Guru PAUD Jangan Pauk!

Para murid PAUD sedang diajari salat. Tapi namanya juga anak balita, gagal fokus jadinya.

ANAK usia 4-6 tahun disekolahkan, dulu namanya murid Taman Kanak-Kanak. Sekarang istilah itu telah dikubur menjadi PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Tapi belakangan, banyak guru PAUD yang pauk (goblok). Hanya karena Bu Guru tak bisa mengendalikan emosi, si bocil dianiaya. Anak sendiri saja jika dianiaya, bapak dan juga kakek-neneknya akan ngamuk, apa lagi orang lain!

Untung saja guru PAUD itu sejak dulu seorang wanita, karena dia punya naluri keibuan. Jika guru PAUD itu seorang lelaki, bisa habis itu anak. Nangis melulu, buang air di celana (dulu belum ada pampes), guru lelaki akan menempeleng bahkan menendangnya. Guru TK dulu dan guru PAUD sekarang, harus punya kesabaran ganda, dan itu yang punya hanya kaum wanita.

Mungkin dari dulu guru TK galak juga ada, tapi jaman itu internet dan medsos turunannya belum ada. Karenanya tak ada beritanya  guru PAUD menganiaya murid. Jaman sekarang, ketika tembok bisa mendengar, murid PAUD dianiaya Bu Guru bisa menjadi viral dan sampai ke ujung dunia pun semua jadi tahu, termasuk penyanyi Betharia Sonata dalam lagunya: Kau tercipta untukku.

Seminggu lalu, guru PAUD di Banjarmasin (Kalsel) jadi viral gara-gara menganiaya muridnya. Peristiwa sebenarnya terjadi bulan Mei, tapi karena kasusnya dimasukkan ke kulkas (baca: dipeti-eskan) oleh pihak sekolah, baru terungkap setelah ada saksi mata yang belakangan melapor pada orangtua si anak. “Saya merasa tidak tenang hidup saya jika tidak menyampaikan kebenaran ini.” Kata saksi mata saat menelepon ibu korban selepas salat subuh.

Tentu saja ibu Elzam (4) terkaget-kaget, sebab pihak sekolah kala itu hanya mengatakan bahwa anak tersebut terjatuh saat bermain. Padahal sebagaimana laporan saksi mata yang menelepon  Ny. Rizka ibu si Elzam., bocil itu hanya menyandarkan tubuhnya ke punggung Bu Guru sambil ngedot pakai botol. Rupanya Bu Guru ini tipikal sumbu pendek juga, langsung tangan kiri Elzam ditarik dengan keras dan terbanting di ubin keramik. Tentu saja pecahlah tangis Elzam, tapi oleh pihak sekolah bocil hanya dilaporkan terjatuh saat main bersama teman-teman.

Elzam memang sudah dibawa ke RS, diketahui patah tulang selangka dan sendi bahu bergeser. Kini sudah membaik, cuma masih trauma saja. Tapi setelah dapat bocoran informasi dari saksi mata, Ny. Rizka segera melapor ke Unit PPA Polda Kalsel dan Dinas Pendidikan setempat. Ironisnya, belum ada kemajuan berarti dari kasus penganiayaan bocil tersebut. Apakah karena polisi saat itu masih sibuk dan fokus menangani kasus Ferdy Sambo?

Polisi memang sudah melakukan gelar perkara, tetapi belum ada tindakan pada Bu Guru Paud nan galak itu. Maaf terpaksa disebut demikian, karena jangankan nama lengkap, sekedar inisial saja tak ada dalam pemberitaan. Bisa jadi Bu Guru memang tak memiliki nama, karena di masa bayinya dulu tak sempat bikin bubur merah-putih. Atau jangan-jangan dia lebih “sakti” ketimbang pakar perdunguan Rocky Gerung. Yang menghina Presiden saja tak diapa-apakan, apa lagi hanya menganiaya murid PAUD.

Ternyata nasib Elzam tidak sendirian. Jika buka mbah Google, lumayan ombyokan guru PAUD nan galak. Misalnya di tahun 2013, Kiki murid TK di Kelurahan Lingkar Selatan Kecamatan Jambi Selatan,  dianiaya oleh gurunya, HD (48) hingga mengalami patah tangan sebelah kiri. Kemudian tahun 2019 guru PAUD di Samarinda (Kaltim) bernama DN, juga menganiaya muridnya tapi sebelum diusut dianya kabur ke Taiwan, mungkin ngumpet sambil jadi TKW.

Di bulan yang sama dengan kasus Elzam, di kota Bitung Sulawesi Utara murid PAUD bernama S (5) dianiaya Bu Guru SK pakai penggaris gara-gara tak bisa membaca. Sebetulnya masih ada sejumlah kasus serupa, tapi sayang jurnalisnya media online tersebut menulis asal-asalan, menjadi tidak jelas di mana lokasinya. Maklum, wartawan generasi sekarang banyak yang kerja asal cepat sehingga tak peduli prinsip jurnalistik 5W 1H.

Yang pasti, guru-guru PAUD yang bermasalah sebagaimana di atas memang tidak bakat menjadi guru PAUD. Meski guru TK sekarang lulusan perguruan tinggi, tidak cukup lulusan SGTK (Sekolah Guru Taman Kanak-kanak) seperti dulu, mereka kurang baca. Bukankah PAUD itu kan merupakan kelas bermain, kenapa diwajibkan harus belajar baca tulis. Enak dong nanti gurunya di SD.

Seorang guru PAUD harus memiliki kesabaran tinggi, bukan sumbu pendek sebagaimana istilah sekarang. Mereka telah belajar Ilmu Didaktik Metodik ketika kuliah, juga Ilmu Jiwa Anak. Dengan demikian bisa menyikapi setiap perilaku PAUD ketika mengajar nanti. Jika jadi guru PAUD kok emosian, itu namanya Bu Guru Pauk yang dalam bahasa Jawa berarti goblok, bahkan idiot!

Sesungguhnya tugas guru PAUD adalah, bagaimana mendidik dan mengajar anak-anak pra sekolah dasar. Seorang Guru TK harus mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Bermain sambil belajar sebagai pola didik utamanya. Guru TK juga harus bisa memposisikan diri sebagai orangtua di sekolah agar anak merasa senang dan tenang. (Cantrik Metaram)

 

 

.

 

.

 

 

 

 

Advertisement