Gunung Api Erupsi Bareng, Dinamika Tektonik

Empat gunung berapi beraktivitas vulkanik sampai erupsi hampir secara simultan merupakan dinamika tektonik global, fenomena biasa. (foto: human initiatvie)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 7/9 – SEJUMLAH gunung api di Indonesia mengalami peningkatan aktivitas dalam beberapa hari terakhir, bahkan, beberapa di antaranya mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan.

Pada Minggu (6/9), sejumlah gunung api dilaporkan erupsi, di antaranya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) lewat akun Instagramnya @badan.geologi menjelaskan bahwa erupsi gunung api yang bersamaan bukan hal yang aneh.

Dalam unggahannya, Badan Geologi menjelaskan bahwa Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif.

“Beberapa gunung api dapat erupsi pada hari yang sama secara alami,” bunyi unggahan Badan Geologi, Senin (7/9).

“Ini tidak otomatis, atau  berarti ada satu fenomena besar yang menghubungkan semuanya,” sambung Badan Geologi dalam unggahannya.

Badan Geologi kemudian menjelaskan bahwa setiap gunung api di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Selain itu, erupsi merupakan aktivitas rutin dari gunung api.

Namun, erupsi tidak selalu dalam skala yang besar. Badan Geologi menjelaskan, yang terpenting diperhatikan adalah apakah aktivitas gunung api berubah signifikan dari pola normal sebelumnya.

“Erupsi beberapa gunung api yang terjadi pada hari yang sama merupakan aktivitas vulkanis yang alami dan tidak saling memicu satu dan yang lainnya,” bunyi kesimpulan Badan Geologi dalam unggahannya.

Dinamika tektonik

Sementara itu, ahli gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengatakan bahwa fenomena erupsi simultan pada sejumlah gunung api tersebut merupakan manifestasi dari dinamika tektonik global di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

“Fenomena erupsi simultan pada empat gunung api di Indonesia pada 6 September 2026, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu merupakan manifestasi dinamika tektonik global di wilayah ring of fire,” ujar Daryono dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Minggu (6/9).

Daryono menjelaskan bahwa Indonesia berada di zona konvergensi tektonik yang kompleks. Wilayah ini menjadi tempat bertemunya dan menunjamnya sejumlah lempeng bumi, termasuk Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina di bawah Lempeng Eurasia.

Meski keempat gunung api tersebut menunjukkanpeningkatan aktivitas dalam waktu yang relatif berdekatan, kondisi itu tidak berarti bahwa erupsi satu gunung memicu erupsi gunung lainnya.

Menurut Daryono, secara geologi tidak terdapat mekanisme berupa “jalur pipa” atau jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma (magma chamber) antargunung tersebut.

Erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan lebih berkaitan dengan kondisi masing-masing sistem vulkanik yang telah mengalami akumulasi tekanan fluida dan magma hingga mencapai tahap kritis.

“Perbedaan ketinggian kolom abu dari masing-masing erupsi mencerminkan variasi dinamika erupsi, tingkat viskositas magma, serta kandungan gas vulkanik,” jelas Daryono. (detik.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here