Hobi Naik Gunung, Anak 10 Tahun ini Akan Taklukan Puncak Jaya Wijaya

Khansa Syahlaa Aliyah/ Facebook

JAKARTA – Khansa Syahlaa Aliyah, seorang anak berusia 10 tahun sudah memiliki kecintaan terhadap alam dengan menginjakan kaki di enam puncak  gunung sejak usia tujuh tahun.

Juli mendatang, ia akan menuju puncak paling tinggi, yakni Puncak Jaya atau Carstensz Summit di Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Di usianya yang masih muda, untuk mendaki gunung dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut tersebut, Khansa rutin menjalani berbagai latihan fisik sejak Desember 2016. Pendakian kali ini menjadi pendakian yang paling membuat deg-degan. “Nanti pertama kalinya aku mendaki pakai tali-temali,” tutur dia.

Dia berlatih fisik empat hari dalam sepekan dengan digembleng oleh sang ayah dan tim Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia, dari latihan memanjat hingga menahan cuaca dingin. Latihan fisik membuatnya jatuh sakit beberapa kali. Meski begitu, susahnya mendaki gunung tak dirasa Khansa sebagai beban. Buat dia, gunung memberi banyak pengalaman berharga.

Berbagai latihan ia lakukan mulai dari ascending, naik-turun tebing pakai ascender, rappelling, masuk ke tebing-tebing, dan latihan pada ketinggian 4.000 meter. Dia juga berlatih menahan dingin karena suhu di Puncak Carstensz sampai minus.

Ia seakan sudah kenyang dengan pahit-manis berlatih. Dia mesti kuat digantung lama di atas dan matanya tak boleh terpejam, turun sendiri dari tebing dan dinding, sampai dibiarkan saat terjatuh.

Tapi ia tak memungkiri pernah menangis ketika melakukan latihan, “Pas latihan pernah dua kali nangis. Latihan pertama di tebing, sudah diajarin tapi belum ngerti banget. Disuruh turun sendiri pakai alatnya ini gimana? Susah ih, terus nangis, dimarahin Ayah,” katanya, seperti dikutip dari Tempo.

Latihan dan aktivitas naik gunung tak membuat sekolah Khansa terbengkalai. Dia berlatih 3-4 kali sepekan dan dilakukan saat pulang sekolah dan hari libur. “Kalau libur, aku tidak jalan-jalan ke mal, tapi latihan terus. Lagipula, aku enggak suka main ke mal,” ujarnya. “Aku enggak suka tuh main-mainan Barbie, boneka.”

Menurut Khansa, bertualang dengan mendaki gunung bisa melatih kesabaran dan kemandirian. Khansa mengaku pernah menangis di puncak gunung karena kangen delapan hari tak berjumpa dengan ibunya. Semua perasaan dan pengalaman itu ditungkan dalam ponsel dan bukunya yang kini kian tebal.

Gara-gara naik gunung, Khansa jadi suka makan sayuran. Sebab, kalau di gunung lapar, maka apa saja terpaksa dimakan. Mulai dari buncis, terong, dan tumbuhan lainnya.

Advertisement