Hujan Sampai Maret, Antisipasi Bencana!

Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berlangsung hingga Maret. Awas banjir dan longsor! (Foto: Metro Berita)

PUNCAK musim hujan sudah terjadi di sejumlah wilayah, namun curah hujan dengan intensitas tinggi diprakirakan masih akan berlangsung di sebagian besar lokasi di Indonesia hingga Maret.

Kabid Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari di Jakarta, Kamis (10/1) mengemukakan, puncak musim hujan saat ini sudah berlangsung di bagian tengah dan utara Sumatera, pesisir barat Banten, bagian tengah Jawa Barat , Sumatera Selatan dan Sulawesi Tenggara serta pesisir Sulawesi Utara.

Sementara wilayah lain karena awal musim hujannya mundur akibat pengaruh pola sirkulasi massa udara di Samudera Hindia dan Pasifik sebagai bagian pole mode positif El Nino yang terbentuk akhir tahun lalu sejauh ini intensitas hujannya masih rendah.

Fenomena El Nino ditandai , lebih tingginya suhu permukaan air laut di bagian tengah Samudra Pasifik dibandingkan dengan sekitarnya.

Jadi, menurut Indra, potensi curah hujan tinggi masih akan terjadi di sebagian wilayah lain di Indonesia, sementara sebagian besar wilayah Pulau Jawa dipredisi mengalami puncak musim hujan sekitar Januari sampai Februari. Wilayah
dengan puncak musim hujan hingga Maret yakni Sumsel, Lampung, Bali, NTB, NTT, pesisir Kalimantan Timur, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Berdasarkan data yang dihimpun BMKG, El Nino berkategori lemah terjadi bersamaan dengan puncak monsun Asia (Desember ’18 sampai Februari ‘19) sehingga membuat curah hujan di Indonesia lebih tinggi dari kondisi normal.

Kahumas dan Pusat Data Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengingatkan, 489 wilayah kabupaten dan kota dengan penduduk sekitar 63,7 juta berpotensi terkena banjir dan441 kabupaten dan kota berpotensi longsor.

Kewaspadaan di lingkungan sekolah, terutama pengelola dan guru-guru juga perlu ditekankan mengingat sekitar empat juta orang dan 2.900 bangunan sekolah di berbagai lokasi berada dalam radius I Km dari jalur sesar (patahan) atau berada di zona bahaya.

Ahli gempa LIPI Danny Hilman Natawidjaya mengemukakan, masih sekitar 80 persen sesar darata yang belum teridentifikasi denan baik akibat keterbatasan SDM peneliti dan anggaran.

Mari kita galang upaya untuk melakukan mitigasi bencana agar, jika terjadi, risikonya, baik korban jiwa maupun harta benda dapat ditekan hingga seminimal mungkin!.

Advertisement