Hamas Dukung Hak Bela Diri Iran, tapi Minta Teheran Hindari Penargetan Negara Teluk

Hamas mendesak sekutu utamanya, Iran, untuk segera menghentikan segala bentuk serangan yang menyasar negara-negara di kawasan Teluk. (Foto: Europa Press)

Jakarta, KBKNews.id – Kelompok pejuang Palestina, Hamas, mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Mereka mendesak sekutu utamanya, Iran, untuk segera menghentikan segala bentuk serangan yang menyasar negara-negara di kawasan Teluk.

Langkah ini diambil di tengah upaya diplomatik yang kian intensif untuk mencegah Timur Tengah terperosok ke dalam perang regional yang lebih luas.

Dalam pernyataan resminya pada Sabtu (14/3/2026), Hamas menekankan pentingnya menjaga stabilitas di antara negara-negara tetangga. Meskipun Hamas mengakui posisi Teheran yang sedang dalam tekanan militer, mereka berharap konflik tidak merembet ke negara-negara Arab yang selama ini turut membantu penanganan krisis kemanusiaan di Gaza.

Dukungan untuk Pertahanan Diri namun dengan Batasan

Hamas menegaskan Iran memiliki hak kedaulatan untuk merespons serangan dari Israel dan Amerika Serikat yang pecah sejak 28 Februari 2026. Namun, hak membela diri tersebut diharapkan tidak mengorbankan keamanan negara-negara di sekitar Teluk yang tidak terlibat langsung dalam konfrontasi militer.

“Sambil menegaskan hak Republik Islam Iran untuk menanggapi agresi ini dengan segala cara yang tersedia sesuai dengan norma dan hukum internasional, gerakan ini menyerukan kepada saudara-saudara di Iran untuk menghindari penargetan negara-negara tetangga,” bunyi pernyataan Hamas sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Seruan ini muncul setelah beberapa negara Teluk melaporkan adanya gangguan berupa jatuhnya rudal dan pesawat tanpa awak (drone) milik Iran di wilayah mereka. Hamas berpendapat, kerja sama regional jauh lebih krusial saat ini untuk mengakhiri agresi dan memelihara ikatan persaudaraan antarnegara Muslim.

Peran Krusial Negara Teluk dalam Krisis Gaza

Sikap lunak Hamas terhadap negara-negara Teluk bukan tanpa alasan. Di tengah perang yang telah meratakan wilayah Gaza dan menewaskan lebih dari 72.000 jiwa sejak Oktober 2023, negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) memainkan peran vital melalui jalur diplomasi dan bantuan kemanusiaan.

Bulan lalu, negara-negara ini bahkan menunjukkan komitmen finansial yang masif melalui Board of Peace (Dewan Perdamaian) yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump. Dalam pertemuan di Washington, komitmen dana yang terkumpul mencapai lebih dari 4 miliar USD (sekitar Rp62,7 triliun).

Rinciannya, Qatar dan Arab Saudi masing-masing 1 Miliar USD, Kuwait 1 Miliar USD (beberapa tahun ke depan) dan Uni Emirat Arab 1,2 Miliar USD (khusus untuk Gaza).

Upaya Gencatan Senjata yang Rapuh

Hamas saat ini masih berada dalam posisi mematuhi kesepakatan gencatan senjata selama dua tahun yang didukung AS. Gencatan senjata mulai berlaku sejak Oktober 2025. Meskipun serangan besar telah berkurang, situasi di lapangan masih sangat memprihatinkan dengan jumlah korban luka mencapai lebih dari 171.000 orang.

Dukungan finansial dan militer Iran memang telah menjadi napas bagi “Poros Perlawanan” selama berdekade-dekade. Namun, dengan melemahnya kekuatan militer di Lebanon dan Yaman, Hamas kini lebih mengedepankan jalur mediasi yang dipimpin Qatar dan Mesir. Hal itu guna menjaga kelangsungan hidup warga sipil di Gaza.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here