JAKARTA (KBK) – Berdasarkan data World Bank, dalam 15 tahun terakhir Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pencapaian itu telah mengurangi tingkat kemiskinan dan memperbesar jumlah kelas menengah.
Namun manfaat dari pertumbuhan tersebut lebih dinikmati oleh 20 persen masyarakat terkaya. Sekitar 80 persen penduduk atau lebih dari 205 juta orang Indonesia rawan tertinggal. Fenomena ini juga membuat tingkat ketimpangan di Indonesia relatif tinggi dan naik lebih pesat dibanding banyak negara Asia Timur lain.
“Dari problem diatas generasi milenial berpotensi mendapatkan suatu kesempatan bersejarah menjadi generasi bersama dalam sejarah umat manusia yang bisa menghapuskan selamanya kemiskinan sepanjang masa. Ini suatu momen penting yang harus kita ambil,” ucap Dino Patti Djalal Direktur Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dalam acara Supermentor16, di Jakarta, Senin malam (17/10/16).
Dengan mengangkat tema kemiskinan, Dino optimis bahwa kemiskinan secara global dapat dientaskan pada tahun 2030 mendatang dengan cara mempersempit ketimpangan.
“Kalau pun meleset tidak apa-apa asalkan masih terjadi di generasi kita (milenial),” kata Dino.
Kepala Perwakilan Bank Dunia Rodrigo Chaves yang hadir sebagai pembicara di acara Supermentor16 menggarisbawahi dan menekankan betapa pentingnya pengurangan ketimpangan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
“Bank dunia telah memperoleh laporan ketimpangan, laporan tersebut menunjukan bahwa dunia sedang membuat kemajuan ke arah tujuan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kemakmuran bersama meski masih ada tantangan penting,” ujar Chaves.
Chaves mengatakan di dunia tingkat kemiskinan ekstrem terus menurun, namun jumlahnya masih cukup tinggi. Selain itu Chaves juga mengingatkan untuk perlunya melawan ketimpangan dengan perbagai program edukasi dan pemberdayaan.





