INDIA (KBK) – Dalam dua hari ini Kota Odisha, India heboh, karena ada dua kisah jenazah yang digotong karena tidak ada ambulans yang membantu.
Rabu (24/8/2016), seorang suami dari distrik Kalahandi, menggendong jenazah isteri di pundaknya sejauh 14 KM karena tidak mampu membayar sewa ambulans rumah sakit.
Kemudian, Kamis (25/8/2016), beberapa pekerja Puskesmas menaruh begitu saja mayat wanita di bawah rumpun bambu di distrik Balasore, karena tidak ada pejabat berwenang yang memeriksa dan ambulans yang bisa mengantar mayat itu ke rumah sakit untuk otopsi.
Mayat Salamani Behera, seorang janda 80 tahun, meninggal setelah tertabrak kereta api barang, dekat stasiun kereta api Soro, di distrik Balasore, Rabu pagi. Tubuhnya dibawa ke Pusat Kesehatan Masyarakat Soro (CHC).
Meskipun sudah dilaporkan ke Polisi (GRP), ternyata personel Polisi baru sampai di rumah sakit pada malam harinya, hampir 12 jam mayat itu terlantar. Padahal mayat tersebut harus dibawa ke rumah sakit kabupaten Balasore untuk post-mortem, tapi tidak ada ambulans yang tersedia.
Akhirnya staf kepolisian setempat, Pratap Rudra Mishra meminta sopir Bajaj untuk membawa mayat itu ke stasiun kereta api, agar dapat dikirim dengan kereta api ke rumah sakit Balasore, sekitar 30 KM untuk keperluan otopsi.
“Tapi sopir bajaj meminta Rs 3.500 sementara kita tidak bisa menghabiskan lebih dari Rs 1.000 untuk tujuan tersebut. Aku tidak punya pilihan lain selain meminta beberapa pekerja kuli panggul di Soho CHC untuk membawanya, “kata Mishra.
Karena jadwal otopsi sudah ditetapkan, pekerja kuli pun buru-buru mengikat mayat tersebut ke sebilah bambu kemudian menggotongnya sejauh 2 KM menuju stasiun kereta api terdekat.
Jenazah itu kemudian dibawa ke Balasore dengan kereta api.
Anak Behara ini, Rabindra Barik, 60 tahun, terkejut ketika mendengar jenazah ibunya dibawa dengan cara digotong dengan tiang bambu tersebut.
“Mereka bisa ngak menjadi lebih manusiawi sedikit. Awalnya saya pikir akan menggugat polisi. Tapi siapa yang akan menanggapi keluhan kami, “katanya.
Dikutip dari Indian Express, Komisi Hak Asasi Manusia Odisha, B K Mishra, Kamis (25/8/2016) mengeluarkan surat protes kepada Polisi setempat tentang kejadian itu.




