
PEMILU yang digelar untuk ke-13 kalinya di negara tetangga, Singapura, Jumat lalu (10/7) seperti diduga sejak semula, dimenangkan lagi oleh petahana Partai Aksi Rakyat (PAP) pimpinan PM Lee Hsien Loong.
Walau meraih 61,2 persen suara, Lee kecewa, karena terjadi penurunan dibandingkan perolehan suara pada pemilu sebelumnya (2015) yakni 69,9 persen.
Jumlah perolehan kursi PAP dalam pemilu kali ini sama dengan pemilu 2015 yakni 83 kursi, tetapi pada 2020 total jumlahnya 93 kursi, sedangkan pada pemilu 2015 berjumlah hanya 89 kursi.
Kubu oposisi yang diwakili oleh Partai Pekeja (WP) tampil sukses dalam pemilu kali ini dengan merebut 10 kursi atau naik empat kursi dibandingkan enam kursi yang diraihnya pada pemilu 2015.
Kemenangan tipis (53,4 persen) Wakil PM sekaligus Menkeu Heng Swee Kiat yang digadang-gadang sebagai penganti Lee di daerah pemilihan (dapil) wilayah East Coast juga mengindikasikan mulai terancamnya dominasi PAP dalam kepemimpinan di negeri itu selanjutnya.
Dari hasil perolehan suara itu kemungkinan terjadi perubahan atas rencana Lee yang sudah malang melintang dalam sembilan kali Pemilu untuk pensiun dari panggung politik pada 2022 nanti.
Di sisi lain, pemilu kali ini juga menunjukkan naiknya pamor Lee Hsien Yang, adik kandung Lee Hsien Loong atau sama-sama anak pendiri Singapura, alm. Lee Kuan Yew.
Partai Kemajuan Singapura (PSP) besutan 2019 pimpinan Lee Hsien Yang di dapil West Coast hanya kalah tipis (3,38 persen) dari perolehan suara PAP.
Pemilu 2020 atau ke-13 kalinya diikuti 11 kontestan, namun hanya petahana Partai Aksi Rakyat (PAP) yang selalu keluar sebagai pemenang mengajukan calonnya di seluruhnya 31 dapil.
 Ikut Sembilan Kali
Bagi PM Lee Hsien Loong yang juga menjabat Sekjen PAP dan sudah menjadi anggota partai sejak 1984, pemilu 2020 merupakan kesertaan ke-9 kalinya anak sulung Lee Kuan Yew, pendiri negara pulau tersebut yang merdeka pada 1965.
Sedangkan putera bungsu mendiang Lee Kuan Yew, Lee Hsien Yang yang saat ini memimpin Partai Kemajuan Singapura (PSP) mengundurkan diri sebagai caleg dengan alasan tidak ingin menjadi bagian dinasti kepemimpinan Singapura.
“Singapura tak memerlukan tambahan (politisi dari keluarga-red ) Lee, “ katanya seraya menambahkan, pemimpini sepantasnya tidak hanya dari satu orang atau keluarga karena fakta menunjukkan, politik dinasti menciptakan pemerintah yang buruk.
PM Lee menyebutkan, hasil pemilu kali ini menunjukkan keinginan kuat pemilih pada keragaman perolehan suara, dan keinginan kaum milenial pada kehadiran lebih banyak oposisi.
Hal senada disampaikan pakar politik National University of Singapore, Ericssen yang menyebutkan pemilu 2000 merepresntasikan sikap kelompok milenial yang tidak memiliki memori kuat atau ikatan emosinal dengan sosok pendiri Singapura, Lee Kuan Yew.
Dengan pendapatan per kapita 48.595 dolar AS atau salah satu negara termakmur di dunia, juga hukumnya sangat tertib, suksesi kepemimpinan di Singapura agaknya tak berpengaruh banyak bagi stabilitas politik dan ekonominya. (AFP/Reuters/NS).




