GURU MANEGES (II)

Betara Guru tak peduli, sehingga Betara Kamajaya pun keluarkan panah ajimatnya.

SESUNGGUHNYA pemerintahan Jonggring Salaka kala itu sedang vacum. Soalnya Betara Guru sebagai pejabat definitip, sedang bertapa di Gunung Mahameru, tak jauh dari Gunung Sahari.  Semenjak bertapa, beliaunya memilih mundur dari tampuk pemerintahan. Hal ini menimbulkanm kontroversi. Sebab menurut konstitusi kahyangan, ratu dan patih haruslah satu paket. Artinya, Betara Guru berhenti,  Narada harus berhenti pula. Oleh karena itu patih kahyangan sekarang dianggap tidak sah, dan akhirnya digugat uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Hasilnya, mulai pukul 14.30 hari keputusan MK, Betara Narada sudah bukan lagi patih Jonggring Salaka.

Mengapa Betara Guru ndadak bertapa? Sebagai penguasa kahyangan kok sampai maneges (bertanya) segala, itu namanya logikanya terbalik-balik. Bisa ditertawakan Rocky Gerung. Yang maneges biasanya kan para kawula ngercapada kepada dewa. Kalau Guru masih maneges juga, ditujukan kepada siapa? Apa kepada Mendikbud Nadiem Makarim? Apa keluhannya? Apakah mau protes Ujian Nasional dihapus, atau merasa tunjangan sertifikasi terlalu kecil?

“Bagaimana ini Sanghyang Bayu, Betara Narada nggak mau ikut campur tangan lagi. Padahal pasukan Nilakrudha semakin merangsek,” Betara Penyarikan bingung mencari solusi.

“Cilekek! Padahal ini yang bisa mengalahkan Prabu Nilakrudha hanyalah Betara Guru. Betara Kamajaya diminta menyusul segera” perintah Betara Bayu sebagai pejabat Plt raja di kahyangan.

Sebetulnya Betara Kamajaya masih kecapekan, karena baru saja pulang dari study banding lingkungan hidup bersama istri ke Kepulauan Seribu, khususnya ke pulau reklamasi Bangkrut Bersama. Tapi sebagai dewa bawahan, ya harus berangkat juga. Dia memilih naik Gojek saja. Mobil sebenarnya ada juga, tapi pakai gas, sedangkan di kahyangan SPBU gas belum merata. Biang keroknya memang Betara Narada juga. Oleh pemerintahan Betara Guru – Patih Narada penggunanan bensin dibatasi, para dewa diwajibkan pakai gas. Tapi agen tunggal penyaluran gas Betara Narada sendiri. Ini kan sama saja korupsi kebijakan. Maka para dewa berharap, di kahyangan dihadirkan Sanghyang Erick Tohir.

Tiba di Gunung Mahameru Betara Kamajaya segera menghampiri Betara Guru yang masih khusyuk bersemedi. Rasanya sudah kehabisan kata-kata untuk membujuknya pulang, karena situasi sudah mendekati UGD unit  gawat darurat. Tapi Betara Guru tetap bersemedi dengan arah ke timur laut, presis tentara Peta seikirei di jaman Jepang dulu.

“Pukulun, mohon segera kembali ke Jonggring Salaka. Bale Marcakundha kritis menjurus anarkis,” ujar Kamajaya sambil mengkilik-kilik telapak kaki Hyang Jagad Pratingkah. Maksudnya agar membatalkan semedinya.

“Auah gelap……” jawab Betara Guru seenaknya.

Betara Guru tetap cuek bebek. Lama-lama Betara Kamajaya jengkel, sehingga lalu melepas panah kyai Cakrakembang, siuttttt…..jgerrrrr! Anak panah tersebut begitu menghantam tubuh Betara Guru justru berubah menjadi kembang beraneka macam, menimbun habis tubuh Betara Guru. Bau aroma kembang semerbak mewangi, seketika membangkitkan asmara dan birahinya. Beliaunya langsung ingat bininya yang ditinggal di istana Bale Marcakunda, yang sudah beberapa minggu tak digilir.

“Tolong pukulun, pulangnya ke Bale Marcakunda entar-entar saja. Yang penting ke Repat Kepanasan, pasukan Prabu Nilakruda sudah mulai anarkis nih,” Betara Kamajaya mengingatkan.

“Sabar kenapa sih, nyolong waktu satu jam saja masak nggak boleh.” Betara Guru protes, wajahnya nampak mesum, saking kangennya pada Dewi Uma.

Betara Guru menghentikan semedinya. Waktu menunjuk pukul 04.00 pagi, burung-burung mulai berkicau riang di pepohonan. Betara Guru meninggalkan tempat bertapa, hendak pulang langsung ke Bale Marcakunda. Agak aneh memang, guru pukul 04.00 pagi sudah jalan, mengajarnya di mana dia, atau sengaja menghindari kemacetan?

“Tuh kan, urusan negara dikalahkan urusan perempuan, dasar….” sindir Betara Kamajaya, karena sudah hafal dengan kelakuan Betara Guru.

“Sok tahu lu ah…..”, bentak Betara Guru.

Tiba di  Bale Marcakundha, Betara Guru hanya menemukan kekecewaan belaka. Ternyata Dewi Uma sedang “palang merah”, kepala jadi pusing! Dicarilah kambing hitam, dan kesalahan itu kemudian ditimpakan pada Bethara Kamajaya. Coba, gara orang lagi semedi diganggu, akhirnya Betara Guru menjadi Lebai Malang. Wisik dari Sanghyang Wenang tidak hadir, ingin bermesraan dengan Dewi Uma juga batal.

Marahlah raja Jonggring Salaka itu. Matanya tiba-tiba tambah menjadi tiga, yang dua normal yang mata tambahan minus 2 pakai silinder lagi. Tapi ketika ketiga mata itu serentak memancarkan sinar ditujukan kepada Betara Kamajaya, kehebatannya melebihi sinar LASER (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation).

“Kamu memang dewa jahat, dengki tanpa alasan. Rasakan sekarang, tak menyaksikan malam Tahun Baru kamu…!” Betara Guru memaki Kamajaya habis-habisan.

“Ampun, ampun, pukulun, Jangan bunuh aku, biniku lagi hami…..,” rengek Betara Kamajaya.

Betara Guru tak peduli. Betara Kamajaya yang dulu tak kebagian limun Tirta Amretta, seketika hancur lebur menjadi debu. Dewi Ratih nangis Bombay. Maklum, bidadari cantik jelita itu belum siap menjadi janda. Sebetulnya Betara Guru ingin “menghajar” Dewi Ratih, sebagai pengganti istrinya. Tapi ketika Kamajaya bilang istri sedang hamil, mendadak Betara Guru ngedrop syahwatnya. Bagaimana pun juga raja kahyangan tidak boleh hanya jadi “generasi penerus”.

Tapi justru Betara Guru ingat tanggungjawabnya sebagai raja Jonggring Salaka. Dia tak rela negerinya diobok-obok Prabu Nilakruda. Karenanya tanpa disuruh lagi Betara Guru segera turun ke Repat Kepanasan, melawan Prabu Nilakrida.

“Mana Prabu Nilakruda, elo jual gua beli….!” Tantang Betara Guru.

                                                                           (Ki Guna Watoncarita – tamat)

Advertisement