Harimau Pembunuh Tujuh Warga Lampung Barat Berhasil Ditangkap, Warga Bernapas Lega

JAKARTA, KBKNEWS.id – Setelah berminggu-minggu hidup dalam ketakutan, warga Dusun Kali Pasir, Pekon Sukabumi, Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat akhirnya bisa bernapas lega. Seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang beberapa waktu terakhir meneror warga, berhasil tertangkap dalam kandang jebak, Selasa (28/10/2025).

Selama beberapa hari sebelumnya, suasana desa mencekam. Warga takut ke kebun dan memilih tetap di rumah setelah munculnya laporan serangan harimau di sekitar permukiman. Dalam setahun terakhir, sedikitnya tujuh warga dilaporkan tewas diserang satwa langka tersebut.

“Benar, seekor harimau Sumatera sudah tertangkap. Saat ini kondisinya masih hidup dan terlihat sehat,” kata Peratin Desa Sukabumi, Alamsyah, saat ditemui di lokasi, Rabu (29/10).

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung telah memasang garis pembatas di sekitar kandang jebak untuk mencegah warga mendekat. Proses evakuasi menunggu kedatangan tim medis hewan sebelum dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Komandan Kodim 0422 Lampung Barat, Letkol Inf Rizky Kurniawan, membenarkan penangkapan satwa dilindungi itu. “Kondisi harimau sehat. Untuk memastikan apakah ini individu yang sebelumnya menyerang warga, masih menunggu hasil pemeriksaan tim ahli,” ujarnya.

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, mengakui konflik antara manusia dan harimau di wilayahnya merupakan dilema panjang. Pemerintah, kata dia, berupaya melindungi satwa langka tanpa mengabaikan keselamatan warga.
“Satgas sudah kita bentuk, edukasi juga jalan. Tapi kenyataannya, warga tetap butuh lahan untuk bertani. Ini soal perut,” katanya.

Konflik antara manusia dan harimau di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) kerap dipicu aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan. Pemerintah sempat menawarkan lahan garapan baru di Lombok Seminung, namun dinilai terlalu jauh dan tidak sebanding dengan kebutuhan warga.

“Saya ingin masyarakat bisa hidup aman dan tenteram, tapi keberadaan hutan dan harimau juga harus tetap lestari,” kata Parosil.

Kini, setelah harimau yang selama ini menebar ketakutan tertangkap, warga berharap masa tenang benar-benar datang — bukan sekadar jeda sebelum konflik berikutnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here