Kekeringan Gegara El Nino Bisa Berdampak Parah

Sejumlah daerah di Indonesiaa bakal terdampak parah kekeringan akibat El Nino sehingga menggangu pasokan air minum, MCK, karhutla dan kebakaran di permukiman serta berisiko kerawanan pangan akibat gagal panen. (ilustrasi: BMKG)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 5/8 – FENOMENA El Nino terus menguat dan mengurangi turunnya curah hujan di mana kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia dalam wilayah terdampak parah dari risiko kekringan, karhutla dan kebakaran lingkungan permukiman, kelangkaan air minum dan untuk MCK sampai kerawanan pangan akibat gagal panen.

CNNI melaporkan (5/8), Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi kondisi yang lebih panas dan kering dalam beberapa waktu mendatang. Selain itu, ada bayang-bayang peningkatan risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas.

Hal itu disampaikan oleh Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) di Singapura pada Selasa (4/8).

“Kondisi El Nino cenderung meningkatkan peluang curah hujan di bawah normal pada sebagian besar wilayah selatan ASEAN selama Agustus hingga Oktober,” kata ASMC dalam prospek musiman terbarunya.

ASMC menambahkan, kondisi El Nino saat ini sudah terjadi dan diprediksi akan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan, sebagaimana dilansir Xinhua via Antara.

Menurut ASMC, angin muson barat daya diprediksi akan bertahan hampir sepanjang periode Agustus hingga Oktober.

Dalam fenomena tersebut, angin dominan yang berembus terutama dari tenggara atau barat daya.

Dengan sabuk hujan muson yang tetap berada di utara khatulistiwa, wilayah selatan ASEAN kemungkinan akan terus mengalami kondisi kering.

Sementara itu, cuaca yang lebih basah diperkirakan akan terjadi di wilayah utara ASEAN.
Suhu di atas normal diprediksi akan terjadi di sebagian besar wilayah ASEAN mulai Agustus hingga Oktober.

Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kondisi kekeringan.
Selain itu, ASMC memperingatkan bahwa kekeringan yang berkepanjangan, ditambah dengan angin dominan yang berembus dari tenggara dan barat daya, dapat meningkatkan aktivitas titik panas dan risiko kabut asap lintas batas.

Subkawasan Mekong diprediksi akan tetap relatif aman, meski demikian, risiko terjadinya aktivitas titik panas dapat meningkat di daerah-daerah yang mengalami curah hujan lebih rendah.

Wilayah paling terdampak
Wilayah Indonesia yang paling terdampak dan mengalami kekeringan ekstrem akibat fase El Nino kuat saat ini terkonsentrasi di selatan ekuator, yakni Pulau Jawa, Bali, Nusa

Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan sebagian Sulawesi.

Kondisi cuaca di daerah-daerah tersebut menjadi lebih kering dan panas dari biasanya sehingga memicu kerawanan krisis air bersih dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).

Memasuki awal Agustus 2026, kondisi kering diprakirakan masih berlanjut dan berpotensi semakin meluas di sejumlah wilayah Indonesia.

Hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli 2026 menunjukkan sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH Sangat Panjang selama 31–60 hari, sedangkan 306 titik pengamatan lainnya mengalami HTH Ekstrem Panjang lebih dari 60 hari.

Wilayah dengan HTH sangat panjang hingga ekstrem tersebut terutama tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi. HTH terpanjang tercatat selama 90 hari di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

Berlanjutnya kondisi tanpa hujan dalam durasi panjang perlu diwaspadai karena dapat mengurangi ketersediaan air serta meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran.

Indikasi meningkatnya dampak musim kemarau juga terlihat dari sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil pemantauan citra satelit yang mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Berdasarkan arah pergerakannya, asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak dengan pergerakan dominan ke arah barat laut.

Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya meningkatkan risiko karhutla dan kebakarandi peemukiman, juga berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah, belum lagi menyengsarakan rakyat yang makin jauh dari sumber air untuk keperluan sehari-hari (MCK), kebutuhan air minum dan pengolahan makanan serta risiko gagal panen yang berdmpak pada ketahanan pangan.(CNNI/BMKG/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here