
HARGA minyak mentah dunia baru beranjak membaik lagi usai Presiden AS Donald Trump membujuk Arab Saudi dan Rusia untuk mengurangi produksi mereka guna menahan laju penurunan harga.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei dilaporkan naik 5,20 dolar AS atau 21 persen dari 24,74 dolar AS ke 29,94 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 5,01 dolar AS atau 24,7 persen dari 20,31 dolar AS menjadi 25,32 dolar AS per barel.
Trump mengaku telah berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (30/3) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (2/4) guna membujuk mereka agar bersedia mengurangi produksi minyak sebanyak 10 juta hingga 15 juta barel per hari.
Sebelumnya, Arab Saudi dan Rusia bersitegang mengenai peningkatan produksi sehingga mengakibatkan harga minyak melorot, terparah dalam 18 tahun terakhir ini sampai ke level 24 dolar AS per barel dibandingkan 70 dolar setahun lalu.
Kedua negara produsen minyak itu pada awal Maret gagal mencapai kesepakatan memangkas produksi menyusul anjloknya permintaan akibat kelesuan perekonomian dunia di tengah outbreak pandemi Covid-19.
Rusia dan Saudi saling lontar kata-kata, pihak lawannya yang menolak kesepakatan (penurunan produksi) dan menuding salah satunya yang menarik diri dari negosiasi antara negara-negara OPEC + Rusia.
Media Saudi menyebutkan, negaranya meminta digelarnya sidang darurat OPEC guna membahasa gejolak pasar minyak yang terjadi akhir-akhir ini dan kesepakatan pengurangan produksi kali ini membutuhkan partisipasi dari negara produsen besar lain di luar OPEC.
Kabar terbaru, Presiden Putin agaknya mulai melunak dan Jumat lalu (3/4) menyatakan siap bekerjasama dengan Saudi dan AS untuk memangkas produksi minyak.
Rusia dilaporkan siap membahas pengurangan produksi bersama dengan Saudi lebih kurang sedikit pada kisaran 10 juta barel per hari.
Menurut catatan, masing-masing Rusia dan Saudi memproduksi sekitar 10 sampai 11 juta barel per hari dari total produksi minyak dunia sekitar 77,5 juta barel per hari.
Kerjasama global dituntut di tengah perang bersama melawan pandemi Covid-19 yang sudah menjangkiti sekitar 1,2 juta orang di 203 negara, 64.850 orang diantaranya meninggal . (AP/Reuters/AFP)




