut. Adik ipar Matswapati, yakni Kencakarupa – Rupakenca, ada ambisi menggulingkan raja secara halus. Mereka menantang putra-putra Wirata, yakni Utara dan Wratsangka, untuk mengadu jago dengan taruhan tanah.
Karena Rajamala sebagai jago Kencakarupa – Rupakenca benar-benar peng-pengan (hebat), putra-putra Wirata kalah melulu. Tanah-tanah kerajaan, dari yang sudah disertifikat maupun masih girik bodong, banyak yang dikuasai Kencakarupa bersaudara. Bahkan kapling-kapling di real estate yang belum sempat dibangun, ludes pula pindah tangan. Bila tanah kompleks istana kerajaan itu juga dipertaruhkan, tinggal selangkah lagi Kencanakarupa – Rupakenca menggulingkan Prabu Matswapati.
“Wijakangka, sebagai petugas perpustakaan, barangkali kamu menemukan literatur, di mana ada jago top? Berapa saja sewanya akan saya bayar untuk mengalahkan Rajamala,” kata Utara suatu saat ketika memanggil Wijakangka.
“Kalau mengandalkan buku, dari yang asli maupun bajakan, nggak bakalan ada. Adik saya sendiri. Jagal Abilawa, barangkali bisa memenuhi harapan sampeyan,” jawab Wijakangka sambil buka kacamatanya yang minus delapan.
Wijakangka segera menelepon adiknya di rumah Kyai Jagal Walakas. Ternyata Bratasena yang sedang nyamar itu masih tidur mendengkur, kebanyakan gaple semalam. Berulangkali Jagal Walakas membangunkan, tapi Abilawa tetap ogah-ogahan. Tapi setelah diberi tahu yang telpon Wijakangka, dia langsung bangkit dan berucap mana dia?
“Dimas Abilawa, ada obyekan nih. Berantem melawan Rajamala berani nggak, honornya cukup untuk modal bandar buntutan,” teriak Wijakangka di seberang, ketika teleponnya diangkat Abilawa.
“Sebetulnya gue males, tapi karena yang memerintahkan Kakanda Wijakangka, okelah!” sahut Abilawa sambil membanting gagang telepon,Ā gusrak!
Legalah Utara dan Wratsangka selaku promotor merangkap manajer, ketika Abilawa bersedia diadu melawan Rajamala jago Rupakenca – Kencakarupa. Yakin akan kemenangannya kelak, putra-putra Wirata itu pasang taruhĀan tak tanggung-tanggung. Kerajaan Wirata akan diserah-kan kepada Kencakarupa-Rupakenca bila Rajamala berha-sil menewaskan Abilawa, petinju kelas berat versi WBC (Wirata Boxing Council) itu.
Pada hari yang ditentukan, Abilawa – Rajamala naik ring. Meskipun bobot mereka sekitar 150 Kg, berarti di atas ketentuan petinju kelas berat, karena cuma dalam Wayang Semau Gue ya jalan terus. Sebagai tokoh andalan, Abilawa tak mengecewakan. Tidak sampai ronde keempat, Mike Tyson van Wirata yang pakai doping serabi 10 biji itu berhasil menewaskan Rajamala.
“Horeee, gue menang….!” pekik Abilawa berjingkrak-jingkrak tanpa ada yang mengangkatnya. Maklum bobotnya terlalu berat.
Kegembiraan Abilawa cuma sesaat. Sebab Rajamala yang telah koit dengan perut amburadul terkena tusukan kuku Pancanaka, setelah diceburkan ke empang pemandi-ngan, langsung hidup kembali. Begitu seterusnya. Asal Rajamala tewas, setelah dicelup kembali hidup lagi. AbilaĀwa jadi kewalahan.
“Payah Abilawa letoy kena suap lu….!” teriak penonton tidak puas.
Kendi Wrehatnala yang nonton tinju itu, prihatin sekali Abilawa kakaknya terpojok. Tokoh bencong yang dulu kenal baik dengan Dorce ini segera minta tolong para punakawannya untuk menyiasati Sendang Penguripan (empang penghidupan) milik Kencakarupa Cs. Maka Semar dan anak-anaknya menyamar jadi tukang ketoprak dan menjajakan dagangannya pada para Hansip penjaga empang keramat tersebut. Seusai para Hansip makan, Petruk minta izin mencuci piring di empang itu.
“Boleh, tapi saya minta kerupuknya satu, ya?” ujar Hansip yang coba-coba mengkomersilkan jabatan.
Saat mencuci piring secara diam-diam Petruk memasukkan senjata Bramasta milik Kendi Wrehatnala. Sreng, sreng, begitu bunyinya, mirip suara petugas kantin bikin telur ceplok. Karena kekenyangan, para Hansip tak peduli pada suara yang mencurigakan. Mereka terus saja asyik memain-kan tusuk gigi di mulutnya.
Siasat Kendi Wrehatnala memang jitu. Terbukti ketika Rajamala berhasil ditewaskan Abilawa lagi, ketika dimasukkan ke dalam Sendang Penguripan bukannya hidup kembali, malah mblonyot (hancur). Makin lama direndam, makin tinggal tengkorak. Tewaslah sudah Rajamala yang dulu pernah terkena rajasinga itu!
