BRASIL – Olimpiade di Rio de Janeiro kali ini mengundang perhatian dengan hadirnya para atlet perempuan yang mengenakan hijab, dan membuktikan bahwa hijab tidak menghalangi wanita muslim untuk berprestasi.
Misalnya bagi atlet Voli asal Mesir, Doaa Elghobashy yang membuat sejarah di Olimpiade Rio dengan mengenakan hijab saat bertanding. Saat ia tanding melawan atlet Jerman, Kira Walkenhorst di Pantai Copacabana fotonya banyak diabadikan di seluruh dunia.
Setelah pertandingan usai pada Minggu (7/8/2016), Elghobashy mengatakan bahwa ia benar-benar bangga dengan jilbabnya. “Saya berjilbab selama 10 tahun terakhir, dan serikat permainan internasional memberi kami hak untuk bermain dengan jilbab dan saya sangat bahagia dengan kesempatan ini,” katanya.
Selain Elghobasby, Fencer Ibtihaj Muhammad juga cukup menyita perhatian publik, dimana ia menjadi perempuan perwakilan dari Amerika Serikat di ajang Olimpiade Rio 2016 yang mengenakan hijab.
Senin (08/8/2016) ia berhasil mengalahkan pemain anggar, Olena Kravatska, di putaran pertama kompetisi saber perempuan.
Sayangnya, Ibtihaj yang akhirnya kalah dalam pertarungan kedua, tetap merasa senang dan mengatakan banyak orang di AS tidak percaya bahwa perempuan Muslim berpartisipasi dalam olahraga.
“Banyak orang percaya bahwa perempuan Muslim tidak dapat berpartisipasi dalam olahraga, ” katanya.
Cabang olahraga Anggar juga dipilih Ibtihaj berkenaan dengan alasan religius. Ia mesti mencari cabang yang bisa ia geluti sesuai keputusannya memakai hijab.
“Saya mesti menemukan olah raga yang dapat menutup diri saya tanpa saya harus terlihat berbeda dibandingkan dengan orang lain,” katanya seperti dilansir Reuters.
Disaat dunia tengah dibuat bersyukur karena kiprah perempuan berhijab mulai diakui di ranah olahraga, di Indonesia sendiri, ada pebasket Raisa Aribatul Hamidah atlet basket asal Ponorogo yang tetap konsisten dengan jilbabnya dan mencoba memperjuangkan mengubah larangan bermain menggunakan hijab saat bertanding yang diterapkan Federasi Bola Basket Internasional (FIBA), dengan membuat petisi.
“Saya mencoba membuat petisi. Siapa tahu ini jalan saya membuka mata FIBA,” kata Ida, dilansir beritajatim, beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan sampai muncul petisi awalnya agustus 2014 dipanggil seleksi Timas basket untuk SEA GAMES 2015 di Singapore. Namun terpaksa dipulangkan oleh manajer xan coaching staff TimNas basket karena pada nantinya maen basket tidak boleh memakai hijab.
“Itu sudah aturan FIBA Internasional, jadi pelatih dan manajer bingung. Skill dan kemampuan dibutuhkan di tim. Tapi karena aturan itu saya gagal main di Sea Games,” katanya.





