
JAKARTA – (KBKNEWS) – 23/8 – KEMENTERIAN Kesehatan mencatat lebih dari tiga juta penduduk di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia sejak awal musim kemarau, Juli lalu.
Berdasarkan catatan Kemenkes, seperti ditulis CNnI (23/8) jutaan warga tersebut tersebar di tujuh provinsi: Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan kabut asap karhutla RI telah memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di berbagai wilayah yang melojak 78 persen seiring meluasnya karhut
Dilansir dari detikcom, lonjakan kasus ISPA salah satunya terjadi di Kalimantan Tengah, yang meningkat dari 402 jadi 716 kasus hanya dalam sepekan.
Sementara di Kalimantan Barat, lebih dari 151 ribu kasus ISPA tercatat sejak Januari 2026. Tren peningkatan juga dilaporkan terjadi di Riau dan Kalimantan Selatan.
Selain ISPA, warga di wilayah terdampak juga mengeluhkan asma hingga iritasi akibat paparan asap, namun meski kasus ISPA meningkat, belum ada laporan tentang korban jiwa yang diakibatkannya..
“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/8).
Bangun posko bencana
Jubir Kemenkes Widyawati sementara itu mengatakan pihaknya juga meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan dengan membangun posko bencana asap di titik-titik terdampak.
Posko ini meliputi puskesmas yang dibuka 24 jam serta posko kesehatan khusus penanganan ISPA.
Kemenkes juga mendistribusikan paket perlindungan kesehatan seperti masker medis, obat pernapasan, hingga tetes mata untuk masyarakat.
Widyawati turut menyinggung perlunya kesiapan rujukan dan rumah sakit, baik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) maupun RS swasta. Kemenkes juga ingin memastikan kesiapan logistik medis seperti stok cadangan tabung oksigen.
“Sistem rujukan terintegrasi, koordinasi ambulans antar-fasilitas untuk evakuasi cepat pasien dari puskesmas terpencil ke RSUD pusat kabupaten/kota,” kata Widyawati, Minggu (23/8).
Kemenkes juga disebut membangun Rumah Oksigen, guna memberi akses oksigen dan tempat perlindungan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.
Warga Banjarbaru mengungsi
Semenntara itu, sejumlah warga Kompleks Aeropolis 1, Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), mengungsi akibat pemunculan kabut asap disebabkan karhutla di wilayah tersebut.
Seorang warga setempat, Saleh, mengatakan kondisi kabut asap pada Sabtu (22/8) lebih pekat dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Lebih parah daripada kemarin,” kata Saleh saat ditemui di sekitar lokasi kebakaran di Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru, Sabtu, seperti dikutip Antara.
Saleh berujar keluarganya telah lebih dulu mengungsi ke kampung untuk menghindari dampak asap dan ancaman kebakaran, namun ia memilih tinggal seorang diri untuk memantau kondisi serta mengamankan rumah dari lalapan api.
“Beberapa warga lainnya masih bertahan di rumah masing-masing untuk berjaga-jaga, sedangkan kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, dan lanjut usia telah mengungsi hari ini karena kondisi asap dan kebakaran semakin mengkhawatirkan,” ujarnya.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Syamsudin Noor Aiptu Helmi Apriana mengatakan titik api di lokasi tersebut sebenarnya sudah muncul selama beberapa hari.
Namun, kondisi paling parah terjadi pada Sabtu karena angin bertiup kencang dan cuaca panas.
Helmi menuturkan kawasan perumahan tersebut mayoritas memiliki lahan gambut sehingga api sulit dijangkau karena berada cukup jauh di dalam tanah.
Kondisi ini mengakibatkan bara api bertahan di bawah permukaan lahan dan kembali muncul ketika cuaca panas serta angin kencang.
Mendekati rumah warga
Helmi menambahkan kobaran api sempat mendekati bangunan permukiman warga, tepatnya di sekitar dinding rumah warga di blok belakang. Namun kondisi tersebut berhasil ditangani tim pemadam.
“Sudah di ujung itu, sudah di dinding rumah. Tapi tadi sudah ditangani dengan baik. Kanan kiri sudah dinding rumah semua ini, blok belakang ini,” ujar Helmi.
Helmi berujar pemadaman di lokasi ini dilakukan melalui jalur darat dengan menyesuaikan kondisi cuaca.
Sementara itu, aparat terus berkoordinasi dengan warga karena titik api semakin mendekati kawasan perumahan.
Tim pemadam kebakaran juga telah memberikan masker kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membantu warga menghadapi paparan asap akibat karhutla.
“Hingga saat ini belum ada permintaan langsung dari warga untuk dievakuasi, warga yang meninggalkan rumah memilih mengungsi secara mandiri. Keputusan untuk mengungsi dilakukan masing-masing keluarga sesuai kondisi di lapangan,” ucap Helmi. (CNNI/detik.com/ns)




