GUNUNGKIDUL – Paguyuban Air Minum Masyarakat Yogyakarta (Pamaskarta) Kabupaten Gunungkidul, menilai pemerintah kabupaten belum mengelola sumber mata air secara maksimal sehingga masyarakat masih kesulitan air bersih saat musim kemarau.
Ketua Pamaskarta Damanhuri di Gunung Kidul, mengatakan, potensi sumber air di Gunung Kidul merata di 18 kecamatan, namun dalam proses pembangunan untuk mampu mencukupi masyarakat dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, termasuk sarana-prasarana penunjang dan tenaga listrik.
“Semua kecamatan memiliki sumber air. Namun membutuhkan biaya pembangunan dan pemeliharaan yang cukup besar,” kata Damanhuri seperti dikutip Antara, Senin (5/9/2016).
Ia mencontohkan di Tepus dan Girisubo yang memiliki potensi mata air yang berlimpah. Namun di sisi lain wilayah tersebut masih kekurangan air bersih. Hal ini dikarenakan posisi mata air jauh di bawah tanah.
Di Tepus misalnya, mata air berada di 200 meter dari permukaan tanah. Namun saat pemanfaatan dari mata air ke bak utama harus berjarak 300 sampai 400 meter serta belum adanya jaringan listrik memadai.
Kawasan Pantai Bekah Purwosari juga memiliki sumber air 700 liter per detik, namun posisinya di bawah tebing. “Kemungkinan mencukupi 100 persen air di Gunung Kidul bukanlah mimpi. Bisa direalisasikan, namun membutuhkan biaya, anggaran pemeliharaan yang cukup dan pasokan aliran listrik,” katanya.