Di saat Abilawa mengenakan sabuk kemenangan plus mengantongi honor tinjunya, tiba-tiba Kencanakarupa promotor Rajamala langsung saja menyerbu Abilawa untuk dibinasakan. Sebenarnya Abilawa hendak melawan, tapi diperintahkan menghindar oleh Wijakangka.
“Udah menang cabut saja. Kalau dilayani salah-salah modalmu habis, Abilawa….!” teriak Kabag Perpustakaan di Wirata itu.
Abilawa pun segera kabur, menghindari Kencakarupa yang mengamuk kesetanan. Mencari taksi yang onlin-onlin lewat HP, tak ada yang merespon. Buru-buru Abilawa nyetop Bajaj, yang ternyata juga dikejar Kencakarupa dengan naik Bajaj pula. Dasar sial, tiba di daerah Kramat Jati, terjebak macet pedagang ikan. Terpaksa Abilawa loncat dan masuk Matahari Departement Store. Wayang-wayang yang sedang naik eskalator untuk pergi belanja, ditabrak tanpa ampun.
Kencakapura benar-benar kehilangan jejak. Untung dia tahu penyakit Abilawa ini, yakni tidak bisa jongkok. Maka promotor tinju yang sableng itu segera minta tolong wayang pramuniaga untuk mengumumkan instruksinya.
“Berhubung ada bahaya udara, ibu-ibu dan bapak-bapak wayang yang sedang belanja diminta jongkok untuk barang lima menit!”
Ternyata Abilawa sudah merat (kabur) dari lantai 2 melalui lift. Di saat Kencakapura celingukan mencari buruannya di sela-sela barang dagangan, dia melihat ada wayang perempuan tetap enak saja berdiri di los kosmetik.
“Hai, kenapa kamu tidak jongkok. Para pramuniaga saja patuh pada perintahku, kenapa kamu tidak,” tegur Kencaka-pura ketus.
“Maaf Oom, rok span saya terlalu pendek, nanti Oom keasyikan dong..,.!”
Merah padam muka Kencakarupa. Ketika ditanya wanita itu mengaku Endang Malini,TKW-nya Dewi Utari yang sedang disuruh beli livenstip dan Intex. Melihat kecantikan TKW itu, apalagi betisnya begitu mulus macam punya peragawati, jantung Kencakarupa endut- endutan jadinya.
“Sssst, nomer WA-mu berapa sih Nduk?” kata Kencaka-pura bisik-bisik, melupakan buruannya yang utama.
āSaya nggak main WA Oom, masih pakai HP jadul Nokia 3310ā¦.,ā jawab Endang Malini yang pernah ke Malino (daerah Gowa, Sulsel) itu.
Tiba di keputren Wirata, Endang Malini bercerita kepada Dewi Utari bahwa baru saja ditaksir oleh Kencakarupa. Ucapan TKW centil ini tidak bohong, sebab tak lama kemudian Kencakarupa memang datang pakai sedan Kijang Inova yang masih profit. Tanpa malu-malu promotor tinju yang celamitan itu minta kepada Dewi Utari agar Endang Malini diserahkan untuk diperistri.
“Buat gue aja deh. Sayang kan, cantik-cantik begitu cum ajadi TKW. Soal komisi, Utari tahunya beres deh..,.!” bujuk Kencakapura.
Belum juga selesai membujuk, tiba-tiba muncul Endang Malini yang bikin jantungnya empot-empotan itu.Tanpa sungkan wayang cantik itu dikejar, dirungrum (dirayu) agar mau diperistri. Karena Endang Malini tetap saja menolak, Kencakarupa jadi tak sabar lagi. TKW-nya Dewi Utari itu dipeluk untuk dingok barang sekali.Sayang, Endang Malini berkelit dan menyelamatkan diri dengan loncat jendela.
“Ganas amat, Oom. Bini baru melahirkan, ya?” sindir Malini sambil membetulkan kainnya yang melorot karena ditarik paksa Kencakarupa.
Di luar taman keputren Abilawa melihat tindakan tak terpuji Kencakarupa, tak sabar lagi. Adik ipar Prabu Matswapati ini diterjang dan ditusuk kuku Pancanakanya hingga tewas. Untuk pengawan-ewan (mempermalukan) jenazahnya dilemparkan dan jatuh tepat di hadapan Rupa-kenca adiknya. Melihat jenazah kakaknya Rupakenca jadi naik pitam. Dia segera mencari Abilawa untuk dibinasakan.
Bagi Abilawa, perlawanan Rupakenca ini soal encer. Begitu tertangkap tokoh pemberontak di Wirata itu langsung dihantamkan ke tiang listrik sampai koit. Utara dan Wratsangka melihat musuh orangtuanya itu telah tewas, berjingkrak-jingkrak macam dapat hadiah sepeda dari Presiden.
Abilawa dan saudara-saudaranya segera dibawa menghadap prabu Matswapati, Raja Wirata ini marah sekali, karena baru beberapa minggu jadi TKW Abilawa telah membunuh kedua adik iparnya. Sebagai sanksinya, AbilaĀwa mau dihukum gantung sampai mati. Tapi berkat imbauan Utara dan Wratsangka beserta instansi-instansi resmi, hukuman dibatalkan. Apalagi setelah diberi tahu bahwa mereka adalah Keluarga Pendawa. (Ki Guna Watoncarita)



