Gejala dan Faktor Risiko Bayi Lahir dengan Penyakit Jantung Bawaan

0
183
Foto : Ilustrasi

JAKARTA – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan pada struktur dan fungsi jantung yang didapat sejak anak masih berada di dalam kandungan. Kelainan ini dapat terjadi pada dinding jantung, katup jantung, maupun pembuluh darah yang ada di dekat jantung.

Akibatnya, dapat terjadi gangguan aliran darah di dalam tubuh pasien. Misalnya, terjadi sumbatan aliran darah, atau darah mengalir ke jalur yang tidak semestinya.

Gejala PJB tergantung dari usia penderita. Misalnya, pada bayi baru lahir yang terkait aktivitasnya menyusu akan terputus-putus, berkeringat, muntah. Jika menemukan gejala jnk

Sementara pada balita prasekolah dapat terlihat dari keterbatasannya beraktivitas. Orang tua dapat melihat apakah anak tak melakukan aktivitas seperti anak-anak usia sebayanya seperti berlarian. Jika menemukan hal ini, maka perlu curiga ada masalah pada anak.

“Kalau remaja bisa ditanya apakah ada sesak, nyeri dada, gangguan pada aktivitas, kalau tidur malam berapa bantal,” ujar Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), dr Radityo Prakoso SpJP(K) FIHA, dilansir dari Antara,  Rabu (28/9/2022).

Radityo mengatakan, anak-anak yang sering masuk rumah sakit dengan pneumonia atau infeksi saluran napas bawah perlu dicurigai menderita PJB.

Menurut dia, pasien dengan PJB umumnya datang ke IGD dengan gejala gagal jantung, cardiogenic shock, gangguan irama jantung, respiratory distress, gangguan saluran napas bawah atau riwayat batuk panas berulang.

“Kalau pasien dengan penyakit jantung bawaan tidak ditatalaksana dengan baik, akan terjadi komplikasi antara lain gangguan vaskular, gagal jantung dan akhirnya pada kematian,” kata dia.

Faktor Risiko

Radityo menyebutkan sejumlah faktor risiko bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB), salah satunya konsumsi antiobiotik oleh sang ibu saat dia mengandung.

“Antibiotik sangat-sangat tidak dianjurkan dikonsumsi pada wanita hamil pada masa pembentukan yaitu pada trimester pertama,” ujarnya.

Selain antibiotik, Radityo juga mengatakan bahwa usia wanita saat hamil dapat menempatkan bayinya berisiko terkena PJB. Menurutnya, semakin tua usia wanita saat hamil, semakin dia berisiko melahirkan bayi dengan penyakit jantung bawaan.

Faktor risiko lainnya termasuk paparan asap rokok terutama saat janin berada di trimester pertama, konsumsi minuman beralkohol oleh ibu, genetik walaupun kontribusinya tidak terlalu besar, serta infeksi selama wanita hamil.

“Wanita dengan kehamilan sangat rentan terkena infeksi dan berakibat fatal bila terjadi di trimester pertama,” tuturnya.

Radityo menambahkan, sebenarnya faktor-faktor risiko ini dapat dideteksi melalui skrining premarital. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya pemeriksaan ini, termasuk demi mendeteksi adanya kelainan metabolik orangtua.

Selama kehamilan, calon ibu juga dapat menjalani pemeriksaan ultrasonografi terhadap jantung janin atau fetal echo. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada usia kehamilan 18-22 minggu.

Berikutnya skrining pada bayi baru lahir bila seandainya tidak terlihat tanda-tanda janin mengalami PJB saat dalam kandungan.

“Caranya, menilai kadar oksigen atau saturasi pada tangan kanan dan kaki. Kemudian, lihat biasanya bayi baru lahir dengan menangis, tetapi kalau bayinya lahir tidak menangis, tampak kebiruan ini kita harus curiga apakah ini menderita penyakit jantung bawaan,” kata Radityo.

Dia menambahkan, menurut data penyakit jantung bawaan diderita sekitar 80.000 bayi yang lahir setiap tahunnya dan seperempat dari bayi ini menderita PJB kritis yang membutuhkan intervensi berbasis bedah dalam satu tahun pertama.

“Keterlambatan diagnosis menjadi masalah atau dapat berakibat fatal bila berhubungan dengan luaran yang buruk. PJB akan menyumbang sekitar 200.000-300.000 kematian,” ujar Radityo.

Advertisement div class="td-visible-desktop">