Ibu Delapan Anak Berjuang Pecahkan Batu dengan Martil Setiap Hari

NUNUKAN –  Rasna (43), seorang ibu di Nunukan yang memiliki delapan anak rela setiap hari bekerja memecahkan batu yang sangat keras dengan menggunakan martil seberat 10 kilogram agar dapat menghidupi anak-anaknya.

Dengan kekuatan tenaga yang harus dikeluarkan mantan TKI di Malaysia ini, ia harus memecah batu besar hingga menjadi ukuran sekepala manusia dewasa, dengan  upah Rp 25.000 per kubik .

Menurutnya, jika batunya putih keras, bisa 3 hari baru bisa dapat 1 kubik, dengan demikian dalam tiga hari juga ia baru dapat uang sebesar Rp 25.000.

Ia terpaksa bekerja keras, meski sebenarnya ia ingin berjualan namun tak punya modal, bahkan untuk membeli martil yang ia gunakan sekarang saja ia masih berhutang.

Kerasnya batu yang dia pecahkan 2 hari terakhir membuat upahnya menipis. Persediaan berasnya hanya cukup untuk makan siang hari ini. Itu artinya anak anaknya harus terpaksa menyantap ubi rebus dan air putih untuk makan malam.

“Kalau sehari cuma dapat Rp 15.000 atau Rp 20.000, terpaksa anak anak sarapan ubi dan air putih. Siang baru makan nasi. Malam terpaksa makan ubi lagi. Sempat anak anak protes, kenapa hidup kita begini?” ucapnya, dikutip Kompas.com.

Namun minimnya penghasilan sebagai pemecah batu juga mmebuat Rasna tidak memiliki pilihan untuk memilih tempat tinggal. Dia masih bersyukur ada tetangganya yang baik hati dengan memberikan tumpangan untuk dirinya dan 8 anaknya berteduh di sebuah gubuk beukuran 4X6 meter.

Beberapa bagian dinding rumah dari kayu sudah mulai rapuh, atap dari seng juga sudah mulai menetes karena bocor ketika hujan turun. “Kalau rumah dipinjami, tidak bayar. Hanya listrik yang bayar sama yang punya rumah,” kata Rasna.

Baginya kemiskinan tak menjadi persoalan selama dia bisa mengasuh anak-anaknya. Hidupnya hanya dia dedikasikan untuk anak anaknya agar bisa bersekolah. Sesulit apapun hidup, anak-anaknya harus bersekolah.

“Biarlah hidup susah, saya hanya ingin melihat mereka mencapai cita-cita mereka. Ada yang bercita-cita jadi polisi, ada yang bercita-cita jadi dokter, ada yang bercita-cita jadi tentara,” ujarnya.

Advertisement