GUNUNG KIDUL – Gempa bumi 5,8 SR yang melanda Gunungkidul, Rabu (29/08/2018) dini hari terjadi akibat aktivitas Lempeng Indo-Australia dan tergolong gempa berkedalaman dangkal.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (Thrust Fault).
Dampak gempabumi berdasarkan shakemap BMKG dan laporan masyarakat menunjukkan guncangan dirasakan di daerah Bantul II SIG-BMKG (III MMI), Yogyakarta Karanganyar, Karang Kates II SIG-BMKG (II-III MMI). Getaran juga dirasakan di Purworejo, Trenggalek, Wonogiri I SIG-BMKG (II MMI), Sawahan, Banjarnegara dan Magelang I SIG-BMKG (I-II MMI).
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan juga menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami,” tegas Rahmat Triyono, dikutip KRjogja.
Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.





