Indonesia berencana membeli helikopter produksi perusahaaan pesawat terbang patungan Westland, Inggeris dan Agusta, Itali guna menggantikan pesawat kepresidenan Super Puma yang dioperasikan oleh Skadron VVIP 45 TNI-AU, berpangkalan di Halimperdanakusuma, Jakarta.
Dalam bincang pagi di TV One, beberapa waktu lalu Kadispenau Marsekal Pertama TNI Dwi Badarmanto mengemukakan, TNI-AU menjatuhkan pilihan pada AW-101 setelah melalui pertimbangan dari berbagai aspek, selain spesifikasi pesawat, juga persyaratan lain termasuk tenggat pengadaan (delivery service) dan program perawatan (maintenance).
Dari sisi spesifikasi, Dwi tidak menjelaskan secara rinci, hanya menyebutkan, setiap pesawat tentu memiliki kelebihan atau kekurangan, sehingga pilihan disesuaikan dengan tujuan dan misi pengoperasiannya.
Namun di sisi lain, berdasarkan pengalaman dalam pembelian pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI), Dwi mengakui ada sejumlah kendala, misalnya ketidaktepatan jadwal pengiriman pesawat dan juga keluhan-keluhan lainnya mengenai perawatan purna jual.
Untuk itu Ia berharap agar pemilihan AW-101 sebagai pesawat kepresidenan tidak dijadikan polemik oleh publik, karena semuanya sudah direncanakan jauh-jauh hari, termasuk dalam Rencana Strategi (Renstra) Hankam, dan demi kepentingan negara.
Sementara pengamat militer Rizal Dharmaputra berpendapat, untuk Presiden Jokowi yang lebih suka blusukan melalui jalan darat, kebutuhan helikopter kepresidenan tidak begitu mendesak, kecuali untuk wilayah-wilayah tertentu. Lain halnya dengan Presiden AS yang sering menggunakan helikopter kepresidenan untuk kunjungan kerjanya di dalam negeri.
Sedangkan menurut pengamat lainnya, Gerry Sujatman, setiap penjualan pesawat yang diproduksi badan usaha strategis milik negara itu tentunya bermanfaat bagi pengembangan industri nasional, termasuk untuk meningkatkan kapasitas SDM-nya. Namun dia bisa memahami, setiap pembeli, baik di dalam maupun luar negeri, tentunya juga akan memilih yang terbaik.
“Untuk itu, PT DI harus terus berupaya memperbaiki kinerjanya, khususnya mengenai perawatan purna jual, “ tuturnya.
Helikopter AW101, menurut pembuatnya, adalah pesawat yang dibuat dengan perpaduan teknologi mutakhir, dilengkapi peralatan, sistem keamanan dan kenyamanan sesuai tuntutan zaman dan sejauh ini sudah diproduksi 200 unit dan digunakan di 11 negara. AW101 digerakkan oleh tiga Mesin GECT7-8E turboshaft dengan Sistem Kontrol Mesin Digital Penuh (Full Authority Digital Engine Control – FADEC) menunjukkan performa tinggi.
Kabinnya bisa diperlega untuk penggunaan VVIP, dilengkapi keamanan sistem komunikasi dan proteksi balistik dan sistem pelindung termasuk radar peringatan dini (Radar Warning Receiver – RWR), Sistem Peringatan Laser (Laser Warning System -LWS), Sistem Peringatan Kedatangan Rudal (Missile Approach Warning System – MAWS) dan Sistem Pengarah dipandu Infra Merah ( Directed Infra-Red Countermeasures -DIRCM).
Kokpit, kabin dan kursi dilapisi pelindung baja, dan pesawat bisa dipersenjatai dengan senapan mesin caliber 12,7 atau 7,62 mm, rudal udara ke udara atau rudal udara ke permukaan. Uji terbang pertama AW-101 dilakukan pada Oktober 1987 kemudian mulai diproduksi pada 1990.AW-101 digunakan antara lain oleh oleh AL dan AU Inggeris, Itali, Denmark, Pasukan Bela Diri Jepang dan Kanada.
Kecepatan terbang AW-101 278 Km per jam, daya tempuh 833Km dan ketinggian maksimum 4,75 Km.
Sementara Super Puma AS-332 semula dikembangkan sejak 2004 oleh industri pesawat terbang Perancis Aerospatiale dan konsorsium industri helikopter Eropa, Eurochopter (kini Airbus Helicopters). Sejauh ini sudah 565 unit AS332 dibuat dengan harga sekitar 15,5 juta dolar AS per unit dan digunakan oleh 38 negara di dunia termasuk Indonesia. PT Dirgantara juga memperoleh lisensi untuk mengembangkan pesawat sejenis dengan kode NAS-332.
Setelah dinilai sukses sebagai jenis pesawat helikopter (rotary wing) angkut kelas menengah, AS- 332 dikembangkan dalam berbagai varian seperti untuk Search and Rescue (SAR), Anti Kapal Selam dan patroli maritim serta evakuasi medis.
AS-332 juga digunakan sebagai pesawat angkut resmi oleh PM Inggeris Gordon Brown saat melakukan inspeksi pasukannya di Irak dan juga digunakan sebagai pesawat kepresidenan oleh Brazil. AS-332 mampu terbang sampai 831 Km, berkecepatan terbang 278 km per jam dan ketinggian terbang maksimum 7,2 Km.
Rusia juga memproduksi helikopter Mi-17 sekelas AW-101 dan Super Puma AS332 yang memiliki daya angkut 19 orang selain dua awaknya, kecepatan 250 Km per jam dan jarak tempuh 465 Km per jam serta ketinggian terbang maksimum enam Km dengan kisaran harga antara 16 sampai 18 juta dolar AS.
Helikopter buatan Kazan adalah yang terlaris di dunia, sudah menembus angka produksi 12.000 unit (Seri Mi-4, Mi-8, Mi-17,Mi-24 dan Mi-38) dan dioperasikan oleh lebih dari 60 negara.
Pilih mana? Tergantung kocek APBN dan jenis pesawat yang dibutuhkan





