Hari Roti Sedunia

Roti tawar dipotong tipis-tipis, untuk teman makan bubur kacang ijo, juga nikmat. Ibarat kata mertua lewat takkan ditawari.

TERNYATA roti juga punya hari kelahiran lho!  Hari ini, 16 Oktober 2023, merupakan peringatan Hari Roti Sedunia yang ke-47. Hari Roti Sedunia juga bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia. Kedua perayaan ini berkaitan dengan konferensi FAO ke-20 pada November 1976 di Roma. Dari sanalah Hari Roti Sedunia ditetapkan. Ironis memang, hampir setiap hari kita makan roti, tapi tak pernah tahu kapan Hari Roti Sedunia itu diperingati.

Tapi Indonesia harus bangga, karena memiliki roti yang guede sekali dalam bentuk pulau, dianya Kepulauan  Roti yang terletak di Provinsi NTT. Kepulauan ini merupakan wilayah paling selatan Indonesia. Kepulauan Roti dengan Roti sebagai pulau terbesar beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya berstatus sebagai kabupaten dengan nama Kabupaten Rote Ndao melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002. Tak jelas, ketika Gubernur Viktor Laiskodat mencanangkan masuk sekolah pukul 05:00 pagi, apakah sekolah di Kepulauan Roti juga terkena aturan tersebut.

Yang jelas, bangsa Indonesia cukup akrab dengan roti sejak jaman Belanda dulu. Mereka yang ikut makan roti, sudah berasa seperti orang Belanda. Sebab sebagai bangsa Eropa, di Nederland roti memang menjadi makanan pokok sehari-hari. Tapi di masa penjajahan dulu, orang Indonesia yang makan roti tentunya menjadi seret di tenggorokan, karena dibatin yang pro Indonesia, “Tuh, dicekoki roti sama Belanda, jadi lupa dan tega pada bangsa sendiri.”

Setelah Indonesia merdeka, hingga tahun 1960-an roti merupakan makanan mewah bagi orang desa. Sebab mereka lebih akrab dengan roti sumbu alias singkong, dalam wujud direbus atau digoreng. Bahkan di Gunung Kidul (DIY), roti sumbu diawetkan untuk menjadi gaplek dengan makanan olahannya bernama thiwul dan gatot yang rasanya kenyil-kenyil.

Tapi setelah Orde Baru, di mana perekonomian mulai bangkit, gaplek bukan lagi jadi makanan pokok. Mereka juga makan nasi biasa yang berasal dari beras rajalele Delanggu. Makin ke sini, gatot pun semakin naik kelas. Dalam wujud tokoh, ada artis bernama Gatot Sunyoto dengan boneka Tongky-nya, bahkan setelah era reformasi, ada gatot yang jadi Panglima TNI, dialah Gatot Nurmantyo dari Tegal (Jateng).

Generasi yang mengalami masa-masa sulit bangsa Indonesia, pasti pernah mendengar dan makan kue simping. Itu kuenya yang bulat tipis-tipis. Orang Jakarta yang pulang kampung di tahun 1970-an ke bawah, oleh-olehnya kebanyakan roti simping tersebut. Makan satu kantong plastik pun takkan kenyang, karena orang bilang: ming dadi idu thok (cuma jadi ludah doang).

Enakan sedikit adalah roti marie (biskuit), yang hingga kini merk tersebut masih ada dan banyak digemari. Rotinya sama-sama bulat, tapi lebih tebal dan berasa di lidah. Jangan-jangan Mari Pangestu menterinya SBY dulu juga suka biskuit ini. Kini biskuit semacam itu bermacam-macam, dari  Regal, Khong Guan, Monde sampai Roma. Ketika hari Lebaran tiba, semua merk roti biskuit tampil di setiap meja tamu. Ada yang di tabung plastik, kaleng meskipun mereka bukan makanan kaleng-kaleng.

Biskuit  yang lebih sering disebut roti marie juga sering jadi oleh-oleh orang Jakarta ketika pulang kampung. Ditambah sekaleng susu, para sesepuh di desa akan merasa terhormat ketika dioleh-olehi makanan seperti ini. Padahal bagi anak-anak generasi sekarang, kue jenis beginian takkan disentuh. Mereka lebih tertarik pada hamburger, piza.

Kue dalam bentuk besar dan tebal dikenal sebagai roti sobek, sebab rotinya memang bisa dipotong-potong dengan mudah. Roti jenis ini paling banyak dijual oleh pedagang pikulan, yang dijajakan ke kampung-kampung. Dengan kismis hitam-hitam di atas kue tersebut, sungguh menggugah selera. Di Yogya sebelum tahun 1970-an, penulis hanya bisa ngiler melihat kue ini dijajakan. Sebab kantong pelajar tak menjangkau untuk membelinya.

Ada lagu kue bolu yang empuk dan enak, tapi makannya harus sambil menyiapkan minuman sebagai penggelontor di kerongkongan. Sebab jika tanpa minum, memaksakan makan kue tersebut mata bisa mendelik-mendelik keseretan. Bolu jenis ini yang terkenal bernama bolu klumbeng. Karena sering jadi hidangan di tempat orang meninggal, maka ada yang menyebut sebagai kue kematian!

Paling populer tentunya roti tawar, karena ini menjadi menu sarapan dalam rumah tangga maupun tamu hotel. Dilapisi dengan mentega atau susu, jadi terasa lebih lezat. Makan bubur kacang ijo dengan ditemani roti tawar juga terasa lebih nikmat. Celakanya, ketika punya mobil lama jenis minibus, sering diledek, “Cuma punya mobil roti tawar aja nyombong…..”

Dulu bahan baku pembuatan kue adalah gandum. Semakin banyak makanan altenatif, singkong dan talas pun bisa dijadikan bahan untuk kue. Bahkan dulu ada nama kue ganjel ril yang dibuat dari gaplek. Kue moho yang sangat nasionalis karena warnanya merah putih. Karena sama-sama jenis bolu, ketika memakannya  harus selalu siap dengan sebotol air mineral.

Ada juga kue buaya, yang menjadi kebutuhan pokok ketika orang Betawi lamar-melamar. Entah apa filosofinya, sehingga ketika seserahan harus pula menyertakan roti dalam bentuk buaya. Mungkin maksudnya adalah, peringatan bagi si suami agar setelah menikah fokus pada istri saja, sebab jika masih doyan pacaran juga, itu namanya: buaya darat! (Cantrik Metaram)

 

Advertisement