
GAZA – Blokade yang diberlakukan setelah pengambilalihan Hamas 2007, dan telah memutuskan Gaza dari seluruh dunia membuat wilayah tersebut belum terpapar virus corona.
Hingga saat ini tidak ada infeksi yang terdeteksi di jalur itu, yang merupakan rumah bagi sekitar dua juta orang dan menderita blokade Israel-Mesir yang sedang berlangsung.
Tidak ada turis yang dapat berkunjung karena Israel dan Mesir sebagian besar telah menutup perbatasan mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara mencabut beberapa pembatasan perjalanan, memungkinkan lebih banyak warga Palestina di Gaza untuk keluar, biasanya dengan alasan kemanusiaan dan setelah proses panjang izin untuk mendapatkan izin yang sulit diperoleh.
Ketika coronavirus menyebar di negara tetangga Mesir dan Israel, pemerintah yang dipimpin Hamas menyadari bahwa mereka harus bertindak cepat, mengingat terbatasnya kapasitas sistem perawatan kesehatan Gaza.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan blokade, divisi politik Palestina dan tiga serangan Israel selama 12 tahun terakhir telah membuat sistem perawatan kesehatan di Gaza kewalahan dan kekurangan sumber daya.
“Sistem kesehatan tidak akan mampu menangani ratusan atau ribuan kasus, jadi hal terbaik di sini adalah tidak adanya penyakit (COVID-19),” ungkap Abdelnasser Soboh, direktur WHO di Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera.
Soboh mengatakan tidak ada pakaian pelindung yang cukup untuk pekerja medis atau peralatan perawatan intensif dan ventilator yang semuanya penting untuk memerangi wabah potensial.
Hanya ada 62 alat ventilasi di seluruh Gaza, lebih dari dua pertiganya sudah digunakan oleh pasien lain. Sedangkan untuk mendeteksi coronavirus, hanya ada dua alat tes, cukup untuk memeriksa 190 orang, kata Soboh.
“Tidak ada dana untuk membeli peralatan, dan jika uang tersedia, ada kelangkaan global,” tambah Soboh.




