MENYUDAHI konflik Suriah bagaikan mengikhtiarkan kesembuhan bagi pasien pengidap penyakit kronis, akut dan menahun. Selain perlu dicobakan berbagai racikan dan formula obatnya, tabib atau dokternya juga bisa gonta-ganti.
Konferensi Damai Suriah yang disponsori Iran, Rusia dan Turki, digelar di Astana, ibukota Kazakstan (23/1) dengan agenda untuk mengokohkan gencatan senjata yang sudah dicapai (29 Des. ‘16), membuka dialog antara kubu rezim petahana di bawah Presiden Bashar al-Assad dan kubu Tentara Pembebasan Suriah (FSA), serta untuk memerangi teroris.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan internal antara kubu loyalis al-Assad dan kubu perlawanan yang tergabung dalam FSA , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh negara-negara sekitarnya dan juga “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia) serta konspirasi politik sektarian.
Perebutan pengaruh di kawasan terjadi antara Arab Saudi dan Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain, sementara dari kelompok sektarian terjadi perebutan pengaruh antara paham Syiah dan Sunni.
Dua juta warga Suriah hengkang, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, sekitar 12 juta kehilangan nafkah dan 320.000 korban tewas terperangkap di tengah konflik yang berkecamuk sejak sekitar lima tahun lalu.
Sejumlah pertemuan yang diprakasai PBB berujung kegagalan, karena terbentur isu utama yakni pro-kontra mengenai kelanjutan pemerintahan petahana pimpinan Bashar al-Assad.
FSA yang didukung negara-negara Barat menganggap rezim al-Assad adalah sumber persoalan sehingga harus dikesampingkan dalam setiap perundingan damai, namun sebaliknya, Rusia dan Iran ngotot mengajak rezim al-Assad dan bersikeras menganggap persoalan Suriah harus diselesaikan sendiri oleh rakyatnya.
Di belakang al-Assad
Rusia yang berpihak dan memasok senjata secara besar-besaran bagi Suriah untuk menghadapi Israel, ngotot mendukung rezim al-Assad karena negara beruang merah itu juga menganggap kemitraannya dengan Suriah sangat strategis, terutama terkait penempatan armada angkatan lautnya di Tartus, Suriah.
Konferensi Damai di Astana kali ini juga disangsikan akan mampu membuat kedua belah pihak yang bertikai, kubu rezim al-Assad dan FSA keluar dari jalan buntu, karena tidak seluruh kelompok perlawanan terwakili.
Front Fath al-Syam (sebelumnya bernama al-Nusra) dan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang tergabung dalam kelompok perlawanan tidak diundang pada pertemuan Astana karena mereka sudah dicap sebagai gerakan terorisme.
Salah satu sponsor pertemuan, Turki, juga menolak kehadiran wakil kubu oposisi lainnya dari kelompok milisi Kurdi (Unit Pelindung Rakyat – YPG) untuk dihadirkan dalam pertemuan Astana.
Kehadiran YPG sangat dilematis bagi Turki karena milisi Kurdi tersebut selain mitra, sekaligus juga musuh yang harus diperangi.
YPG berada di kubu kelompok perlawanan di Suriah yang dibantu Turki, tetapi di pihak lain harus diperangi dalam Operasi Perisai Eufrat yang dilancarkan untuk mencegah pembentukan pemerintah Kurdi Raya di wilayah Afrin dan Kobane, Suriah yang berbatasan Turki.
Turki yang sejak semula berada di kubu pendukung kelompok perlawanan dukungan Barat, tidak lagi mempersyaratkan lengsernya al-Assad dalam perundingan damai, karena menganggap hal itu tidak realistis lagi.
Tidak banyak yang bisa diharapkan dari pertemuan Astana. Pokoknya, yang penting usaha!(AP/AFP/Reuters/NS)
,





