Idul Fitri di Tengah Pandemi

Ilustrasi Sebagian pelaksanaan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H dilakukan dengan tetap jaga jarak, sementara di zona merah, cukup dilakukan di rumah masing-masing.

IDUL FITRI 1 Syawal 1441 H dan Ramadhan tahun ini sungguh berbeda, bahkan mungkin umat Islam tidak bakal mengalami lagi di tahun-tahun mendatang pelaksanaan social distancing seperti yang diberlakukan kini.

Tak terbayangkan, ibadah shalat berjamaah lima waktu,  shalat Jumatan, buka bareng serta tarawih di mesjid dihentikan sementara atau dibatasi demi menghentikan laju penyebaran Covid-19.

Bahkan shalat Ied pun dilarang di wilayah zona merah yang berpotensi kuat bagi penyebaran Covid-19 dan jika ada kelonggaran di zona hijau, jamaah harus tetap menjaga jarak, tidak bersalam-salaman, saling rangkul, cium tangan atau sungkem.

Awalnya, sebagian pemuka agama gagal paham dan ada juga yang berprasangka, pembatasan kegiatan di mesjid adalah upaya untuk menjauhkan umat dari agama, bahkan ada yang mengait-ngaitkan, hal itu sengaja dilakukan oleh orang-orang eks-PKI.

Yang disayangkan, ada pula “oknum” ulama bahkan pensiunan petinggi TNI yang memolitisasi dan memrovokasi umat terkait seruan untuk menjaga jarak termasuk pembatasan kegiatan peribadatan di masjid.

“Menjauhkan diri dari masjid berarti mengingkari kekuasaan Allah, “ seru mereka, sehingga ada saja rakyat awam yang terprovokasi.

Baru setelah korban Covid-19 berjatuhan dimana-mana, jumlah umat yang menyadari ancaman virus maut tersebut semakin banyak, apalagi Arab Saudi dan negara-negara Islam lain juga memberlakukan protokol kesehatan yang sama.

Pemerintah Saudi bahkan sempat menutup aktivitas ibadah umrah dan juga masjid-masjid dari prosesi agama secara massal, bahkan pelaksanaan ibadah haji tahun ini juga masih dipertimbangkan, jadi tidaknya.

Pembelajaran berharga

Ini hari umat muslim sejagat merayakan Idul Fitri di tengah keprihatinan ancaman pandemi Covid-19, dan yang penting banyak pembelajaran yang bisa dipetik hikmahnya, jangan sampai berlalu begitu saja.

Di Indonesia,  bencana akibat Covid-19 mengajari hidup lebih tertib, mulai dari kebiasaan sering mencuci tangan, etika batuk dan bersin di muka umum dan  berdisiplin mematuhi larangan atau seruan pemerintah demi kemaslahatan bersama

Covid-19 juga memberikan pembelajaran berharga kepada pemerintah, pusat dan daerah untuk menyiapkan data kependudukan yang valid, agar pendistribusian bansos tidak amburadul seperti terjadi kini.

Sikap empati dan kedermawanan,  semangat gotong-royong  mengulurkan tangan pada warga yang tertimpa musibah atau kesulitan perlu terus dipupuk, tidak sebatas individu, tetapi masif sampai ke level industri, organisasi massa dan lembaga pendidikan.

Disiplin dan kepatuhan publik terhadap seruan atau larangan pemerintah masih perlu ditingkatkan mengingat di tengah pandemi Covid-19, masih banyak terjadi pengabaian, ketidak patuhan, bahkan pembangkangan.

Dituntut pula komitmen dan keberpihakan para elite dan politisi  pada rakyat, tidak cuma nyinyir, rajin menyacat atau mengolok-olok apa pun yang dilakukan pemerintah, sementara kontribusi mereka minim bahkan tidak ada sama sekali.

Mengutip pernyataan pejabat Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa pandemi Covid-19 tidak akan pernah sirna jika  vaksinnya pun sudah ditemukan,  perjuangan melawan virus maut itu masih panjang.

Kepaduan segenap komponen bangsa dan juga kolaborasi di level global masih harus terus ditingkatkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement