JIKA ada raja dunia perwayangan terkena hukum karma, salah satunya adalah Prabu Basudewa dari Mandura. Dia suka mengganggu bini orang, akhirnya salah satu istrinya yang bernama Dewi Maerah, juga gantian didhemeni (diselingkuhi) wayang lain, raja raksasa dari negeri Sengkapura. Tapi sesungguhnya Dewi Maerah berbuat mesum tidak sadar, karena yang ada di depan matanya adalah asli Prabu Basudewa. Padahal dia adalah penjelmaan Prabu Gorawangsa, yang selama ini begitu gandrung akan kecantikan Dewi Maerah. Ketika Dewi Maerah sadar apa yang telah terjadi, skor sudah kadung 2-0.
Adalah Demang Antyagopa, PNS di bagian Kesra kerajaan Mandura. Usianya sudah oversek (over seket = lebih dari 50 tahun), tapi punya istri berusia 25 tahun, Emban Sagopi pegawai istana. Bayangkan 50 versus 25, dalam urusan ranjang ya tekor terus! Si emban masih siap sampai ronde ke-10, tapi Demang Antyagopa baru ronde ke-3 sudah KO.
“Ayo bang, masih ada 7 ronde lagi. Kalau perlu pakai partai tambahan,” rengek emban Sagopi.
“Nyerah dah! Maklum, aku sudah tidak lagi rosa-rosa macam Mbah Marijan.” Jawab demang Antyagopa dengan napas tersengal-sengal.
Gara-gara ini, emban Sagopi jadi sering kesepian. Kesepian di tempat ramai. Rupanya Prabu Basudewa yang kala itu baru berusia 35 tahun, menangkap gerak-gerik misteris pegawai istananya. Dasar dia lelaki mata keranjang, kenapa tak dimanfaatkan saja? Bukankah raja harus selalu mencukupi kebutuhan kawula-nya? Motto “paring sandang marang kang kewudan” apa salahnya dibalik jadi: tarik sandangane ben kewudan (tari bajunya sampai telanjang).
Bagi emban Sagopi yang memang kesepian, dilirak-lirik Prabu Basudewa justru merupakan keberuntungan. Ini kan ibaratnya orang ngantuk disorong bantal. Lagi pula merupakan kebanggaan tersendiri bagi kawula kerajaan, jika menerima “bibit unggul” dari lingkaran istana. Dikencani para pangeran saja senang sekali, apa lagi ini rajanya langsung.
“Tapi ini menjadi rahasia kita berdua lho ya. Nanti kamu bisa ambil apartemen di “Mandura Permai”, ingsun yang mbayar cicilannya.” Kata Prabu Basudewa.
“Masak, raja Mandura kok beli apartemen nyicil?” jawab emban Sagopi heran.
Demikinlah, raja Mandura ini belakangan memang suka blusukan diam-diam ke Widarakandang tempat tinggal demang Antyagopa. Maka sekian tahun kemudian bisa dilihat hasilnya, Patih Udawa yang di kemudian hari menjadi patih Dwarawati, tampangnya mirip-mirip Prabu Basudewa. Jikalau ada perbedaan hanyalah soal rejeki.
Seperti lazimnya raja dalam perwayangan, selain hobi berburu perempuan Prabu Basudewa juga punya kegemaran berburu hewan di hutan. Jika berburu bisa makan waktu lama, sampai berhari-hari. Kegiatan pemerintahan dikendalikan lewat WA saja, dengan patih Suraprabowo sebagai pelaksana. Dia boleh teken apa saja, kecuali persetujuan proyek. Sebab komisi 2,5 persen dari nilai proyek, bukan uang kecil.
“Itu sudah termasuk suap Boss, bisa diincar KPK.” Kata patih Suraprabowo mengingatkan.
“Itu kan di Indinesia. Di Mandura sini kan nggak ada KPK, adanya Cuma PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).” Jawab Prabu Basudesa mblubut (nekad) sekali.
Sudah menjadi rahasia publik, setiap ada harpitnas (Hari Kejepit Nasional) Prabu Basudewa pasti berburu ke hutan di kaki Gunung Mahendra. Kawula dan pejabat di negara lain juga mengetahuinya. Termasuk Prabu Gorawangsa, penguasa dari negeri Sengkapura. Kenapa dia begitu perhatian akan situasi negera tetangga? Apakah dia menaruh hormat pada Prabu Basudewa?
Bukan! Prabu Gorawangsa bukan tertarik pada Prabu Basudewa, tapi justru tertarik pada istri-istrinya. Yakni, Dewi Mahindra, Badraini, dan Maerah. Dari ketiga ini, yang bikin ngebet Prabu Gorawangsa justru istri ketiganya, Maerah. Dia istri terakhir Basudewa, yang cantik jelita, namanya pun mirip-mirip istri nabi si Humairoh (Siti Aisyah).
“Hai patih Suratrimantra, kalau saya naksir Dewi Maerah, kira-kira ada kans nggak ya?”
“Kans sih ada, tapi sudah tertutup, dia kan sudah dikawin Prabu Mandura. Mending naksir Vanesa Angel saja, Rp 80 juta semuanya beres”, jawab Suratrimantra.
“Enggak ah! Sayang, duit berjut-jut hanya untuk begituan. Terus terang ya, saya ngebety sama Maerah karena aku kepengin memperbaiki keturunan.” ujar raja raksasa itu mencoba konsultasi dengan kipatih.
“Itu ide yang bagus. Tapi paduka harus menyamar mirip Prabu Basudewa/” saran patih Suratrimantra sambil menyembah.
Sesuai rekomendasi Suratrimantra, Prabu Gorawongso segera menyamar sebagai Prabu Basudewa. Dengan pakaian kebesaran raja, langsung menuju taman keputren Mandura. Dewa Maerah tentu saja terkejut sekali, mengapa sang prabu yang baru saja pergi berburu selama dua hari sudah pulang? Katanya, kangennya ngepol pada sang istri. Bisa saja bikin rayuan gombal. Tapi karena Maerah sendiri juga sudah lama menderita malarindu, karenanya hasrat Prabu Basudewa yang menggebu-gebu itu segera dilayani hingga skor menjadi 2-0.
Tapi sial, belum juga ada “perpanjangan waktu” seperti layaknya main bola, mendadak tilam rum (kamar) digedor-gedor Satpam. Wah, repot betul. Mau bersembunyi di kolong, kagak muat. Mau naik ke plafon, takut jebol. Akhirnya Basudewa abal-abal itu kepalang basah harus pasang badan menghadapi Arya Prabu yang telah bersenjata.
“Ada apa Dimas? Kakanda kan baru ada keperluan, kenapa kamu nyelonong saja? Bikin kaco acara saja kamu…..,” Gorawongso yang mirip Basudewa itu marah sekali, padahal baru saja mendulang sukses.
“Aiyah, kamu kan cuma mirip Basudewa, kan? Mana mungkin Basudewa banyak panu, nggak miyayeni sama sekali” Aryaprabu main tuduh.
Ratu mirip Basudewa itupun digeledhah, tanpa kulanuwun. Ternyata betul, e-KTP-nya atas nama Prabu Gorawongso. Langsung saja raja Sengkapura itu dibuat bancakan, digebuki hingga tewas dan dibakar seperti korban kerusuhan Mei 1998. Prabu Basudewa demi mendengar skandal di taman keputren, segera pulang dan mempersingkat perburuannya. Sial betul prabu Basudewa, punya bini tiga ternyata satu punya PIL. Ditinggal pergi mbebedhag (berburu) di istana malah ‘dibedhog” (dinodai) orang.
Pemred koran dan teve segera dipanggil sang prabu, diajak makan-makan di restoran Padang. Habis itu lalu digelar konprensi pers, dengan pesan media massa dan elektronik dilarang memberitakan skandal tersebut. Barang siapa berani melanggar konsesus, SIUP-nya akan dicabut, dan wartawan dan Pemrednya dikandangi.
Di samping itu Prabu Basudewa juga memerintahkan kepada Dewi Maerah untuk menjalani test pisik, sejauh mana penodaan atas diri istri raja Mandura ini telah terjadi. Dan ternyata, tokcer juga ratu Sengkapura itu. Hanya dalam hitungan sebulan perut Maerah telah menggelembung dengan muatan janin di dalamnya. Saat di-USG (Ultra Sono Grafi) di Puskesmas, nampak bayi lelaki yang berwujud setengah buta (raksasa). Gawat nih, jika nanti menjadi buta galak solahe lunjak-lunjak bagaimana coba?
“Saya tidak sudi punya anak semi raksasa, maka mulai hari ini dhiajeng terpaksa dideportasi ke dalam hutan,” perintah Prabu Basudewa marah sekali.
“Kenapa Sinuwun setega itu? Saya kan nggak sengaja. Saya kira waktu itu Sinuwun sendiri, karena sepakterjangnya luar biasa, rosa-rosa seperti Mbah Marijan,” sindir Dewi Maerah.
“Mbuhhhhhh……!”
Sebetulnya sudah banyak yang melobi, termasuk Aryaprabu sendiri, bahkan pengacaranya. Tapi vonis Prabu Basudewa tak bisa diubah, sehingga Dewi Maerah tetap dibuang ke tengah hutan. Kecuali nanti jika 10 tahun ada perubahan perilaku, Maerah bisa dikembalikan ke publik. Namanya ini hukum alternatip.
Patih Sengkapura Suratrimantra mendengar berita tersebut segera mengadakan aksi tanggap darurat. Meski dalam hutan Dewi Maerah dapat tunjangan KSH (Kartu Sengkapura Hamil), seminggu Rp 600.000,- untuk anggaran kontrol di puskesmas dan persalinan nanti.
Saat bayi itu lahir, diberi nama Kangsadewa, sayang Dewi Maerah konduran (meninggal saat melahirkan). Bayi itu dipelihara Suratrimantra, di mana setelah dewasa nanti akan menjadi wayang radikal di Mandura, karena menuntut bagian negara Mandura sesigar semangka (separo), tanpa surat pelepasan hak lewat notaris. (Ki Guna Watoncarita).



