spot_img

Hadir dan Mengalir

Saudaraku, hidup itu laksana air yang hadir dan mengalir. Peribahasa Sunda mengingatkan, “Lumaku kudu mindung ka waktu, mibapa ka zaman”; laku hidup itu harus mengibu ke waktu, membapak ke zaman.

Banyak orang berhenti di zona nyaman. Melanggengkan masa lalu dengan membunuh masa depan. Padahal, waktu itu ibarat aliran sungai. Sungai memang tak pernah terputus dari hulu sumbernya, tapi sungai juga terus mengalir, zaman terus berubah.

Dalam menyikapi yang lama dan yang baru, ada dua jenis kebebalan yang harus dihindari. Seseorang berkata, “Ini tua, oleh karena itu bagus.” Yang lain menukas, “Ini muda, oleh karena itu lebih baik.” Padahal, esensinya bukanlah yg tua atau yang muda, melainkan kebaikan apa yang didapat dari yang lama dan yang baru. Dalam mengarungi rentang waktu, sikap terbaik adalah “mempertahankan warisan masa lalu yang baik, seraya mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Demikianlah, kita hanyalah anak-anak sang waktu yang terlahir dan mengalir dari titik ke titik persinggahan sementara.

Waktu dan ruang bukanlah keabadian. Sekadar labirin tanda tanya yang di setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri.

Namun, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudera bermula dari tetes. Setiap kata yang engkau sapakan pulihkan harapan pada kecemasan. Setiap senyum yang engkau sunggingkan tebarkan gairah pada keputusasaan. Setiap darma yang engkau sumbangkan bangkitkan daya pada kelembaman.

Jalan pengembaraan ini telah kau tempuh sepanjang hayat. Teruslah bergerak hingga ke ujung. Meskipun ujung tidaklah tentu dimana berakhir. (Belajar Merunduk)

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles