Heli Mi-17 Masih Dicari

Jenis heli angkut sedang Mi-17 Penerbad TNI-AD yang hilang di wilayah Oksibil, Papua sejak Jumat lalu (28/6). Sampai hari kelima, Rabu (3/7) belum ditemukan.

SELAIN pencarian yang masih terus berlangsung, tentu juga diiringi doa, helikopter Mi-17 Penerbad TNI-AD bersama 12 kru dan penumpang yang terbang dari Oksibil, Kab. Bintang, menuju Bandara Sentani, Jayapura, Jumat pukul 11.44 WIT belum ditemukan.

Wakapendam XVII/Cenderawasih Letkol. Inf Dax Sianturi, pencarian dengan mengerahkan dua heli Bell-412 TNI-AD, satu Bell-206 milik swasta dan pesawat angkut CN-235 TNI-AU untuk dukungan logistik dan peralatan, sampai hari kelima, Rabu belum berhasil.

Heli Bell 206 bernomor registrasi PK IWD melakukan pencarian pada radius antara lima hingga 20 mil dari titik ‘lost contact’ dengan rata-rata waktu terbang 90 menit untuk setiap sorti, sedangkan heli Bell 412 (Nomor Registrasi 5185) terbang di rute sama selama 40 menit.

Satu heli Bell-412 lainnya (Noreg 5177) melakukan satu sorti penerbangan di Gunung Mol dengan waktu terbang 60 menit, sementara CN-235 melakukan sekali supporting flight dari Sentani ke Oksibil , membawa avtur tambahan dan logistik bagi personil Tim SAR.

Selain itu, kata Dax, pencarian melalui darat dilakukan oleh Tim SAR darat berkekuatan 100 orang (1 SSK) disebar di tiga kabupaten, sedangkan 50 personil lain terdiri dari anggota TNI, Polri, Basarnas dan publik dipimpin Dandim 1702 melakukan penyisiran di Distrik Oskob, sekitar Kampung Mimin dan Gunung Mol.

Sementara penyisiran melalui darat di wilayah Kab.Jayapura dilakukan 20 orang tim gabungan TNI dan masyarakat dipimpin Dandim 1701 di wilayah Kaureh dan 30 personil gabungan TNI dan masyarakat di sektor Airu dipimpin Kasi Ops Korem 1702.

Heli Mi-17 yang dioperasikan oleh Penerbad, TNI-AD tersebut hilang kontak setelah lima menit mengudara dari Oksibil, Jumat pukul 11.44 WIT menuju Bandara Sentani mengangkut tujuh kru dan lima anggota Satgas Yonif 725/Woroagi.

Seharusnya, helikopter mendarat di Sentani pukul 13.11 WIT pada hari yang sama. Helikopter yang hilang kontak mengangkut 12 orang, terdiri atas tujuh kru dan lima personil Satgas Yonif 725/Woroagi.

Kondisi medan di perbukitan dan lebatnya hutan tanaman serta kabut membuat upaya pencarian, baik melalui udara mau pun darat mengalami kesulitan.

Heli Mi-17 yang merupakan perbaikan versi sebelumnya, Mi-8 dibuat oleh pabrik Kazan dan Ulan-Ude, Rusia yang telah digunakan oleh 60 negara di dunia termasuk TNI-AD.

Selain Mi-17 versi angkut sedang yang digunakan TNI-AD, ada berbagai varian lainnya seperti untuk pengacau elektronika, evakuasi medis dan sebagai bantuan tempur yang dipesenjatai.

Heli Mi-17 yang diawaki tiga orang, mampu mengangkut 30 anggota pasukan, lima ton barang dan kecepatan 250 Km, dibandrol dengan harga sekitar 12 juta dollar AS (sekitar Rp174 milyar).

Kemungkinan terjadinya penyimpangan seperti kelebihan beban, prosedur penerbangan dan faktor-faktor penyebab lainnya perlu diselidiki secara seksama dan transparan agar risiko musibah bisa ditekan.

Advertisement