Krisis Air Bersih Gaza Makin Memburuk

GAZA CITY, GAZA - JULY 27: Palestinian children in Jabalia Refugee Camp store water due to Israel's attack destroy the water and sewerage systems in Gaza city, Gaza on 27 July, 2014. (Ashraf Amra - Anadolu Agency)

GAZA – Di jalur Gaza bagian Selatan, sejumlah orang mengantre di kamar mandi, banyak dari mereka belum mandi selama berhari-hari setelah Israel memutus aliran air, listrik, dan makanan menyusul serangan mematikan Hamas. Ahmed Hamid, 43, meninggalkan Kota Gaza bersama istri dan tujuh anaknya, menuju ke Rafah setelah tentara Israel pada hari Jumat (13/10/2023), memperingatkan penduduk di Utara wilayah kantong tersebut untuk menuju ke Selatan “demi keselamatan mereka sendiri”.

“Kami sudah berhari-hari tidak mandi. Bahkan pergi ke toilet pun harus mengantre,” kata Hamid melansir CNA, Senin (16/10/2023). Tidak ada makanan. Semua barang tidak tersedia dan harga makanan yang tersedia melonjak. Satu-satunya makanan yang kami temukan hanyalah kaleng tuna dan keju, lanjutnya.

“Saya merasa seperti beban, tidak mampu berbuat apa-apa.” PBB memperkirakan sekitar satu juta orang telah mengungsi sejak Israel memulai pemboman udara tanpa henti di Gaza sebagai pembalasan atas serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober.

Serangan Hamas menyebabkan lebih dari 1.400 orang tewas di pihak Israel, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil. Di wilayah Gaza, setidaknya 2.670 orang tewas dalam pemboman tanpa henti tersebut, sebagian besar dari mereka adalah warga biasa Palestina. Israel juga memutus semua pasokan air, listrik dan makanan ke wilayah pesisir yang padat penduduknya, sebelum melanjutkan pasokan air ke selatan pada hari Minggu (14/10/2023).

Mona Abdel Hamid, 55, meninggalkan rumahnya di Kota Gaza, menuju rumah kerabatnya di Rafah. Sebaliknya, dia mendapati dirinya berada di rumah orang yang tidak dia kenal. “Saya merasa terhina dan malu. Saya mencari perlindungan. Kami tidak mempunyai banyak pakaian dan sebagian besar pakaian sekarang kotor, tidak ada air untuk mencucinya. Tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada internet. Saya merasa seperti kehilangan rasa kemanusiaan saya,” ujarnya.

Sejak Jumat (13/10/2023), Sabah Masbah, 50, tinggal bersama suami, putrinya, dan 21 kerabat lainnya di rumah temannya di Rafah. “Hal terburuk dan paling berbahaya adalah kami tidak dapat menemukan air. Saat ini tidak ada dari kami yang mandi karena air sangat langka,” katanya. Di rumahnya di Khan Yunis, dekat sekolah yang dikelola oleh badan PBB yang mendukung pengungsi Palestina, Esam mengatakan: “Kami menerima tamu yang mengungsi dari wilayah Kota Gaza, lingkungan Al-Rimal dan Tal al-Hawa.” Tapi, air adalah masalah, kata pria berusia 23 tahun yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya. “Setiap hari kami memikirkan cara mendapatkan air… Jika kami mandi, kami tidak akan minum.” Mereka yang mengungsi di sekolah-sekolah UNRWA juga putus asa mencari makanan dan air.

 

Advertisement