spot_img

Hari Gini, Masih Percaya Babi Ngepet

WARGA RT 02, RW 04, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok 26 April lalu heboh akibat tertangkapnya seekor “babi ngepet” yang diisukan menjadi penyebab raibnya uang milik beberapa warga setempat.

Kisah babi ngepet menjadi legenda dan mitos di tengah masyarakat sebagai ilmu pesugihan melaui penjelmaan seseorang yang mempraktekkan ilmu hitam menjadi babi siluman demi memudahkan aksi pencurian harta benda milik orang lain.

Warga pun beduyun-duyun menyaksikan babi yang semula diaku oleh AI (44) ditangkap olehnya bersama delapan rekannya, bahkan mengarang cerita, penangkapan babi ngepet dilakukan tanpa mengenakan busana sesuai ritual yang mereka percayai.

Seperti disampaikan Kapolres Metro Depok, Kombes Pol. Imran Edwin Siregar (27/4), ia memastikan isu yang menjadi viral tersebut adalah rekayasa, hoaks alias kabar bohong yang sudah dirancang AI sejak sebulan sebelumnya, terinspirasi keluhan warga yang merasa kehilangan uang antara Rp1 sampai Rp2 juta di rumah mereka.

AI pun mengajak delapan warga lainnya mencari akal untuk bisa jadi terkenal jika dianggap berhasil mencarikan solusi persoalan warga yang  kehilangan uang dan juga mengaku,  Maret lalu ia memesan seekor babi dari seorang pencinta hewan secara online dengan harga Rp900.000 plus ongkos kirim Rp200.000.

Lalu ia mengarang cerita. Awalnya ada sesorang pria berjalan ke kebun warga dan saat diintip mereka, orang tersebut menjelma menjadi babi jadi-jadian dengan kalung di leher dan pita merah di kepalanya.

Ngarang Cerita

Singkat cerita, AI dan rekan-rekannya, tanpa busana (sesuai mitos cara-cara menangkap babi ngepet), berhasil meringkusnya lalu memenggal dan menguburkan babi nahas itu dengan alasan, tubuh babi mengecil dan sesuai kepercayaan orang,  ia bakal menghilang jika malam berganti. Semua cerita kemudian diakui hasil karangannya sendiri.

Polisi menjerat AI dengan Pasal 10 ayat 1 atau 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946. AI terancam kurungan 10 tahun penjara. Sementara itu, delapan rekan AI saat ini masih diproses polisi.

Ironis, di era now masih ada saja orang-orang di negeri ini percaya dengan hal-hal berbau mistis atau tahayul seperti cerita tentang babi ngepet, tuyul, santet, jenglot dan lainnya di luar nalar dan logika.

Jika ditarik ke perspektif lebih luas, bagaimana begitu mudahnya masyarakat ditipudaya, diakali atau terprovokasi oleh berita bohong, apalagi jika dilakukan oleh tokoh panutan mereka dengan memainkan atau memolitisasi isu agama dan kepercayaan.

Tugas berat bagi para pemangku kepentingan terkait masalah pendidikan untuk meningkatkan literasi publik terutama untuk mengasah nalar dan logika mereka, baik melalui kurikulum  pendidikan formal mau pun program pencerahan lainnya.

 

 

 

 

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles