TASIKMALAYA – Ditinjau dari zona seismogeniknya, BMKG menilai gempa 5,1 SR di Tasikmalaya Jumat (15/7/2016) dinihari termasuk langka.
“Peristiwa gempa bumi di luar zona subduksi memang tergolong langka. Di selatan Jawa, gempa bumi semacam ini pernah terjadi pada 11 September 1921 dengan kekuatan 7,5 SR,” tulis BMKG lewat akun twitter @info BMKG.
“Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal di luar zona subduksi (outer rise), sehingga gempa bumi ini menarik bagi para ahli kebumian,” tulisnya lagi.
BMKG menerangkan, jika memperhatikan letak episenternya, pusat gempa bumi ini berasosiasi dengan dinamika tektonik di zona outer rise selatan Jawa yang mengalami tarikan Lempeng Indo-Australia di luar zona subduksi.
Diberitakan Tribun Jabar, guncangan gempa dirasakan hingga Krui, Lampung dan di timur hingga Taliwang, Sumbawa. Bahkan di wilayah antara Cilacap dan Blitar dilaporkan banyak bangunan tembok mengalami retak-retak dan roboh.
Menurut Soloviev dan Go (1984), gempabumi outer rise Jawa 1921 memicu terjadinya tsunami kecil yang teramati di Parangtritis hingga Cilacap.
“Patut disyukuri bahwa meskipun gempa bumi ini berpusat di laut dengan mekanisme sesar turun, tetapi gempa bumi yang terjadi pada dinihari tadi tidak menimbulkan tsunami, karena kekuatannya tidak mendukung adanya perubahan dasar laut yang signifikan untuk memicu terjadinya tsunami,” tulis BMKG.
Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam pasca gempa bumi belum terjadi gempa bumi susulan. Untuk itu masyarakat pesisir selatan Pulau Jawa diimbau agar tetap tenang mengingat gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami.





