Hepatitis Tak Berkaitan dengan Vaksinasi

tidak ada kaitannya hepatitis akut yang menyerang pada anak dengan vaksin Covid-19 karena sebagian besar korban terpapar adalah anak-anak di bawah enam tahun yang belum divaksin.

PENYAKIT hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak dan sudah menyebar di 20 negara saat ini tidak ada kaitannya dengan vaksinasi Covid-19.

“Sebagian besar dari 228 korban yang menyebar di 20 negara sejak April lalu  dan terbanyak di Irlandia, Ingeris Raya belum disuntik vaksin Covd-19, “ kata Ketua Unit Kerja Koordinasi Gastro-Heatologi Ikatan Dokrer Anak Indonesia (IDAI) dr. Muzal Kadim di Jakarta, (6/5).

Dia menerangkan, sebagian besar dari kasus anak yang terinfeksi hepatitis akut belum disuntik vaksin Covid-19.

“Sampai saat ini, virus akut ini tidak bisa dikaitkan dengan vaksin Covid-19 karena sebagian besar korbannya justru belum divaksin karena kebanyakan adalah anak di bawah usia enam tahun,” kata Muzal dalam diskusi virtual, Sabtu (7/5).

Menurut catatan, Di Indonesia, kasus hepatitis yang belum bisa dikonfirmasi penyebabnya menimpa tiga anak, satu di antaranya berusia dua tahun belum divaksin, satu lagi, delapan baru divaksin dosis pertama dan yang ketiga, 11 tahun sudah divaksin lengkap.

Ketiga pasien yang dikonfirmasi negatif dari Covid-19 meninggal dalam rentang waktu yang berbeda sejak pertengehan sampai 30 April 2022 setelah dirawat di RSCM Jakarta Pusat

Dr. Muzal juga mengatakan, pengaitan hepatitis akut dengan Covid-19 hingga saat ini masih dugaan, apakah koinsiden (bersamaan) atau menjadi penyebab langsung karena gejala yang ditimbulkan Covid-19 berbeda dengan Hepatitis.

“Dibutuhkan investigasi lebih lanjut, “ ujarnya.

Pengaitan kematian ketiga anak akibat hepatitis akut yang masih misterius itu merebak di media mengingat platform pengembangan salah satu vaksin Covid-19 yakni AstraZeneca menggunakan salah satu jenis adenovirus untuk menciptakan imunitas tubuh.

Hepatitis akut yang korbannya mencapai 228 orang di 20 negara sejauh ini menyerang anak-anak pada rentang usia satu bulan hingga 16 tahun, diduga karena imunitasnya masih rendah, walau mungkin saja, ke depannya, orang  dewasa bisa terpapar.

Untuk itu, masyarakat diminta segera membawa anaknya ke fasyankes terdekat jika mengalami gejala gangguan pencernaan (muntah, mual, demam tinggi, diare, kejang-kejang). Jangan sampai terlambat!