Gempa Aceh, Nelayan di Laut Menangis

Ilustrasi/ ugm.ac.id

ACEH – Saat gempa berkekuatan  6,5 skala richter mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, salah satu nelayan Ramli (32) merasakan detik-detik gempa tersebut di tengah laut dan menangis karena takut akan dilanda tsunami dan ingat akan keluarga di darat.

“Saya lagi di laut, terasa bergetar sekali waktu itu. Kapal terasa klepek klepek seperti ayam di potong,” kata Ramli di pesisir pantai Pidie Jaya.

Ia merasakan gempa yang cukup dahsyat di atas lautan dan ketakutan akan terjadi tsunami seperti tahun 2004 lalu. Karena itu, ia langsung memutar haluan dan kembali ke darat. Ia ingin mengetahui keadaan di darat ketika gempa tersebut terjadi.

“Saat itu saya masih dalam perjalanan satu malam, rencananya mau perjalanan dua malam menginap di laut. Tapi karena kejadian kayak gitu, apa yang ditunggu lagi? Saya langsung putar kapal, dan kembali ke rumah. Menengok keluarga saya,” ujarnya

Saat itu Ramli menceritakan, sepanjang perjalanan balik matanya terus mengeluarkan air mata. Karena memikirkan nasib anggota keluarganya yang berada di rumah. Kecepatan kapal yang saat itu sudah maksimal masih terasa lambat baginya.

“Saya ingin secepatnya sampai ke rumah, melihat keadaan keluarga saya. Saya sangat khawatir. Takut terjadi apa-apa sama mereka,” ujar Ramli, dilansir viva.co.id, Sabtu (10/12/2016).

Ketika sampai dirumah ia  kaget melihat seisi rumah hancur luluh lantak, dan keluarganya tak berada di rumah.

“Di situ saya panik, bingung cemas. Apa keluarga saya selamat atau tidak, perasaan saya campur aduk jadi satu,” ujarnya

Ia langsung menuju posko pengungsian terdekat. Betapa bahagianya ia menemukan anak dan istrinya dalam keadaan selamat. “Beruntung keluarga masih diberi keselamatan, mereka tak mengalami luka sedikit pun,” ujarnya

Ramli mengatakan baginya keluarga adalah hal yang paling utama dibandingkan segalanya. “Saya tidak peduli biarpun saya harus pulang dari melaut, bagi saya keluarga adalah hal yang terpenting,” ujarnya

Sampai saat ini, Ramli masih belum bisa menentukan kapan ia akan kembali melaut. Ia menunggu kondisi alam stabil dan normal kembali. “Belum tentu, keadaan enggak mengizinkan gini. Kalau sudah aman kira-kira seminggu lagi lah (kembali melaut),” ujarnya.

Advertisement