
KEPASTIAN tentang perubahan status museum Hagia Sophia, Istanbul terwujud setelah pengadilan Turki memutuskan salah satu situs peninggalan sejarah tersebut menjadi masjid.
Umat muslim bisa menarik nafas lega, karena dengan diumumkannya alih fungsinya menjadi masjid oleh Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan Jumat lalu (7/9), mereka sudah bisa menggunakannya sebagai tempat peribadatan.
Hagia Sophia yang dibangun di era Kekaisaran Kristen Byzantium pada abad ke-6, diambil alih Kekaisaran Islam Ottoman (Kekhalifahan Ustmaniyyah) dan dijadikan Masjid Ayasofya setelah menaklukkan Konstantinopel, kini menjadi Istanbul.
Namun masjid Ayasofya berubah fungsi lagi menjadi museum Hagia Sophia berdasarkan keputusan pengadilan di era Turki modern berpaham sekuler di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk pada 1934.
“Alllahuakbar, “ seru ratusan warga yang menanti di luar gedung pengadilan setempat, menyambut keputusan yang mereka tunggu-tunggu.
Sebelumnya kelompok muslim Turki telah lama berkampanye untuk mengubah Hagia Sophia menjadi masjid karena hal itu dinilai lebih baik guna merefleksikan status Turki sebagai negara dan bangsa yang islami.
Sebaliknya,  yang kecewa a.l. kelompok gereja Kristen Orthodox, Rusia yang langsung menentangnya dan juga Kemlu AS yang meminta agar semua pihak mendapat akses sama dalam pemanfaatan  situs peningalan sejarah itu.
Pemerintah Yunani juga mengecam keras alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid dan menganggap keputusan itu bakal berdampak tidak hanya pada hubungan kedua negara, tetapi juga antara Turki dan  Uni Eropa.
“Yunani mengecam keras keputusan Turki. Ini adalah keputusan  yang menyinggung semua orang yang juga mengakui Hagia Sophia sebagai Situs Warisan Dunia, “ demikan pernyataan Kantor PM  Yunani Kyriakos Mitsotakis (11/7) .
Sedangkan kepala spiritual 300 jutaan pemeluk Kristen Ortodoks sejagat berbasis di Istanbul, Patriark Ekumenis Bartholomew menganggap keputusan pemerintah Turki itu mengecewakan umat Kristen dan bisa “memecah belah” antara Timur dan Barat.
Organisasi Pendidikan, Keilmuwan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) Â menyatakan, Komite Warisan Dunia akan meninjau status Hagia Sophia dan menilai, keputusan Turki berdampak bagi nilai-nilai universal terkait situs sejarah penting tersebut yang melampaui batas dan lintas generasi.
Presiden Erdogan sendiri sejak semula memang mendukung usulan alihfungsi museum Hagia Sophia yang juga merupakan salah satu dunia terdaftar di UNESCO itu dijadikan masjid.
“Turki telah menggunakan hak  mengubah Hagia Sophia  menjadi masjid dan kami menganggap setiap kecaman  terhadap langkah itu sebagai serangan terhadap kedaulatan kami, “ ujarnya.
Salah satu pengacara muslim yang mengangkat kasus ini, Selami Karaman menyebutkan, masjid Ayasofya adalah properti pribadi Sultan Mehmet, merujuk pada Khalifah Ustmaniyyah sang penakluk  Konstantinopel pada 1453 yang mengubah gereja berusia 900 tahun di era Byzantium itu menjadi masjid.
Kekhalifahan Ustmaniyyah lalu  membangun menara di sisi struktur kubah yang luas, sementara di dalamnya ditambahi hiasan kaligrafi besar bertuliskan nama-nama para Khalifah muslim di sisi ikonografi Kristen kuno yang sudah terpampang.
Pengadilan sudah memutuskan, entah apa kah masih ada upaya hukum lainnya yang bisa ditempuh oleh pihak yang menolak? (CBS News/NS)




