Geliat Perdamaian di Semenanjung Korea

Presiden Korut Kim Jong Un diam-diam melawat ke China,(26- 28 Maret) kemungkinan berkoordinasi menjelang KTT Korsel, Korut dan AS di Korsel awal April ini

GELIAT perdamaian di Semenanjung Korea agaknya masih pada jalurnya sekembalinya Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dari lawatan diam-diam ke China, 26 -28 Maret lalu.

China seolah-olah mewakili tetangga dan mitranya Korut, menyatakan komitmen Pyongyang terkait program perlucutan senjata nuklir (denuklirisasi) dan kesiapan negara benteng komunis terakhir itu untuk berunding dengan AS.

Pernyataan pemerintah China itu justeru baru disampaikan pada pers setelah Jong Un meninggalkan Beijing dalam lawatan pertama sejak ia memegang kekuasaan di Korut pada 2011.

Sepekulasi kehadiran Jong Un mencuat dari kesibukan tidak biasa aparat keamanan di stasiun KA Beijing dan di sekitar penginapan tamu negara Diaoyutai yang juga pernah diinapi ayah Jong Un, Presiden Kim Jong Il saat melawat ke China.

China bagi Korut tidak sekedar tetangga, tetapi lebih dari itu, pendukung setia Korut menghadapi tekanan internasional dan juga mitra ekonomi utamanya.

China juga mengorbankan sekitar 145.000 ribu nyawa prajuritnya yang ikut terjun membantu Korut dalam Perang Korea antara 1951 dan 1953.
Pengamat menilai, lawatan Jong Un ke China merupakan bagian persiapan negara itu dalam pertemuan dengan seterunya, Korsel dan AS yang akan digelar di Korsel awal April.

Butuh China
Profesor Han Suk-hee dari Universitas Yonsei, Korsel menilai, lawatan Jong Un ke Beijing menunjukkan bahwa Korut agaknya belum siap untuk berunding langsung dengan AS tanpa dukungan sekutu abadinya, China.

Rencana pertemuan itu sendiri merupakan bagian pendekatan yang dilakukan kedua bangsa serumpun itu menjelang Olimpiade Musim Dingin di PyeungChang, Korsel, 9 – 24 Februari lalu.

Hangatnya sambutan yang diberikan kepada kontingen Korut, kemudian berbalas kunjungan pejabat tinggi Korsel ke Pyongyang yang juga disambut hangat oleh Jong Un.

Masih terlalu pagi untuk menyimpulkan perdamaian di anak benua ini bisa diwujudkan, namun paling tidak, sementara ini tidak tedengar kegaduhan akibat saling ancam, saling tuduh atau saling maki antara keduanya.

Selama ini Korut tetap bergeming untuk meneruskan uji coba rudal balistik dan nuklir yang mengancam Korsel, Jepang, bahkan disebut-sebut mampu menjangkau kota-kota di AS.

Sanksi embargo ekonomi yang dikenakan internasional juga tidak digubris, karena Korut selama ini juga masih dibantu oleh China dan juga Rusia.

Pihak Korsel sendiri menilai, perkembangan berjalan cepat di luar perkiraan banyak pihak, sehingga tidak bijaksana untuk berprasangka.

Mungkin itu kata kuncinya. Biarkan proses perdamaian berlangsung secara tulus dan alami .

Advertisement