JAKARTA, KBKNEWS.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan berdampak terhadap kualitas udara.
Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi salah satu kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan data IQAir pada Jumat (21/8/2026) pukul 12.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Pontianak mencapai 328. Angka tersebut masuk kategori Berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 239 mikrogram per meter kubik.
Kondisi serupa juga terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. AQI di kota tersebut tercatat 166 atau masuk kategori Tidak Sehat, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 77 mikrogram per meter kubik.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela dan menghindari paparan udara luar. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker.
Paparan asap dan partikel polutan seperti PM2.5 dapat mengganggu sistem pernapasan. Kondisi tersebut berisiko memicu iritasi saluran pernapasan, bronkitis, pneumonia, asma, hingga iritasi mata. Anak-anak juga termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak polusi udara.
Sementara itu, data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan menunjukkan peningkatan signifikan jumlah titik panas di Kalimantan.
Pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 518 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan berdasarkan pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua.
Jumlah tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 109 hotspot.
Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 242 hotspot dan Kalimantan Selatan sebanyak 17 hotspot.
Peningkatan hotspot tersebut terjadi bersamaan dengan laporan masyarakat mengenai kabut asap serta terbatasnya jarak pandang di sejumlah wilayah.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla, terutama dengan membatasi paparan asap dan menjaga kualitas udara di dalam rumah.





