
LANGKAH antisipatif perlu dilakukan pemerintah untuk mencegah kenaikan harga beras di pasar lokal akibat dampak kenaikan harga BBM bersubsidi dan juga pembelian beras oleh Badan Pangan Nasional untuk stok sebelum panen raya.
Kenaikan harga beras, jika tidak bisa dicegah, berkontribusi besar pada angka inflasi, sehingga untuk itu, Perum Bulog yang saat ini masih memiliki stok cadangan beras sekitar 800-ribu ton melancarkan operasi pasar.
Bulog saat ini sudah melakukan operasi massal secara massif dengan menjual beras medium Rp8.300 per Kg atau di bawah harga pasar, sedangkan untuk harga pembelian dari petani, ditetapkan tingkat harga secara fleksibel.
Berdasarkan data panel Harga Badan Pangan Nasional, harga rata-rata beras kelas medium nasional pada 17 Sept. lalu naik dari Rp10.900 per Kg menjadi Rp11.000 pada 23 Sept., sedangkan beras premium naik dari Rp12.500 menjadi Rp 12.520 per Kg.
Menurut catatan BPS, produksi padi (Gabah Kering Giling) pada 2021 sebanyak 54,4 juta ton atau setara 31,36 juta ton beras pada lahan panen seluas 10,4 juta Ha, sedangkan konsumsi beras pada tahun yang sama 31,3 juta ton atau 77,5 Kg per kapita.
Kenaikan harga beras, menurut pengamat pertanian Khudori, diperkirakan akan berlangsung di musim gadu (panen ke-2) yang puncaknya terjadi pada Oktober nanti.
Berdasarkan prognosis neraca pangan Badan Pangan Nasional 2022, total ketersediaan beras mencapai 37 juta ton, sementara kebutuhan tahunan 29,5 juta ton, sehingga pada akhir 2022 masih ada stok akhir 7,5 juta ton.
Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sudah tidak mengimpor beras umum yang dikonsumsi masyarakat, sedangkan impor hanya dilakukan untuk beras khusus.
Bagi Indonesia yang konsumsi berasnya termasuk terbesar di dunia, beras adalah komoditi strategis yang harus terus dijaga, stok mau pun keterjangkauan harganya bagi rakyat.




