MALANG – Polisi lalu lintas berpangkat Brigadir Kepala di Kepolisian Resort Malang, Jawa Timur, bernama Seladi (57) ini mengisi waktu luangnya selepas pulang dinas menjadi pemulung sampah.
Terhimpit kebutuhan ekonomi, membuatnya tidak tergoda memanfaatkan jabatannya di kepolisian untuk mencari uang yang tidak halal.
Kepada Surya.co.id, ia menceritakan asal usul bekerja mengumpulkan sampah tersebut. Bertahun-tahun lalu, ia memiliki utang sebesar Rp 150 juta. Mencoba peruntungan, ia mencoba berdagang.
“Barang yang saya jual, macam-macam, ada mebel juga televisi. Kemudian saya ditipu orang, barang dibawa tetapi tidak dibayar,” ujarnya. Padahal untuk itu, ia harus memodalinya dengan meminjam ke koperasi kepolisian.
Sampai akhirnya, tahun 2004 ia memilih sampah sebagai ladang bisnisnya.Dengan menggunakan sepeda onthelnya, ia mencari sampah dan menyimpannya di bangunan kosong yang ia jadikan gudang sampah, di Jalan Dr Wahidin.
Kegigihan Seladi banyak menarik perhatian orang, karena sejak 16 tahun silam, ia berdinas di Urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Polres Malang Kota, yang dianggap orang menjadi lahan yang basah untuk mencari tambahan uang.
“Sudah jadi anggapan orang, tidak minta pun lho diberi. Seperti contoh, orang nyari SIM, tiga kali tidak lolos. Mereka ada saja yang minta diloloskan sambil ngasih uang.” ungkapnya.
Tetapi ia tidak tergoda, bahkan kalau ada yang memberinya uang terimakasih, ia menolaknya atau meminta si pemberi menyerahkannya ke masjid.
“Kalau umpama sehari dikasih uang Rp 50.000 kali 20 orang misalnya dikalikan 16 tahun, hasile lek isa mbendung kali Brantas a (bisa membendung sungai Brantas). Bisa beli rumah di Araya (salah satu perumahan elit di Kota Malang). Tetapi saya tidak ingin, karena itu bertentangan dengan hati nurani,” terangnya.
Semoga masih banyak diluar sana orang sejujur dan segigih Pak Seladi, bekerja semaksimal mungkin, bahkan rela berkeringat di tengah baunya sampah, hanya untuk mendapat uang tambahan yang halal. Inspiratif!





