Hindari Melabeli Anak Nakal, Bisa Picu Tindak Kriminal

Ilustrasi. (Foto: cornerstoneccs.com)

JAKARTA, KBKNews.id – Perilaku menyimpang atau kenakalan anak bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti masalah emosional, kondisi keluarga, kurangnya perhatian dari orang dewasa, hingga pengaruh lingkungan pertemanan. Karena itu, penting untuk menggali akar permasalahan agar penanganannya bisa sesuai.

Psikolog klinis Phoebe Ramadina, M.Psi., menyatakan bahwa memberi label “nakal” pada anak justru bisa mendorongnya untuk terus berbuat hal negatif, bahkan sampai terlibat dalam tindak kriminal.

Phoebe menjelaskan bahwa anak yang kesulitan mengelola emosinya bisa merasa putus asa akibat stigma dari lingkungan.

“Anak yang mengalami kesulitan regulasi emosi ini merasa putus asa dan tidak ada gunanya memperbaiki diri sehingga memilih untuk tetap berbuat kenakalan,” katanya dilansir dari Antara.

Anak-anak pada dasarnya belum memiliki kemampuan kognitif yang matang, sehingga mereka sering kesulitan membedakan benar dan salah. Hal ini juga berdampak pada kemampuan mereka dalam mengontrol emosi dan dorongan.

Lingkungan sekitar juga memegang peran penting. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan pola asuh keras atau penuh kekerasan lebih rentan terlibat dalam perilaku menyimpang.

Tekanan dari teman sebaya juga dapat menjadi faktor pendorong mereka untuk melakukan tindakan yang salah demi diterima oleh kelompoknya.

“Bisa juga ada dorongan dari teman sebaya, sehingga anak-anak ini merasa harus ikut melakukan tindakan kriminal agar diterima oleh lingkungan,” ujar Phoebe.

Jika seorang anak sudah terlibat dalam perilaku kriminal, tetapi belum masuk ke dalam proses hukum, pendekatan restoratif dan rehabilitatif menjadi langkah yang tepat.

“Pendekatan itu berfokus pada pemulihan dan pengembangan kemampuan anak untuk dapat bersikap lebih adaptif di masa depan,” tutur dia.

Phoebe menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan psikologis guna mengetahui motif di balik perilaku anak. Dengan cara ini, dapat diketahui apakah anak mengalami gangguan emosional, perilaku, atau trauma tertentu. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian bisa menjadi dasar dalam menyusun intervensi yang sesuai.

“Pendampingan juga perlu diberikan pada keluarga untuk memperbaiki pola interaksi dan dukungan di rumah,” katanya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here