Harga Minyak Dunia Meroket ke 106 USD setelah Trump Ancam Bom Infrastruktur Iran

Harga minyak mentah dunia kembali meroket melampaui level psikologis 100 USD per barel setelah Presiden Trump, menyampaikan pidato. (Foto: Pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Harapan pasar global akan berakhirnya konflik di Timur Tengah secara cepat seketika sirna. Harga minyak mentah dunia kembali meroket melampaui level psikologis 100 USD per barel setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato keras yang menjanjikan eskalasi militer besar-besaran terhadap Iran dalam beberapa pekan ke depan.

Dalam pidato yang disiarkan pada jam tayang utama dari Gedung Putih, Trump menegaskan militer AS siap melancarkan serangan udara yang melumpuhkan.

“Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat yang seharusnya bagi mereka,” ujar Trump dalam pernyataannya yang memicu kekhawatiran baru akan krisis energi dunia.

Pasar Merespons: Brent dan WTI Melonjak Tajam

Reaksi pasar terhadap retorika tersebut berlangsung instan. Minyak mentah jenis Brent melonjak di atas 106 USD per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik menuju angka 105 USD per barel. Lonjakan ini menghapus tren penurunan harga yang sempat terjadi beberapa hari sebelumnya saat pasar sempat optimis akan adanya resolusi damai.

Ketidakpastian ini diperparah oleh status Selat Hormuz yang masih lumpuh. Jalur air paling vital bagi distribusi energi dunia itu telah tertutup efektif selama satu bulan, mencekik aliran minyak mentah, gas, hingga solar ke pasar internasional.

“Tidak ada dalam pidato Trump yang mengubah realitas pasar yang mendasar: selat tersebut telah tertutup selama sebulan, dan aliran tetap sangat terbatas. Gangguan selama beberapa minggu ke depan, atau bahkan lebih lama, sangat mungkin terjadi,” kata Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas di Westpac Banking Corp.

Tekanan di Selat Hormuz dan Ancaman Penjatahan

Meskipun Trump mengklaim jalur pelayaran akan terbuka “secara alami” setelah perang usai, ia tidak memberikan jadwal atau detail teknis yang jelas. Hal ini memicu ketegangan diplomatik baru. Korps Garda Revolusi Islam Iran melalui media pemerintah IRIB menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka berdasarkan “pertunjukan absurd” Presiden AS.

Krisis ini mulai berdampak nyata pada masyarakat luas. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan beberapa negara mungkin harus segera memberlakukan penjatahan energi. Saat ini, stasiun pengisian bahan bakar di Prancis dan Australia dilaporkan sudah mulai kehabisan stok akibat guncangan pasokan yang terus mendalam sepanjang Maret.

Taruhan “Lotere” Investor dan Risiko Inflasi

Para investor kini berada dalam posisi waspada tinggi. Sebagian besar mulai memborong kontrak opsi untuk melindungi nilai aset mereka. Bahkan, muncul taruhan spekulatif ekstrem yang memperkirakan harga minyak dunia bisa meroket hingga 450 USD per barel jika infrastruktur energi Iran benar-benar hancur total.

Vandana Hari, pendiri perusahaan analisis Vanda Insights, menilai pasar kini mulai memperhitungkan skenario kampanye militer yang jauh lebih intensif.

“Trump tidak menawarkan kerangka waktu yang jelas untuk mengakhiri perang. Sebaliknya, ia menjanjikan peningkatan operasi militer yang membuat pasar kini memperhitungkan adanya serangan fisik terhadap fasilitas energi,” jelas Vandana.

Seiring konflik yang memasuki pekan keenam, ancaman inflasi global kian nyata. Dengan harga Brent yang kini 40% lebih tinggi dibanding periode sebelum perang, stabilitas ekonomi dunia kini bergantung pada sejauh mana ancaman serangan ke Iran tersebut direalisasikan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here